
Foto: Freepik
Dalam kondisi saat ini, dimana penggunaan masker kain telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, maka pemilihan masker menjadi sangat penting. Masker tidak hanya harus tahan lama dan nyaman, tetapi juga memberikan filtrasi efektif dari partikel berbahaya COVID-19 agar kita dan orang lain tetap aman.
Namun sayangnya, tidak semua masker kain yang dijual bahkan di apotek atau toko kelas atas dapat memberikan perlindungan maksimal. Tidak sedikit masker kain yang beredar memberikan rasa aman palsu, karena sesungguhnya masker tersebut tidak dapat menangkan virus. Setidaknya hal ini yang terungkap dalam artikel yang tayang di TheGuardian.com berjudul The face mask test: which are the best at limiting the spread of Covid? Yang merupakan hasil dari penelitian sebuah majalah konsumen di Inggris.
Tiga dari masker yang diuji oleh peneliti majalah konsumen tersebut gagal menangkap 93% partikel bakteri. Artinya, partikel-partikel ini dapat dihirup atau dihembuskan oleh pengguna masker. Namun, ditemukan juga masker kain berkinerja sama baiknya dengan masker bedah dalam menghalangi partikel bakteri, hingga mampu mencegah lebih dari 99% partikel menembus kain.
Meskipun masker kain yang dapat digunakan kembali sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk memblokir partikel ultra halus seperti virus. Masker kain umumnya dirancang untuk mencegah droplet dari batuk dan aerosol dari pemakainya kelar dan mengenai benda-benda lain, sehingga dapat meminimalkan penularan partikel virus yang dikandungnya. Jadi kemungkinannya adalah jika masker kain bisa ditembus bakteri, artinya amsker tersebut juga tidak bisa menangkal virus.
Menurut Cath Noakes, seorang profesor dan ahli penularan penyakit melalui udara dari Universitas Leeds. “Meskipun jauh lebih kecil dari bakteri, virus akan terkandung dalam aerosol dan tetesan pernapasan, yang lebih besar. Jadi kemungkinannya adalah jika masker dapat ditembus oleh bakteri, maka mereka juga akan membiarkan virus masuk” jelasnya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan majalah konsumen tersebut, status Best Buy diberikan kepada dua produk masker dengan merek NEQI dan masker dari desainer Inggris Bags of Ethics. Meskipun masker ini tidak menerima skor filtrasi tertinggi, namun keduanya dianggap memiliki kelebihan nyaman untuk bernapas. Menyingkirkan masker yang memiliki skor lima dari lima untuk filtrasi, namun memiliki skor kemampuan bernapas rendah.
Kemampuan bernapas sangat penting bagi orang yang memakai kacamata karena kondensasi dari napas yang terperangkap dapat menyebabkan lensa menguap, sehingga mendorong orang untuk menurunkan atau melepas topeng mereka. Hal ini menjadi lebih berisiko.
Sedangkan masker dengan kinerja terburuk adalah masker yang dibuat dari satu lapisan kain, kebanyakan poliester. Meskipun ringan dan breathable, masker ini tidak begitu bagus dalam menyaring partikel.
Baca Selanjutnya: Masker Berlapis Lebih Efektif


Foto: Freepik
Masker Berlapis Lebih Efektif
Masker berbahan kain apa yang paling efektif dalam menjebak partikel ultrafine yang mungkin mengandung virus seperti SARS-CoV-2 penyebab COVID-19? Dalam studi terpisah yang diterbitkan di jurnal BMJ Open, para peneliti dari Universitas Cambridge dan Universitas Northwestern, telah menguji berbagai bahan mulai dari kaos dan kaus kaki hingga jeans dan tas vakum untuk menentukan jenis bahan terbaik untuk masker.
