
Foto: Dok. YouTube
Kini adalah era yang memungkinkan ide tidak berlama-lama menghuni kepala seseorang. Kapan saja, semua orang bisa menyuarakan ide, terutama lewat video di YouTube, yang sedang digemari. Bukan asal cuap-cuap belaka, konten yang mereka sampaikan umumnya terkait isu toleransi, ketidakadilan, rasisme, nasionalisme, dan masih banyak lagi. Meski begitu, mereka mengemas isu-isu yang membuat ‘dahi mengernyit’ itu dalam format ringan seperti skit atau komedi bernaskah, parodi, dan video musik. Seberapa efektifkah video-video itu mampu mencuri perhatian, menyentil, bahkan menyentuh hati, akal, serta nalar penontonnya?
Visualisasi Kegelisahan
Video buatan content creator atau youtuber Adam Conover di kanal Adam Ruins Everything berjudul The Sinister Reason Weed is Illegal, telah ditonton oleh 842.607 netizen yang memicu diskusi seru. Video yang mendebatkan pro kontra legalisasi ganja di beberapa negara bagian Amerika Serikat itu juga menyampaikan hasil survei yang membandingkan tingkat kematian yang disebabkan alkohol, rokok, dan ganja.
Sementara di Inggris, Humza Arshad dari kanal Humza Productions mempertanyakan kebijakan Muslim ban yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. “Mengapa dia memberlakukan kebijakan itu seakan Amerika adalah sebuah klub? Amerika bukan klub, tetapi sebuah negara,” tanya youtuber yang kanalnya diikuti oleh 336.672 subscribers itu.
Keriuhan itu juga terjadi di Indonesia. Seperti yang selama 9 tahun konsisten dilakukan oleh Andry Ganda, Martin Anugrah, Bobby Tarigan, Reza Nangin, Steve Pattinama, dan Yosi Mokalu melalui kanal Cameo Project. Beberapa videonya yang menarik perhatian adalah Kami Indonesia yang ‘mengingatkan’ penonton tentang keberagaman Indonesia, Cina Banget! yang membahas stereotip orang Tionghoa di Indonesia, dan Sumpah yang Ngerepotin yang mempertanyakan sudahkah pemuda Indonesia menepati Sumpah Pemuda 1928?
Dipisahkan oleh benua dan waktu, kepedulian yang melahirkan kegelisahan menjadi benang merah untuk video yang diproduksi Adam, Humza, Cameo Project, dan jutaan youtuber lain. Mereka tak segan mengangkat isu-isu sensitif, tabu, dan hal-hal yang terkadang dilupakan untuk dibicarakan kembali. Bukan untuk sekadar cari perhatian atau sensasi belaka, tapi untuk menjadi bagian dari perubahan sosial.
Bukan karena merasa paling benar, Andry dari Cameo Project menekankan, video itu justru berangkat dari kegelisahan hati mereka. “Terutama isu-isu yang dekat dengan kehidupan kami sebagai masyarakat Indonesia, seperti stereotyping, nasionalisme, toleransi antar agama, dan lain-lain. Kami ingin menyuarakannya agar masyarakat, khususnya netizen, bisa lebih mengenal kondisi negaranya sendiri,” pungkasnya.
Selain isu-isu nasional, video rupanya juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya lokal yang mungkin masih sulit ditemukan penjelasannya di mesin pencarian. Seperti yang dilakukan Wangga Kharisnu, Sumarajaya, Arimbawa, Agus Eko, dan Wela Atsyuka melalui kanal Iseng Project. Tumbuh besar di Bali, Wangga merasa isu yang dibahas oleh youtuber Indonesia lebih banyak terkait isu nasional. “Sedikit sekali yang mengangkat isu budaya lokal. Padahal, Indonesia menjadi unik justru karena budaya lokal itu. Contoh, Bali yang biasanya dikenal dengan pantainya yang banyak… padahal, Bali menyimpan lebih banyak dari itu,” ungkap Wangga, yang kemudian mendirikan Iseng Project pada tahun 2015.
Tak seperti namanya, Iseng Project justru menunjukkan keseriusannya dalam memperlihatkan sisi lain Bali yang menyimpan banyak kebudayaan lokal yang tak banyak diketahui orang. Selama 4 menit, video Kegelisahan Anak Muda di Bali menampilkan adegan kehidupan sehari-hari di Pulau Dewata tersebut. Seperti memperkenalkan Akuarium, yang ternyata sebuah tempat prostitusi di Denpasar, ayam untuk Tajen atau ayam yang dipakai untuk tarung ayam jago, dan permainan spirit yang biasa dipakai keluarga atau kerabat ketika menunggu pagi saat megebagan (tradisi menunggui jenazah sebelum dikremasi di upacara ngaben).
Merekam dan Menertawakan Hidup
Format visual, khususnya video, memang sedang menjadi pilihan utama bagi masyarakat modern. Bahkan, menurut data Google Indonesia, Indonesia merupakan salah satu negara pengakses YouTube yang cukup besar di Asia Pasifik hingga saat ini. Pada akhir 2015, jumlah penonton YouTube di Indonesia tumbuh 130 persen, sejalan dengan peningkatan jumlah video yang mencapai 600 persen.
