
Foto: Shutterstock
Berbagai persiapan sudah dilakukan pemerintah untuk melaksanakan program vaksinasi Covid-19. Mulai dari meninjau langsung fasilitas produksi vaksin di Tiongkok, melakukan uji klinik fase III di kota Bandung terhadap 1620 relawan, hingga menyiapkan sistem satu data terintegrasi, guna memastikan kelancaran dan ketepatan sasaran vaksinasi nantinya.
Kementerian Kesehatan juga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) seperti dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, dan vaksinator yang nantinya secara langsung akan melakukan program ini. Selain dari sisi kesiapan pemerintah, masyarakat juga perlu mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan saat vaksin datang.
Sembari menunggu proses kedatangan dan vaksinasi nanti, vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe M.Sc, Sp.PD mengimbau kepada masyarakat agar mengetahui informasi yang benar mengenai vaksin. Informasi dan pemahaman yang benar diharapkan dapat mengurangi keresahan dan keraguan yang timbul dari penyebaran informasi yang tidak benar (hoax) tentang vaksin ini. “Vaksin apa pun yang sudah mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah dipastikan efektivitas dan keamanannya”, terang Dirga.
Masyarakat yang akan mendapatkan vaksinasi nantinya adalah orang yang dalam kondisi sehat. Untuk vaksin Covid-19, diberikan kepada orang dewasa dengan rentang usia 18-59 tahun. Dirga juga menjelaskan bahwa saat pemberian vaksin dokter atau tenaga kesehatan yang menjadi petugas akan melakukan pemeriksaan (screening). “Yang penting pada hari tersebut kita merasa sehat secara umum”, ujarnya.
Masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), karena umumnya berdampak ringan da segera sembuh dalam waktu satu hingga dua hari. “KIPI mayoritas bersifat ringan, seperti bengkak kemerahan di bekas suntikan, kemudian ada demam sebagai tanda vaksinnya bekerja”, ungkap Dirga.
Kemudian, masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) karena biasanya berdampak ringan dan segera sembuh dalam waktu satu dua hari. “Yang perlu masyarakat ketahui, manfaat vaksinasi itu jauh lebih besar dari efek sampingnya. KIPI itu mayoritas bersifat ringan seperti bengkak kemerahan di bekas suntikan, kemudian ada demam sebagai tanda vaksinnya bekerja”, ungkap dr. Dirga.
Keberadaan vaksin sangat penting dalam mengendalikan pandemi, tapi perlu disadari vaksin tidak seketika memusnahkan pandemi. Sebab, ada proses distribusi yang panjang dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa. Oleh karena itu, Dirga terus mengingatkan untuk terus menerapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak serta menghindari kerumunan) selagi menunggu vaksin.
Baca selanjutnya: Rantai distribusi vasksin telah siap


Foto: Shutterstock
Rantai distribusi vasksin telah siap
Masyarakat perlu mengetahui bahwa vaksin merupakan produk biologis yang memiliki kerentanan pada perubahan suhu. Oleh karena itu umumnya vaksin perlu disimpan pada suhu 2-8 derajat celcius, dan suhu ini harus terjaga dari pabrik sampai ke puskesmas.
Proses menjaga suhu vaksin di kondisi ideal dari awal sampai akhir inilah yang disebut cold chain (rantai dingin). Indonesia telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam melaksanakan program vaksinasi. Proses distribusi vaksin di Indonesia bisa dilakukan dari Aceh sampai Papua dan sudah menggunakan sistem cold chain yang baik, hingga ke pelosok negeri.
“Darimanapun asal vaksinnya itu nanti, akan melalui pabrik vaksin kita di PT Bio Farma. Mereka sudah mempunyai armada untuk menerima dan mendistribusikan vaksin. Jadi kita sudah punya depo-depo vaksin. Kemudian, Provinsi sudah memiliki cold room, atau lemari penyimpanan khusus,” jelas pakar imunisasi dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH beberapa waktu lalu di acara Keterangan Pers Juru Bicara Penanganan Covid-19 yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN)
Lemari penyimpan berpendingin khusus yang ada di Provinsi, bisa menyimpan vaksin untuk jangka waktu 3-6 bulan dengan suhu terjaga di angka 2-8 derajat celcius. Kemudian secara bertahap, dilakukan pengiriman ke tingkat Kabupaten/Kota hingga ke rumah sakit dan puskesmas. Saat keluar dari cold room, vaksin harus cepat dimasukkan ke kotak sementara yang dirancang khusus untuk menjaga temperaturnya dalam perjalanan.
Agar terjaga kualitasnya, vaksinasi harus dilakukan dengan teratur. “Idealnya pemberian vaksin itu harus terjadwal, pada tanggal berapa, jam berapa, dan di mana lokasinya,” terang Elisabeth. Begitu juga dengan pengaturan para petugas yang melayani vaksinasi dan yang dilayani. Dengan menyusun jadwal jauh-jauh hari sebelumnya, diharapkan proses pelayanan berlangsung dengan lebih cepat. “Maksimum satu orang hanya memerlukan 10 menit untuk dilayani dari pendaftaran hingga vaksinasi”, tambahnya.
Untuk mematangkan persiapan vaksinasi, Kementerian Kesehatan tengah melatih 23.000 tenaga vaksinator, selain juga didukung ratusan ribu tenaga kesehatan lainnya. Kesiapan tenaga kesehatan di daerah-daerah juga tengah dipastikan untuk mendukung program vaksinasi nantinya.
