
Foto : Shutterstock/ Petty Galuh
Tidak mudah membuat generalisasi sikap atau karakter suatu masyarakat. Namun, pada tahun 1977, dalam Pidato Kebudayaan yang menyulut polemik, sastrawan dan wartawan Mochtar Lubis menggambarkan setidaknya ada 6 ciri manusia Indonesia, yaitu munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik, dan boros. Banyak yang marah, tapi tak sedikit yang manggut-manggut setuju.
Era berganti. Tahun 2015, giliran youtuber asal Kanada, Sacha Stevenson, membuat video berjudul How to Act Indonesian. Dengan gaya parodi, Sacha menangkap kebiasaan sehari-hari orang kita dari yang serius hingga yang terkesan remeh. Mulai dari betapa powerful kata ‘sombong’ digunakan untuk melemahkan ‘iman’ orang lain, hingga kesenangan kaum hawa yang keluar rumah mengenakan setelan baju tidur! Segar, tapi juga mencubit.
Kini, dengan makin hiruk-pikuknya media sosial, termasuk di tahun-tahun perhelatan politik, apa yang paling khas dari orang Indonesia?
Era berganti. Tahun 2015, giliran youtuber asal Kanada, Sacha Stevenson, membuat video berjudul How to Act Indonesian. Dengan gaya parodi, Sacha menangkap kebiasaan sehari-hari orang kita dari yang serius hingga yang terkesan remeh. Mulai dari betapa powerful kata ‘sombong’ digunakan untuk melemahkan ‘iman’ orang lain, hingga kesenangan kaum hawa yang keluar rumah mengenakan setelan baju tidur! Segar, tapi juga mencubit.
Kini, dengan makin hiruk-pikuknya media sosial, termasuk di tahun-tahun perhelatan politik, apa yang paling khas dari orang Indonesia?
Netizen Mahatahu
Biasanya, seseorang diakui kepakarannya itu pada bidang terbatas. Namun, bila mengamati saat ini, seseorang bisa menjadi pakar dalam segala hal. Segala hal dikomentari panjang lebar, lengkap dengan saran dan tidak lepas kritik maha pedas.
Saat Piala Dunia Rusia, lalu semua orang menjelma menjadi komentator bola. Mereka marah dan menghina Messi, Neymar, ketika tim papan atas ini gagal melaju dan harus pulang kampung.
Saat musim pilkada, juga menjelang pilpres ini, semua orang menjadi pengamat politik. Bila selama ini pengamat politik menggunakan data, hasil survei, dan bermacam teori, nah, pengamat partikelir ini tak perlu menggunakan data apa pun. Bisa saja cukup menggunakan satu artikel dari situs abal-abal untuk membedah dan menganalisis persoalan politik yang ada.
Yang penting, ngomong dan ikut campur! Sungguh ‘netizen mahatahu’. Kehidupan para artis paling rentan terkena ‘pisau tajam’ netizen. Dari persoalan busana hingga hubungan cinta, seolah menjadi tanggung jawab bersama. Tengok saja, bagaimana netizen rame-rame 'menasehati' Pevita Pearce untuk tidak berpacaran dengan Ariel Noah, ketika dua selebritas ini dikabarkan tengah dekat. Ouch!
Menurut Bambang Setiawan, antropolog dan peneliti utama Litbang Kompas, mengapa semua orang tiba-tiba pintar ngomong? Itu karena masyarakat kita saat ini bisa belajar dari mana saja, terutama dari media online. Mereka copy paste saja dari yang ada di media.
“Dulu mereka jarang sekali menyerap, membaca. Soal politik misalnya, dulu paling mendengar politik setahun sekali atau malah lima tahun sekali, sekarang tiap hari. Bahkan, saat pilkada belum dibuat serentak, hampir tiap saat ada pemilihan kepala daerah. Hal ini menyemai bahasa politik kepada masyarakat secara terus-menerus.”
Terlepas dengan apa pun akan dikomentari, orang saat ini tidak hanya melihat satu hal dari satu sisi saja. “Orang saat ini punya kemampuan mengkritisi satu hal dari sisi yang sebaliknya, termasuk pada kejadian tragis seperti bom di Surabaya beberapa waktu lalu. Ada saja memang yang memandang dari sudut sebaliknya,” kata Bambang.
