
Foto: Pixabay
Munculnya temuan varian baru virus corona di Inggris membuat sejumlah negara menutup sementara akses transportasi dari dan menuju Inggris. Terlebih Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyatakan varian baru virus corona, yang diberi nama VUI-202012/01 itu 70 persen lebih menular dibandingkan dengan virus aslinya.
Seperti dikutip dari kompas.com, hingga 13 Desember 2020, sebanyak 1.108 kasus positif COVID-19 muncul dari varian baru virus corona tersebut. Sebagian besar disebutkan berasal dari wilayah Inggris selatan dan timur.
Selain Inggris, varian baru virus corona tersebut juga sudah teridentifikasi di beberapa negara lainnya, seperti Denmark, Belanda, Australia, Italia hingga Afrika Selatan. Bahkan pada Rabu malam (23/12/2020), negara tetangga kita Singapura, telah mengonfimasi mengonfirmasi kasus pertama COVID-19 dari mutasi votus seperti yang ditemukan di Inggris.
Dikutip dari Channel News Asia, varian baru virus Corona datang dari seorang pelajar berusia 17 tahun. Dia telah belajar di Inggris sejak Agustus lalu. Remaja ini kembali ke Singapura pada 6 Desember dan menyampaikan pemberitahuan tinggal di rumah di fasilitas khusus saat kedatangan dan dipastikan terinfeksi COVID-19.
Setidaknya ada sejumlah orang yang melakukan kontak erat dengan siswa tersebut dan telah ditempat di karantina. Depkes Singapura menjelaskan bahwa semua kontak dekatnya telah dinyatakan negatif untuk infeksi COVID-19 pada akhir masa karantina mereka.
"Untuk mengurangi risiko penyebaran ke Singapura, kami memberlakukan pembatasan perbatasan baru bagi para pelancong dari Inggris untuk tindakan pencegahan lebih lanjut," ungkap Kementerian Kesehatan Singapura. Hingga minggu ini, Singapura telah melaporkan total kasus COVID-19 sebanyak 58.482.
Dikutip dari kompas.com, Epidemiolog Indonesia di Griffith University Dicky Budiman mengatakan, mutasi dari virus merupakan suatu hal yang normal dan lumrah terjadi. Hanya saja, menurutnya mutasi virus tersebut tidak seharusnya berjalan dengan secepat ini.
"Umumnya itu 2-3 kali mutasi dalam satu bulan, nah yang terjadi di Inggris ini 17 kali kecepatan mutasinya," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/12/2020). Mutasi yang cepat tersebut, imbuhnya membuat virus semakin efisien efektif dalam menginfeksi.
Jadi, bukan suatu hal yang mengagetkan apabila varian baru tersebut disebutkan 70 persen lebih mudah menular dari virus aslinya. "Kalau digambarkan jika virus itu masuk Indonesia, akan membuat 3 kali lipat penambahan dari sisi kasus hariannya yang ada sekarang ini," kata Dicky sambil mengingatkan munculnya varian atau strain baru virus corona tersebut juga akan meningkatkan potensi kematian.
Dicky pun mewanti-wanti kepada negara-negara yang pandeminya belum terkendali, termasuk di Indonesia, potensi mutasi virus itu akan tinggi. "Semakin banyak infeksi, semakin banyak virus, semakin besar peluang terjadinya mutasi," katanya lagi.
Menanggapi perkembangan varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris ini, WHO seperti dilansir dari melansir AFP, Minggu (20/12/2020) telah mendesak anggotanya di Eropa untuk meningkatkan tindakan melawan varian baru dan dapat saling berbagi data mengenai perkembangan virus tersebut.
Baca Selanjutnya: Sambut Natal dan Tahun Baru, Masyarakat Diminta Membatasi Mobilitas


Foto: Pixabay
Sambut Natal dan Tahun Baru, Masyarakat Diminta Membatasi Mobilitas
Berkaitan dengan muculnya varian baru virus corona yang bermutasi, karena sifat virus yang menyebar melalui manusia, maka upaya antisipasi sedini mungkin patut dilakukan.
Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan selama masa libur panjang Hari Raya Natal dan tahun baru. "Sebaiknya kita duduk, karena mobilitas penduduk itu akan meningkatkan virus itu untuk menular," kata Prof Wiku di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (24/12/2020).
Prof Wiku menambahkan mutasi virus corona ini berpotensi masuk ke Indonesia baik melalui penularan dari luar maupun dalam negeri. Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat tidak melakukan mobilitas ataupun melakukan perjalanan di masa libur panjang.
"Karena kalau kita melakukan perjalanan mobilitas itu memberi kesempatan pada virus itu untuk menular," ujarnya. "Apalagi kalau virus varian baru ini maka potensi menularnya menjadi lebih tinggi," tambahnya.
Pada saat yang sama, sejumlah hal lain juga patut dipersiapkan untuk mencegah virus corona varian baru menular kepada masyarakat Indonesia. Hal ini harus dilakukan karena kita juga masih terus berjuang menangani pandemi yang masih melanda.
"Langkah surveilans akan terus diperkuat oleh pemerintah dengan terus memonitor perkembangan virus yang sangat dinamis ini," kata Prof Wiku.
Selama masa libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021, Satgas Penanganan COVID-19 memperketat mobilitas pelaku perjalanan. Pengawasan persyaratan perjalanan akan dilakukan di masing-masing daerah termasuk bagi yang menggunakan transportasi darat. Satgas COVID-19 juga akan membentuk pos pengamanan terpadu seperti terminal atau rest area.
"Satgas daerah akan melakukan sidak (inspeksi mendadak) di titik-titik tertentu, pemerintah tetap menganjurkan masyarakat melakukan tes sebagai bentuk tanggung jawab pelaku perjalanan," jelas Prof. Wiku.
Terlepas adanya perkembangan varian COVID-19 terbaru, pemerintah tetap meminta masyarakat disiplin mematuhi protokol kesehatan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Protokol kesehatan harus diterapkan dalam setiap aktivitas dan penting dalam mencegah penularan.
"Sehingga kita dapat melindungi diri sendiri dan orang terdekat dari COVID-19. Selain itu pemerintah daerah penting memasifkan 3T, sehingga deteksi dini dapat dilakukan kepada masyarakat dan konta eratnya yang positif Covid-19. Sehingga bisa mendapatkan perawatan," saran Prof Wiku.
Baca Selanjutnya: Aturan Baru untuk Kedatangan WNI dan WNA dari Luar Negeri


