Foto: Dok. Pribadi
 
Pengamat budaya Tionghoa-Indonesia, Dilah Kencono, S.S, M.Si, dari Universitas Indonesia, Depok, mengatakan, meningkatnya kesadaran mengenai identitas kultural pada generasi muda Tionghoa di Indonesia saat ini memang cukup membedakan mereka dengan generasi sebelumnya. Mereka kini lebih bisa mengekspresikan dirinya. Salah satu faktor penting yang memungkinkan hal itu adalah sejarah dan kondisi politik yang memang lekat dengan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Pada saat bersamaan, perkembangan teknologi digital dan globalisasi yang mendorong keterbukaan informasi turut mendorong nilai-nilai positif dalam kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia. Khususnya pada generasi muda. “Melalui seni dan aspek kreatif yang memiliki kekuatan pemersatu, keberagaman etnis di Indonesia justru bisa menjadi potensi budaya yang beragam,” ujar Daisy.

Klik laman selanjutnya untuk mendengar pengalaman Leonard Theosubrata, Ernest Prakasa, dan Lenny Kumalasari.


 
 
Leonard Theosabrata
39, Desainer Produk, Jakarta
Tanamkan Nilai Kebaikan Dasar


Saya lahir dan besar di daerah Grogol, Jakarta Barat. Sekolah TK hingga SD di sekolah milik yayasan Katolik. Dari rumah ke sekolah kala itu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit naik becak. Di masa SD, saya mulai merasakan di-bully. Saya mendapatkan bullying dari anak-anak kampung di sekitar kompleks rumah kami. Mereka mengatakan saya Cina, kadang-kadang malak, meminta uang, bahkan saya dipukuli bila keinginan mereka tidak terpenuhi.

Menghadapi mereka, saya biasanya melarikan diri. Atau, ketika akan melewati salah satu gang dekat rumah dengan naik sepeda, saya harus mengamati dulu sebelum lewat, memastikan anak-anak di gang itu tidak sedang berkumpul.

Saya sempat kesal dengan perlakuan mereka itu, tapi saya tidak pernah membenci mereka. Saat SMP, saya tidak pernah di-bully lagi. Karena itulah, saya memberanikan diri untuk bergaul dengan anak-anak sekitar. Bermain di selokan untuk mencari ikan atau belut.

Begitu juga di sekolah, saya bergaul dengan anak-anak pribumi yang bandel-bandel. Di SMA, saya bahkan aktif main band yang beranggotakan anak-anak dari berbagai latar belakang. Musiklah salah satu yang membantu saya untuk berbaur. Saya merasa diterima, tanpa melihat ras.
Berbaur dengan orang-orang yang berbeda etnis, apalagi mayoritas, masih saya lakukan hingga sekarang. Rekan-rekan saya yang ikut mendirikan Brightspot Market dan The Goods Dept semua pribumi.  

Pengalaman yang saya rasakan di masa kecil mungkin tidak dialami oleh anak-anak zaman sekarang. Sebab, mereka ke mana-mana lebih sering naik mobil, mainnya kebanyakan di mal. Kondisi ini sebenarnya makin menciptakan jarak. Rasisme memang tidak akan dirasakan, tapi kesenjangan sangat terlihat.
Saya berharap, nilai-nilai kebinekaan kini kembali dijalankan bersama-sama. Hal ini saya tanamkan kepada ketiga anak saya. Saya menyekolahkan mereka di sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Di rumah pun, saya berusaha berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Klik laman selanjutnya untuk mendengar pengalaman Ernest Prakasa yang sempat dibully soal etnis semasa kecil.

 
 
Ernest Prakarsa
34, Seniman, Jakarta
‘Menertawakan’ Perbedaan


Saya menjalani masa kecil hingga remaja di masa Orde Baru. Masa di mana rasisme yang ditujukan kepada keturunan Tionghoa sangat kentara. Saya kesal dan marah, tapi saya memilih diam saja, saya tidak mau menjadi korban pengeroyokan.

Padahal, keluarga saya membaur dengan siapa pun, baik dengan etnis Tionghoa maupun dengan masyarakat pribumi. Walau, sama sekali tidak ada perkawinan campuran di keluarga saya.

Kondisi ini berangsur membaik setelah reformasi tahun 1998. Namun, kemudian mencuat lagi pada pemilihan umum presiden 2014 lalu hingga saat ini, menjelang pilkada serentak pada Februari 2017 mendatang.  