Derasnya informasi mengenai kasus tersebut, termasuk informasi dengan logika yang dibuat sebaliknya, membuat masyarakat memang bisa tinggal pilih mana yang mereka percaya. “Apakah mereka percaya pada informasi polisi atau percaya pada pihak yang sebaliknya,” Bambang menjelaskan.
Saat Piala Dunia Rusia, lalu semua orang menjelma menjadi komentator bola. Mereka marah dan menghina Messi, Neymar, ketika tim papan atas ini gagal melaju dan harus pulang kampung.
Saat musim pilkada, juga menjelang pilpres ini, semua orang menjadi pengamat politik. Bila selama ini pengamat politik menggunakan data, hasil survei, dan bermacam teori, nah, pengamat partikelir ini tak perlu menggunakan data apa pun. Bisa saja cukup menggunakan satu artikel dari situs abal-abal untuk membedah dan menganalisis persoalan politik yang ada.
Yang penting, ngomong dan ikut campur! Sungguh ‘netizen mahatahu’. Kehidupan para artis paling rentan terkena ‘pisau tajam’ netizen. Dari persoalan busana hingga hubungan cinta, seolah menjadi tanggung jawab bersama. Tengok saja, bagaimana netizen rame-rame 'menasehati' Pevita Pearce untuk tidak berpacaran dengan Ariel Noah, ketika dua selebritas ini dikabarkan tengah dekat. Ouch!
Menurut Bambang Setiawan, antropolog dan peneliti utama Litbang Kompas, mengapa semua orang tiba-tiba pintar ngomong? Itu karena masyarakat kita saat ini bisa belajar dari mana saja, terutama dari media online. Mereka copy paste saja dari yang ada di media.
“Dulu mereka jarang sekali menyerap, membaca. Soal politik misalnya, dulu paling mendengar politik setahun sekali atau malah lima tahun sekali, sekarang tiap hari. Bahkan, saat pilkada belum dibuat serentak, hampir tiap saat ada pemilihan kepala daerah. Hal ini menyemai bahasa politik kepada masyarakat secara terus-menerus.”
Terlepas dengan apa pun akan dikomentari, orang saat ini tidak hanya melihat satu hal dari satu sisi saja. “Orang saat ini punya kemampuan mengkritisi satu hal dari sisi yang sebaliknya, termasuk pada kejadian tragis seperti bom di Surabaya beberapa waktu lalu. Ada saja memang yang memandang dari sudut sebaliknya,” kata Bambang.
Derasnya informasi mengenai kasus tersebut, termasuk informasi dengan logika yang dibuat sebaliknya, membuat masyarakat memang bisa tinggal pilih mana yang mereka percaya. “Apakah mereka percaya pada informasi polisi atau percaya pada pihak yang sebaliknya,” Bambang menjelaskan.
Cebong atau Kampret?
Ya, saat ini lupakan sejenak bonek, jakmania, arema, viking atau fans fanatik klub sepak bola. Bukan berarti mereka tidak eksis, karena, toh, para suporter hardcore ini masih berjaya di pinggir lapangan hijau, juga di jalan-jalan ketika timnya sedang bertanding. Tapi, belakangan ada dua kelompok lain yang begitu ini sulit untuk disatukan.
Dari ranah politik, ada kelompok cebong, yang ditujukan untuk pendukung Jokowi, dan kampret, yang biasanya merujuk pada pendukung Prabowo Subianto. Keduanya saling berhadapan, saling tuding, saling merendahkan.
Memang tidak semua orang secara definitive menjadi cebong atau kampret, tetapi secara garis besar, inilah dua kelompok besarnya. Makanya. tak aneh bila kita ketik kata cebong di mesin pencarian, yang muncul di halaman pertama Google bukan makhluk hitam imut yang berenang-renang di kolam. Padahal, cebong alias berudu adalah anak kodok. Demikian pula ketika kita ketik kampret, hanya satu dua tautan yang benar-benar berisi sungguhan tentang anak kelelawar.