Foto: Pixabay
Aturan Baru untuk Kedatangan WNI dan WNA dari Luar Negeri
Mengingat beberapa negara tetangga Indonesia Juag telah menyatakan temuan terhadap virus ini, Prof Wiku menyatakan bahwa Satgas Pengamanan Covid-19 mengantisipasi hal tersebut dengan menyempurnakan regulasi pelaku perjalanan dengan melakukan adendum Surat Edaran No. 3 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang Selama Libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
"Khususnya memperketat kedatangan pelaku perjalanan dari Inggris, Eropa dan Australia. Karena ditemukannya varian baru, maka berpotensi terdistribusi ke negara lain," tegasnya saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan COVID-19 di Gedung BNPB, Kamis (24/12/2020) yang juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Surat edaran tersebut, dijelaskan Prof Wiku, mengatur beberapa tahapan bagi warga negara asing (WNA) maupun Warga Negara Indonesia (WNI) dari negara asing. Khusus WNA dari Inggris, baik secara langsung maupun transit di negara asing, tidak dapat memasuki wilayah Indonesia untuk sementara waktu.
Dan bagi WNA dari wilayah Eropa dan Australia, baik secara langsung dan transit harus menunjukkan hasil tes negatif RT-PCR yang dikeluarkan fasilitas kesehatan di negara asal yang berlaku maksimal 2x24 jam sebelum tanggal jam keberangkatan.
Sedangkan bagi WNI yang datang dari negara Eropa dan Australia baik secara langsung maupun transit di negara asing, juga harus menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR yang berlaku maksimal 2x24 jam sebelum jam keberangkatan. Sementara untuk ketentuan kedatangan WNA dari negara lain, juga sudah diatur dalam Surat Edaran No. 3 Tahun 2020.
Untuk tahapan selanjutnya, bagi WNA atau WNI yang lolos pemeriksaan awal, harus melakukan tes ulang RT-PCR pertama. "Jika hasilnya positif, maka harus menjalani perawatan lanjutan. Dan jika hasilnya negatif, maka pendatang harus melakukan tahapan lanjutan yaitu isolasi selama 5 hari (sejak tanggal kedatangan)," jelasnya.
Bagi WNA atau WNI negatif COVID-19 dan telah menjalani isolasi selama 5 hari, maka akan dilakukan tes ulang RT-PCR tahap 2. Pertimbangan tes ulang ini, adalah median waktu inkubasi virus COVID-19 yaitu selama 5 hari. Apabila hasil tes kedua itu negatif, maka pelaku perjalanan akan diperbolehkan memasuki Indonesia.
Namun, apabila hasil tes kedua positif COVID-19, maka harus melakukan perawatan lanjutan. Untuk biaya perawatan ini, Prof Wiku menyebut bagi WNI ditanggung pemerintah Indonesia. Sedangkan WNA akan bersifat mandiri atau berbayar.
"Pada prinsipnya, peraturan ini dibentuk untuk membatasi mobilitas, yang dapat meningkatkan peluang penularan sekaligus tanggap terhadap fenomena mutasi virus di beberapa negara di dunia," terang Prof Wiku.
Disamping itu, pemerintah Indonesia juga berkomitmen melakukan surveilans perubahan genetika varian baru virus Sars-Cov2 serta sebarannya secara nasional dan global. Pemerintah pun berusaha kerasa untuk mencegah masuknya varian baru virus tersebut untuk melindungi keselamatan dan kesehatan warga negara Indonesia dari kemunculan imported case. (f)

Baca Juga:
Pertimbangkan Risikonya, Sebelum Memutuskan untuk Melakukan Perayaan dan Berlibur di Akhir Tahun
Vaksin COVID-19 Gratis Percepat Herd Immunity
Kenali Risiko Mobilitas Agar Terhindar Covid-19