Dari kecil saya banyak bergaul dengan anak-anak pribumi. Demikian pula saat kuliah di Universitas Padjajaran. Walau berada di antara mayoritas, saya tidak pernah mengalami rasisme selama kuliah. Mungkin karena teman-teman saya adalah intelektual muda, pikiran mereka pun terbuka.

Sebelum terjun ke stand up comedy, saya mengawali karier di perusahaan label musik. Saya mulai menggeluti stand up comedy dengan mengikuti ajang Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV, tahun 2011. Sejak saat itu, tiap kali tampil, saya selalu menjadikan identitas saya sebagai keturunan Tionghoa.

Yang saya rasakan saat ini, generasi muda Indonesia sudah mulai terbuka dan menghargai perbedaan. Sehingga, rasisme terhadap keturunan Tionghoa, termasuk saya, jarang sekali terjadi. Hanya, akhir-akhir ini mulai mencuat lagi rasisme terhadap keturunan Tionghoa, terutama lewat media sosial. Namun, saya yakin bahwa hal ini dipicu oleh politik. Setelah pilkada, nanti juga akan redam sendiri.    

Tidak ada upaya khusus yang saya lakukan untuk berbaur dengan keturunan pribumi. Saya mencoba menghilangkan gap itu dengan cara bersuara lewat karya-karya saya. Komunitas Stand Up Indo yang saya dirikan bersama sejumlah komika senior, terbuka untuk siapa pun. Saya sadar, bila hanya mengutamakan satu golongan, misalnya anak-anak muda keturunan Tionghoa, sama artinya saya juga melakukan rasisme.

Klik laman selanjutnya untuk mendengar pengalaman Lenny Kumalasari asal Palu yang sempat mengungsi ke Surabaya saat terjadi kerusuhan antaretnis.
 
 
Lenny Kumalasari
24, Wirausaha, Palu
Kolaborasi Bisnis


Keluarga saya memiliki silsilah perkawinan campuran dengan pribumi, khususnya dari keluarga ibu saya. Nenek saya dari ibu  merupakan keturunan pribumi asal Kota Palu, Sulawesi Tengah. Saudara-saudara ibu saya pun banyak yang menikah dengan pribumi yang beragama Islam. Sedangkan ayah saya, adalah perantau asal Cina yang kini sudah menjadi WNI.

Atas saran dari Ibu, sejak SD hingga SMA, saya menempuh pendidikan di sekolah umum negeri. Kala itu, penduduk etnis Tionghoa di Kota Palu masih sedikit, sekolah-sekolah perguruan swasta yang didominasi oleh etnis Tionghoa pun hanya beberapa saja. Begitu pula saat kuliah, saya memilih  universitas negeri, mengambil jurusan hukum.

Berbaur dengan pribumi sudah terbiasa saya lakukan sejak kecil sehingga saya tidak pernah enggan untuk berbaur dengan orang-orang pribumi hingga saat ini. Di SD Negeri 2 Palu kala itu, saya satu-satunya etnis Tionghoa. Di masa inilah saya kerap di-bully. Selain dijuluki Cina dan sipit, saya juga kerap menjadi sasaran keisengan teman-teman, seperti dipalak dan ditakut-takuti pakai karet bekas lompat tali dengan cara memasukkannya ke dalam tas.

Jarak antara etnis Tionghoa dengan pribumi di Kota Palu saat ini sudah berkurang, karena terjalinnya hubungan bisnis. Banyak pribumi yang punya usaha, didukung oleh pengusaha etnis Tionghoa, begitu pula sebaliknya. Pembauran terasa di restoran yang kami miliki. Pelanggan pribumi dan Tionghoa, seimbang.  

Namun, saya akui bahwa penduduk etnis Tionghoa masih banyak yang menutup diri. Membangun rumah dengan pagar tinggi, dan pengamanan rumah yang berlapis-lapis. Hal ini memang dilakukan untuk mengantisipasi keadaan buruk. Pada  tahun 2001, saya pernah ikut mengungsi ke Surabaya karena adanya isu etnis Tionghoa menjadi sasaran kerusuhan. Ternyata, isu itu tidak benar.

Saya berharap, ke depannya masyarakat etnis Tionghoa lebih membaurkan diri lagi dengan pribumi, sehingga rasa takut akan disakiti yang selama ini menghantui, hilang. Bagi saya, selama kita berbuat baik, maka kita tidak akan disakiti. (f)