Cebong atau cebongers adalah julukan yang awalnya bernada olok-olok setelah Joko Widodo diketahui memelihara kodok. Sementara kampret, tidak ada yang tahu pasti asal muasalnya. Tapi, ada yang mengatakan, Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo Subianto di pilpres 2014. KMP diplesetkan jadi kampret!
Pertarungan dua kubu yang fanatik juga terjadi di panggung musik dangdut ketika belakangan muncul dua biduanita dari panggung rakyat, dan berhasil memenangkan hati para netizen: Nella Karisma dan Via Vallen. Kecantikan memang relatif, tapi yang jelas wajah keduanya sedap dipandang, dan tidak melulu mengandalkan goyangan.
Nella terkenal lewat lagu Jaran Goyang (ketika artikel ini ditulis sudah ditonton 179.310.542 kali di YouTube) dan Via terkenal dengan lagu Sayang (ditonton 3.337.713 kali). Meski keduanya sama-sama berasal dari Jawa Timur, penggemarnya ternyata tidak sama bahkan berkubu. Baik Vyanisty (penggemar Via Vallen) maupun Nella Lovers (fans Nella Karisma) sama-sama ngotot bahwa pujaannyalah yang paling baik.
Padahal, dua-duanya, toh, menggunakan genre dangdut koplo. Yang juga sengit adalah rombongan penggemar Anggun melawan fans Agnezmo. Setiap saat timeline diramaikan kehebohan mereka.
Menurut Bambang, dari kacamata antropologi, saat ini Indonesia sedang di fase luminal atau tahap inisiasi atau sedang berada di titik tengah dari satu tahap ke tahap yang lain. “Periode inisiasi itu adalah tahap yang paling rawan,” katanya, mengutip pendapat antropolog Victor Turner.
Salah satu karakter dari tahap luminal adalah ketika kita ‘terpaksa’ atau ‘dipaksa’ menerima masukan dari segala hal, entah itu hal yang baik maupun yang buruk. “Saat ini Indonesia diinisiasi oleh berbagai macam hal, mulai dari ideologi, pengaruh, maupun teknologi, yang dengan gampang masuk. Hal inilah yang kemudian membuat ketegangan demi ketegangan muncul di masyarakat. Di saat seperti ini memang dibutuhkan orang yang mengerti dan bisa mengarahkan mereka melewati tahapan yang kritis ini untuk melangkah ke tahap selanjutnya,”
jelas Bambang.
Dari ranah politik, ada kelompok cebong, yang ditujukan untuk pendukung Jokowi, dan kampret, yang biasanya merujuk pada pendukung Prabowo Subianto. Keduanya saling berhadapan, saling tuding, saling merendahkan.
Memang tidak semua orang secara definitive menjadi cebong atau kampret, tetapi secara garis besar, inilah dua kelompok besarnya. Makanya. tak aneh bila kita ketik kata cebong di mesin pencarian, yang muncul di halaman pertama Google bukan makhluk hitam imut yang berenang-renang di kolam. Padahal, cebong alias berudu adalah anak kodok. Demikian pula ketika kita ketik kampret, hanya satu dua tautan yang benar-benar berisi sungguhan tentang anak kelelawar.
Cebong atau cebongers adalah julukan yang awalnya bernada olok-olok setelah Joko Widodo diketahui memelihara kodok. Sementara kampret, tidak ada yang tahu pasti asal muasalnya. Tapi, ada yang mengatakan, Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo Subianto di pilpres 2014. KMP diplesetkan jadi kampret!
Pertarungan dua kubu yang fanatik juga terjadi di panggung musik dangdut ketika belakangan muncul dua biduanita dari panggung rakyat, dan berhasil memenangkan hati para netizen: Nella Karisma dan Via Vallen. Kecantikan memang relatif, tapi yang jelas wajah keduanya sedap dipandang, dan tidak melulu mengandalkan goyangan.
Nella terkenal lewat lagu Jaran Goyang (ketika artikel ini ditulis sudah ditonton 179.310.542 kali di YouTube) dan Via terkenal dengan lagu Sayang (ditonton 3.337.713 kali). Meski keduanya sama-sama berasal dari Jawa Timur, penggemarnya ternyata tidak sama bahkan berkubu. Baik Vyanisty (penggemar Via Vallen) maupun Nella Lovers (fans Nella Karisma) sama-sama ngotot bahwa pujaannyalah yang paling baik.