Mengejutkan? Sebenarnya, tidak juga. Sebab, keadaan tersebut memang sesuai dengan kondisi zaman yang beberapa tahun belakangan ini akrab dengan teknologi digital dan internet. “Apalagi di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Layanan internet, paket data, dan smartphone makin mudah didapatkan dengan harga lebih terjangkau. Makin banyak orang bisa memiliki akses ke platform video,” ujar Desy Bachir, Chief Marketing Officer Avenu, content creator management & network.
Lebih dari itu, keberadaan teknologi turut mengubah cara orang memandang sebuah berita dan isu. Desy menambahkan, jika sebelumnya orang-orang cenderung pasif menerima berita dan isu apa saja yang disodorkan oleh media massa konvensional, beberapa tahun belakangan ini mereka justru proaktif mencari jenis konten yang mereka inginkan dan butuhkan. “Ini yang disebut sebagai the power of personal media, bahwa tiap orang bisa menjadi media atau corong untuk diri mereka sendiri,” kata Desy, yang sudah 10 tahun bergelut di bidang marketing, brand, dan corporate media.
Keberadaan video di YouTube, baik yang komersial maupun nonkomersial, bukanlah saingan dari media konvensional, seperti TV, radio, majalah, koran, dan iklan billboard. Sebaliknya, video justru menjadi pelengkap yang sangat baik untuk meningkatkan wawasan masyarakat mengenai isu tertentu.
“Masih banyak orang yang tidak bisa dijangkau oleh media konvensional seperti itu, seperti generasi muda yang sekarang jarang nonton TV atau membaca media cetak,” papar Desy. Terutama, karena video tersebut dibuat dalam format komedi ringan. Menurut pengamatan Desy, netizen umumnya memang mencari konten yang menghibur dan mudah dipahami.
Senada dengan Desy, Andry mengatakan bahwa video-video mereka memang sengaja mengedepankan unsur humor dan format komedi. “Isu-isu yang kami angkat kebanyakan, sudah dibahas secara sangat serius di berbagai media massa. Tapi, orang kan juga butuh hiburan. Meski pesannya ‘berat’, kami kemas dengan ringan agar lebih mudah diterima masyarakat. Siapa tahu malah memberikan perspektif baru.”
Sementara Wangga menilai, humor sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Dengan cara itu, pesan kita lebih mudah diterima viewers. Itu bisa terlihat dari komentar-komentar viewers,” ujar Wangga, yang merasa senang ketika videonya justru menciptakan diskusi baru di kalangan viewers.
Baca aturan mainnya di halaman selanjutnya.
Tidak 100% Bebas
Desy menambahkan, video di YouTube juga mencapai puncak popularitas karena bisa menampung lebih banyak jenis konten yang tidak bisa ditayangkan di media konvensional, yang terikat beberapa aturan. Keterbatasan durasi, kebebasan berbicara, dan biaya yang mahal umumnya menjadi ganjalan jika seseorang ingin menampilkan video di media konvensional.
Meski cenderung lebih bebas aturan, bukan berarti content creator di YouTube bisa mengunggah apa saja tanpa batasan. Menurut Desy, ada tiga hal yang harus dimiliki oleh content creator, yaitu:
- Autentik: Seperti juga dalam produk, tiap content creator harus punya unique selling point yang membuat mereka tampil beda. Keaslian seharusnya menjadi modal utama untuk menciptakan ciri khas dan karakter yang akan selalu diingat.
- Relevan: Viewers biasanya loyal terhadap content creator karena isu yang mereka angkat terasa dekat dengan kehidupan viewers. Oleh sebab itu, content creator harus peka terhadap kebutuhan viewers sambil tetap menjaga ciri khas mereka.
- Bisa dipercaya: Meski bersifat nonjurnalistik, isu yang aktual dan data yang faktual tetap harus diutamakan dalam pembuatan video. Jangan sampai memberikan informasi yang salah kepada viewers.
Untuk itu, Cameo Project menetapkan batasan-batasan untuk video mereka, yakni tidak menggunakan kata-kata tidak senonoh, tidak mengeluarkan sumpah serapah, tetap menjaga nilai-nilai kesetaraan, seperti menghormati wanita dan memandang semua suku, ras, agama secara adil.
Wangga menambahkan, pembuatan video juga tidak bisa hanya berdasarkan tren. “Sebelum mengangkat suatu isu, kami harus benar-benar yakin bahwa kami paham dengan isu tersebut dan memiliki fakta yang cukup untuk mendukungnya.” Pemahaman isu merupakan hal penting. Sebab, tujuan utama pembuatan video adalah untuk menambah wawasan viewers, bukannya malah menyesatkan. Untuk itu, Cameo Project dan Iseng Project selalu melakukan riset sebelum membuat video.
Jika batasan-batasan itu dipertahankan, persaingan di antara content creator sebenarnya tidak perlu terjadi karena tiap orang punya ciri khas masing-masing. YouTube dan internet --yang hingga saat ini masih suka dikambinghitamkan sebagai salah satu penyebab perilaku negatif generasi muda-- juga bisa menjadi pilihan sarana edukasi yang bisa diandalkan. (f)
Baca juga:
Live Streaming dari Ponsel di YouTube, Satu Lagi Keuntungan Buat Kreator
3 Tip Sukses Bermusik di YouTube
Super Chat, Fitur Baru YouTube yang Akan Mendekatkan Penonton dan Bintang YouTube