Para peneliti tersebut menguji keefektifan kain yang berbeda dalam menyaring partikel antara 0,02 dan 0,1 mikrometer (seukuran sebagian besar virus) dengan kecepatan tinggi, sebanding dengan batuk atau napas berat. Mereka juga menguji N95 dan masker bedah, yang lebih umum digunakan oleh tenaga medis.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar kain yang biasa digunakan untuk masker non-klinis efektif menyaring partikel ultra halus. Masker N95 sangat efektif, meskipun kantong vakum HEPA yang dapat digunakan kembali sebenarnya melebihi kinerja N95 dalam beberapa hal.
Sedangkan untuk masker buatan sendiri, masker yang terbuat dari beberapa lapis kain lebih efektif. Eugenia O’Kelly dan rekannya dari University of Cambridge, dalam rilis yang diangkat LiveMint.com menemukan bahwa masker yang terbuat dari beberapa lapis kain lebih efektif menjebak 45% partikel, dibandingkan dengan masker kain lapis tunggal yang hanya mampu menangkal 35% partikel.
Menambahkan lapisan di bagian tengah masker kain dengan bahan kain bukan tenun atau bahan yang biasa dipakai untuk menguatkan kerah, dapat meningkatkan efektivitas penyaringan partikel hingga 11% lebih baik. Meskipun hal ini memengaruhi kemampuan bernapas.
Para peneliti juga mempelajari kinerja kain yang berbeda saat lembab dan setelah masker melalui siklus pencucian dan pengeringan normal. Mereka menemukan bahwa kain bekerja dengan baik saat lembab dan bekerja cukup baik setelah satu siklus pencucian. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pencucian berulang dapat menurunkan kualitas kain. Karena itu, para peneliti mengingatkan bahwa masker kain tetap ada batas waktu penggunaan, tidak boleh digunakan kembali dalam waktu yang tidak terbatas.
Untuk penelitian ini, O'Kelly dan rekan-rekannya membangun peralatan yang terdiri dari beberapa bagian pipa, dengan sampel kain di tengahnya. Partikel aerosol dihasilkan di salah satu ujung alat, dan kadarnya diukur sebelum dan sesudah melewati sampel kain dengan kecepatan yang mirip dengan batuk.
Para peneliti juga menguji seberapa baik kinerja setiap kain dalam hal ketahanan pernapasan, berdasarkan umpan balik kualitatif dari pengguna. "Masker yang memblokir partikel dengan sangat baik tetapi membatasi pernapasan Anda bukanlah masker yang efektif," kata O'Kelly.
"Denim, misalnya, cukup efektif dalam memblokir partikel, tetapi sulit untuk bernapas, jadi mungkin bukan ide yang baik untuk membuat masker dari celana jeans lama. Masker N95 jauh lebih mudah untuk dihirup daripada kain apapun dengan tingkat filtrasi yang serupa,” tambahnya.
Dalam persiapan penelitian, para peneliti berkonsultasi dengan komunitas menjahit online untuk mengetahui jenis kain apa yang mereka gunakan untuk membuat masker. Beberapa melaporkan bahwa mereka bereksperimen dengan memasukkan kantong vakum dengan filter HEPA ke dalam masker.
Para peneliti menemukan bahwa kantong vakum sekali pakai dan dapat digunakan kembali efektif dalam memblokir partikel, tetapi berhati-hatilah bahwa kantong sekali pakai tidak boleh digunakan sebagai masker wajah, karena akan terlepas saat dipotong, dan mungkin mengandung bahan komponen yang tidak aman untuk dihirup.
"Ini masalah menemukan keseimbangan yang tepat - kami ingin bahannya efektif dalam menyaring partikel, tetapi kami juga perlu mengetahui bahwa bahan tersebut tidak membuat pengguna berisiko menghirup serat yang dapat berbahaya," kata O ' Kelly. (f)

Baca Juga:
Cuci Masker Kain dengan benar!
Masih Ngeyel Nggak Mau Pakai Masker, Kenapa Ya?
Pilihan Masker Terbaik untuk COVID-19