
Foto: Unsplash
Menanggapi lonjakan kekerasan berbasis gender secara global sebagai dampak dari isolasi selama pandemi COVID-19, media sosial Twitter luncurkan notifikasi khusus untuk kekerasan berbasis gender di tujuh negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Saat pengguna mengetik atau melakukan pencarian terkait kekerasan berbasis gender, akan muncul notifikasi dalam bahasa Indonesia yang akan mengarahkan mereka ke hotline dan laman informasi yang disediakan oleh lembaga dimana mereka dapat mencari bantuan, sekaligus mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
Twitter merupakan perusahaan teknologi pertama yang meluncurkan notifikasi khusus terkait kekerasan berbasis gender.
“Kami bangga dapat meluncurkan fitur unik ini untuk membantu mengatasi kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kami berterima kasih atas kolaborasi dan dukungan yang telah diberikan oleh para mitra kami di Indonesia. Semoga inisiatif ini dapat membantu menjangkau audiens dari mitra kami yang membutuhkan bantuan di masa pandemi COVID-19 dan seterusnya,” ujar Agung Yudha, Twitter Public Policy Director, Indonesia & Malaysia.
Melalui kemitraan erat dengan UN Women Asia Pasifik yang berperan sebagai penasehat, LSM terkemuka, serta lembaga negara; layanan ini sudah tersedia di tujuh negara. Negara tersebut antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam. Layanan ini rencananya akan diperluas ke negara-negara lain dalam beberapa bulan mendatang.
Kolaborasi berbagai pihak terkait, seperti publik, swasta, maupun LSM merupakan kunci untuk memerangi masalah kompleks berbasis kekerasan gender. Layanan notifikasi #ThereIsHelp dalam kemitraan ini akan memastikan masyarakat dapat mengakses dan mendapat bantuan ketika mereka membutuhkannya.
Di Indonesia, Twitter bekerjasama dengan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (LBH APIK) Jakarta dan Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.
“Sebagai Lembaga Bantuan Hukum yang fokus pada pendampingan dan bantuan hukum bagi wanita yang mengalami ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk diskriminasi; LBH APIK mengapresiasi kontribusi perusahaan teknologi dalam menanggulangi kekerasan dan ketidakadilan khususnya bagi perempuan di Indonesia. Upaya penanggulangan kekerasan terhadap perempuan dan advokasi kesetaraan hukum merupakan peran berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tataran individu, sosial, hingga pembuat kebijakan dan penegak hukum,” ujar Siti Mazuma, Direktur LBH APIK Jakarta.
Siti berharap kolaborasi tersebut dapat membantu LBH APIK menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan bantuan atau pendampingan.
Lanjut ke halaman berikutnya.
BACA JUGA:
Sambut Hari Keluarga Nasional, Facebook Luncurkan Grup Pengasuhan Anak
Pandemi COVID-19 Menyebabkan Jumlah Langkah Kaki Menurun dan Aktivitas Berbasis Olahraga Meningkat
Meningkatnya Tren Pesanan Makanan dan Belanja Online di Masa PSBB, Penyumbang Terbesar Sampah Rumah Tangga

Foto: Pexels
'Pandemi Bayangan' Meningkat Selama Krisis COVID-19
UN Women melaporkan data yang sungguh memprihatinkan. Sebanyak 243 juta wanita berusia 15 hingga 49 tahun secara global telah mengalami kekerasan seksual atau fisik yang dilakukan oleh pasangannya dalam 12 bulan terakhir. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa sejak wabah COVID-19 merebak, kekerasan terhadap wanita, khususnya kekerasan berbasis gender, telah meningkat di seluruh dunia.
“Kekerasan pada wanita dan anak perempuan di Asia Pasifik meluas dan kenyataannya hal tersebut banyak yang tidak dilaporkan. Secara global, satu dari tiga wanita mengalami kekerasan setidaknya sekali seumur hidup. Faktanya, angka itu lebih besar di banyak negara di wilayah kami, yaitu dua dari tiga wanita yang melaporkan adanya kekerasan.” kata Melissa Alvarado, UN Women Asia Pacific Regional Manager on Ending Violence against Women.
Melissa mengungkapkan kurang dari 4 dari 10 wanita korban kekerasan yang berani laporkan atau mencari bantuan. Dengan adanya perpanjangan periode lockdown serta perintah untuk tetap di rumah di beberapa wilayah di dunia, maka makin banyak wanita korban kekerasan yang merasa terisolasi dari sumber yang bisa membantu mereka.
“Kami mendengar bahwa untuk tetap membuka layanan bantuan menjadi hal yang sulit di beberapa negara. Kami senang bekerja sama dengan Twitter untuk membantu menghubungkan wanita dengan layanan bantuan yang tersedia di negara mereka jika mereka mengalami kekerasan atau pelecehan,” ujarnya.
Data nasional dari India menunjukkan, bahwa kekerasan berbasis gender telah meningkat lebih dari dua kali lipat di setidaknya empat negara bagian Utara. Sementara kasus-kasus yang dilaporkan dari LSM di Indonesia mencapai tiga kali lipat. Hotline untuk wanita dan anak-anak di Malaysia juga melaporkan peningkatan sebesar 57% dalam pengaduan. Tren yang sama juga ditemukan di Singapura dan Korea Selatan.(f)
BACA JUGA:
Sambut Hari Keluarga Nasional, Facebook Luncurkan Grup Pengasuhan Anak
Pandemi COVID-19 Menyebabkan Jumlah Langkah Kaki Menurun dan Aktivitas Berbasis Olahraga Meningkat
Meningkatnya Tren Pesanan Makanan dan Belanja Online di Masa PSBB, Penyumbang Terbesar Sampah Rumah Tangga