Foto: Shutterstock


Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya yang dinilai paling efektif untuk mengatasi pandemi COVID-19 yang masih terus berlangsung. Vaksinasi dilaksanakan untuk melengkapi upaya pencegahan penyakit COVID-19, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Demi Melindungi Peradaban Manusia
Program vaksinasi COVID-19 telah memasuki tahap kedua, seiring dengan hampir selesainya pemberian vaksinasi tahap pertama kepada para tenaga kesehatan. Sekitar 7,5 juta dosis vaksin siap didistribusikan ke 34 provinsi pada Februari 2021. Vaksinasi tahap kedua akan fokus di provinsi Jawa-Bali yang akan mendapatkan kurang lebih 70% dari proporsi yang ada saat ini. 

Program vaksinasi nasional COVID-19 menjadi langkah besar pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19 di tanah air. Untuk mencapai kekebalan komunal global, vaksin COVID-19 harus diberikan bagi kurang lebih 70 persen populasi dunia. Di Indonesia sendiri, untuk mencapai kekebalan kelompok, pemerintah menargetkan 181,5 juta penduduk Indonesia mendapatkan vaksin COVID-19. 

Dengan jumlah target sebesar itu, pemerintah sangat memahami untuk mencapainya tidak akan bisa tanpa dukungan, partisipasi, dan komitmen seluruh komponen bangsa termasuk masyarakat, pihak swasta maupun organisasi.

Menteri Kesehatan,
Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan program vaksinasi COVID-19 adalah gerakan bersama seluruh komponen bangsa. “Gerakan kolektif ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh komponen bangsa untuk membantu pelaksanaan program vaksinasi nasional agar tujuan dari vaksinasi yakni kekebalan kelompok tercapai. Vaksinasi COVID-19 bukan program individualis tetapi sosial, bukan buat diri sendiri tetapi buat banyak orang,” ujar Budi. 

Sejauh ini, dalam pelaksanaan vaksinasi tahap kedua yang menyasar lansia dan petugas pelayanan publik, Kemenkes sudah menjalin kolaborasi dengan beberapa pihak swasta maupun organisasi. Beberapa inovasi muncul hasil dari kolaborasi ini. Salah satunya metode vaksinasi
drive thru yang sudah ada di Jakarta dan Bali.

Partisipasi masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan program vaksinasi COVID-19, oleh karena itu Budi mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung jalannya program vaksinasi COVID-19. “Vaksin ini adalah alat yang bisa dipakai untuk melindungi diri kita. Tetapi yang lebih penting, vaksin ini juga digunakan untuk melindungi keluarga, tetangga, rakyat Indonesia, dan melindungi peradaban umat manusia di seluruh dunia,” ujar Budi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, sebelum mengikuti vaksinasi pada pertengahan Januari lalu. 

Namun penting untuk diingat, vaksin adalah salah satu langkah pencegahan, bukan pengobatan. Jadi, meski akan menerima vaksin COVID-19, Anda dan keluarga tetap harus menerapkan protokol pencegahan COVID-19 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan hindari keramaian.


Masa pandemi yang penuh ketidakpastian dan membawa banyak perubahan mengajarkan kepada kita tentang pentingnya keluarga. Kembali beraktivitas di rumah, bekerja, belajar membuat rumah kembali menjadi pusat kehidupan. Ketangguhan keluarga menjadi point penting untuk tetap sehat jiwa dan raga di masa pandemi ini. Ciptakan keluarga tangguh di tengah pandemi dengan langkah-langkah ini: 
1. Perhatikan kebutuhan dan dengarkan keluhan setiap anggota keluarga. 
2. Berikan rasa nyaman di tengah keluarga dan bantu jika ada anggota yang kedulitan. 
3. Tanamkan dan kelola harapan untuk hal-hal yang lebih baik. 
4. Lindungi keluaga dari situasi yang membuat stres dan buruk, misalnya dengan menjauhkan hoaks. Faktanya ribuah hoaks beredar cepat di masyarakat terkait COVID-19 dan vaksin COVID-19. Lebih teliti dan cerdas dalam menyerap berita. Ingat, sari dahulu baru sebar kemudian!  


Baca Selanjutnya: Pentingnya Vaksinasi untuk Lansia 
 

Foto: Shutterstock


Pentingnya Vaksinasi untuk Lansia 

Vaksinasi adalah prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri penyebabnya. Namun, infeksi virus COVID-19 memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi, sehingga diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu vaksinasi.