Padahal, dua-duanya, toh, menggunakan genre dangdut koplo. Yang juga sengit adalah rombongan penggemar Anggun melawan fans Agnezmo. Setiap saat timeline diramaikan kehebohan mereka.
Menurut Bambang, dari kacamata antropologi, saat ini Indonesia sedang di fase luminal atau tahap inisiasi atau sedang berada di titik tengah dari satu tahap ke tahap yang lain. “Periode inisiasi itu adalah tahap yang paling rawan,” katanya, mengutip pendapat antropolog Victor Turner.
Salah satu karakter dari tahap luminal adalah ketika kita ‘terpaksa’ atau ‘dipaksa’ menerima masukan dari segala hal, entah itu hal yang baik maupun yang buruk. “Saat ini Indonesia diinisiasi oleh berbagai macam hal, mulai dari ideologi, pengaruh, maupun teknologi, yang dengan gampang masuk. Hal inilah yang kemudian membuat ketegangan demi ketegangan muncul di masyarakat. Di saat seperti ini memang dibutuhkan orang yang mengerti dan bisa mengarahkan mereka melewati tahapan yang kritis ini untuk melangkah ke tahap selanjutnya,”
jelas Bambang.
Tren Berganti Identitas
Secara konvensional, kita mengenal istilah personal branding, yaitu kita perlu memiliki karaker atau statement tertentu yang membuat orang lain segera bisa mengenali kita dengan mudah. Statement ini bisa lewat gaya berbusana, misalnya. Tapi, hal ini akan sangat terlihat jadul ketika kita bicara tentang ponsel, termasuk nomor operator telepon seluler. Orang kita paling gampang berganti ponsel, juga berganti nomor ponsel apalagi sebelum ada aturan registrasi nomor ponsel diterapkan.
Mungkin kita tidak bisa paham, mengapa seseorang merasa harus segera berganti handphone gara-gara ada seri terbaru diluncurkan. Padahal, menilik fungsinya, handphone yang dimiliki masih berfungsi baik, dan belum terlalu ketinggalan zaman.
Tapi mungkin kita tidak habis pikir dan yang puyeng, ketika mbak asisten rumah tangga kita bolak-balik ganti nomor handphone, sehingga rasanya kita sudah kehabisan ide untuk memberi nama di halaman kontak: mulai dari mbak 1, mbak 2, mbak 3, bosan pakai angka, ganti kita kasih nama mbak baru, mbak terbaru, mbak paling baru... dan entah apa lagi yang lain.
“Soal ganti-ganti nomor telepon, kita mungkin tidak paham logikanya. Apakah hanya sekadar mencari paket murah. Namun, kita bisa membaca dari sisi lain, bahwa menjadi sesuatu yang lain itu lebih mengasyikkan daripada setia pada satu identitas,” kata Bambang.
Dengan demikian bisa dipahami, ketika seseorang mengganti ponsel miliknya dengan yang baru, maka ia menjadi orang yang baru, menjadi orang yang lain lagi. Misalnya, ‘Oh, saya adalah kelompok pemakai iPhone X,’ atau ‘Saya pemakai Samsung Galaxy S9,’ dan lain sebagainya.
“Orang mengejar sesuatu yang baru dan difasilitasi oleh produsen yang menawarkan banyak pilihan. Seseorang dimungkinkan jadi lebih mudah memasang identitas baru. Hal inilah yang membuat produsen ponsel terus- menerus mengeluarkan seri terbaru, meski kualitasnya tidak awet. Produsen yang tidak memberikan sesuatu yang baru, maka ia akan ketinggalan.”
Mungkin kita tidak bisa paham, mengapa seseorang merasa harus segera berganti handphone gara-gara ada seri terbaru diluncurkan. Padahal, menilik fungsinya, handphone yang dimiliki masih berfungsi baik, dan belum terlalu ketinggalan zaman.
Tapi mungkin kita tidak habis pikir dan yang puyeng, ketika mbak asisten rumah tangga kita bolak-balik ganti nomor handphone, sehingga rasanya kita sudah kehabisan ide untuk memberi nama di halaman kontak: mulai dari mbak 1, mbak 2, mbak 3, bosan pakai angka, ganti kita kasih nama mbak baru, mbak terbaru, mbak paling baru... dan entah apa lagi yang lain.
“Soal ganti-ganti nomor telepon, kita mungkin tidak paham logikanya. Apakah hanya sekadar mencari paket murah. Namun, kita bisa membaca dari sisi lain, bahwa menjadi sesuatu yang lain itu lebih mengasyikkan daripada setia pada satu identitas,” kata Bambang.
Dengan demikian bisa dipahami, ketika seseorang mengganti ponsel miliknya dengan yang baru, maka ia menjadi orang yang baru, menjadi orang yang lain lagi. Misalnya, ‘Oh, saya adalah kelompok pemakai iPhone X,’ atau ‘Saya pemakai Samsung Galaxy S9,’ dan lain sebagainya.
“Orang mengejar sesuatu yang baru dan difasilitasi oleh produsen yang menawarkan banyak pilihan. Seseorang dimungkinkan jadi lebih mudah memasang identitas baru. Hal inilah yang membuat produsen ponsel terus- menerus mengeluarkan seri terbaru, meski kualitasnya tidak awet. Produsen yang tidak memberikan sesuatu yang baru, maka ia akan ketinggalan.”
Kognisi Makin Baik
Bila mencari satu hal yang baik dari masyarakat Indonesia saat ini adalah kognisi kita menjadi sangat kaya. Dari dimensi bahasa, kognisi kita yang tadinya monolitik menjadi multidimensional. “Kita memiliki dimensi yang kaya. Apakah ini bisa menjadi modal yang cukup baik untuk melangkah ke tahap selanjutnya apa tidak, belum tahu,” kata Bambang.
Era reformasi dan seiring dengan perkembangan teknologi, memang membuat persebaran informasi terjadi secara cepat dan mudah. “Dulu, reformasi sangat elitis, yaitu mereka yang hanya memiliki akses terhadap e-mail atau internet di kantorkantor. Sekarang, siapa pun bisa dan merata,” kata Bambang.
Hal inilah yang membuat tiap ada gagasan baru langsung menyebar. Gagasan-gagasan yang awalnya elitis, menyebar dan dicerna oleh masyarakat kebanyakan.
“Apa yang terjadi di pilkada Jabar dan Jateng menunjukkan faktor itu, pengaruh gagasan ganti presiden yang sangat elitis, kemudian mengubah cepat dari tadinya calon dengan elektabilitas yang biasa-biasa saja menjadi melejit dalam perolehan suara,” kata Bambang. (f)
Baca Juga:
Ketika Gender Makin Fleksibel
Kasus Penculikan Anak di Tangerang Selatan Ternyata Hoax. Begini Cara Cek Berita Hoax.
Sajak Sri Mulyani: Puisi Menyayat Hati Untuk Korban Lion Air JT 610
Era reformasi dan seiring dengan perkembangan teknologi, memang membuat persebaran informasi terjadi secara cepat dan mudah. “Dulu, reformasi sangat elitis, yaitu mereka yang hanya memiliki akses terhadap e-mail atau internet di kantorkantor. Sekarang, siapa pun bisa dan merata,” kata Bambang.
Hal inilah yang membuat tiap ada gagasan baru langsung menyebar. Gagasan-gagasan yang awalnya elitis, menyebar dan dicerna oleh masyarakat kebanyakan.
“Apa yang terjadi di pilkada Jabar dan Jateng menunjukkan faktor itu, pengaruh gagasan ganti presiden yang sangat elitis, kemudian mengubah cepat dari tadinya calon dengan elektabilitas yang biasa-biasa saja menjadi melejit dalam perolehan suara,” kata Bambang. (f)
Baca Juga:
Ketika Gender Makin Fleksibel
Kasus Penculikan Anak di Tangerang Selatan Ternyata Hoax. Begini Cara Cek Berita Hoax.
Sajak Sri Mulyani: Puisi Menyayat Hati Untuk Korban Lion Air JT 610