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika Anda mendapat vaksin COVID-19.
Pertama, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19. Vaksin COVID-19 dapat memicu sistem imunitas tubuh untuk melawan virus COVID-19. Dengan begitu, risiko Anda untuk terinfeksi virus ini akan jauh lebih kecil. Kalaupun seseorang yang sudah divaksin tertular COVID-19, vaksin bisa mencegah terjadinya gejala yang berat dan komplikasi. Dengan begitu, jumlah orang yang sakit atau meninggal karena COVID-19 akan menurun.

Kedua, mendorong terbentuknya herd immunity. Hal ini karena kemungkinan orang yang sudah divaksin untuk menularkan virus Corona sangatlah kecil. Artinya, orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin, misalnya bayi baru lahir, lansia, penderita kelainan sistem imun tertentu dan komorbid, bisa mendapatkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

Ketiga, meminimalkan dampak ekonomi dan sosial. Jika sebagian besar masyarakat sudah memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik untuk melawan penyakit COVID-19, kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat akan kembali berjalan.

Salah satu kategori yang masuk di tahap kedua ini adalah lansia, yaitu seseorang yang berusia 60 tahun ke atas. Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan,
dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menjelaskan ada sekitar 21 juta orang yang termasuk kategori lansia yang akan menjadi sasaran program vaksinasi tahap kedua ini. 

“Lansia menjadi kelompok yang didahulukan karena risiko kematian dan kesakitan akibat terinfeksi COVID- 19 pada golongan umur tersebut meningkat 20-30%. Sehingga kelompok lansia, jadi salah satu prioritas bersama dengan petugas pelayanan publik di tahap ini,” terang dr Nadia. 

Lebih lanjut, dr. Nadia menjelaskan bahwa ada prosedur spesifik dan berbeda dalam pelaksanaan vaksinasi kepada lansia. "Untuk penyuntikan menggunakan vaksin Sinovac ini, interval penyuntikan khusus untuk lansia adalah 28 hari, ” jelasnya. 

Lansia yang memiliki penyakit kronik seperti sakit jantung, kelainan darah, penyakit ginjal, diharapkan untuk kontrol ke dokter terlebih dahulu. Pastikan dokter memberikan keterangan layak vaksinasi. “Sedangkan lansia yang memiliki menderita asma, hipertensi, gula darah, sebaiknya diobati terlebih dulu. Ketika sudah terkontrol dengan baik, baru bisa divaksinasi,” jelas dr Nadia. 

Untuk pendaftaran vaksinasi COVID-19 lansia ada dua mekanisme.
Pertama melalui website www.kemenkes.go.id, di bagian pengumuman bisa langsung melakukan pendaftaran. Untuk sasaran lansia, akan ada informasi lebih lanjut dari Dinas Kesehatan maupun Puskesmas setempat mengenai jadwal vaksinasi. Kedua, Kemenkes bekerja sama dengan instansi, organisasi keagamaan, dan organisasi masyarakat menyediakan layanan vaksinasi COVID-19 untuk lansia. 

Selain suhu minimal 37,5 derajat celcius ke bawah dan tekanan darahnya tidak boleh lebih dari 180/110 mmHg, ada tambahan pertanyaan pada tahapan wawancara sebelum dilakukan penyuntikan vaksin COVID-19 kepada lansia. Sebagai wujud aspek kehati-hatian, berikut pertanyaan-pertanyaan tersebut: 
1. 
Apakah mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga?
2. Apakah sering merasa kelelahan?
3. Apakah memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit (Hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal)?
4. Apakah mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100 -200 meter?
5. Apakah mengalami penurunan berat badan yang bermakna dalam setahun terakhir?


“Jika ada tiga atau lebih yang dijawab ‘iya’ oleh calon penerima vaksin lansia, maka vaksin tidak dapat diberikan. Demi lancarnya proses ini, kepada calon penerima vaksinasi diharapkan memberikan keterangan sesuai dengan kondisi sebenarnya. Itu juga agar bisa memberikan efek vaksin yang maksimal dan memperkecil risiko terjadinya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI yang serius,” jelas dr Nadia. (f) 


Baca Juga: 

Sudah Vaksin Boleh Bepergian?
2 Jalur Vaksinasi COVID-19 Untuk Lansia
Penting! Jujur Saat Screening Kondisi Kesehatan Sebelum Menerima Vaksin COVID-19