Art healing/ Foto: NORA“Saya berdiri disini sebagai bukti bahwa gangguan mental itu dapat disembuhkan,” ujar Yodhanata Soewandi, meditation practioner dan corporate trainer & art healing practitioner saat bicara dalam master class Indonesian Women’s Forum 2019 bekerja sama dengan The Golden Space, bertajuk Wellbeing Series: Healing Through Art. The Power of Creative Expression.
Masalah kesehatan jiwa di Indonesia kian hari meningkat, namun gangguan mental belum diketahui publik. Ini karena adanya konotasi tabu yaitu lebih baik tidak usah dibahas, karena takut dianggap kurang atau salah. Namun perlahan kondisi ini mulai berubah. Gangguan mental bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dibicarakan. Masalah kesehatan mental justru mendapatkan perhatian lebih dari masayarakan saat ini.
Mengutip perkataan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian penyakit Kementerian Kesehatan RI, Yodha mengatakan saat ini gangguan mental bertransformasi menjadi sesuatu hal yang bisa disembuhkan dan bukan sesuatu hal yang disangkal atau ditindas.
Ganguan mental memiliki banyak tipe dan warna, dari depresi, dysthymia, bipolar, psychotic, schizophrenia, anxiety, eating disorder, adhd, post trauma, ocd, dan lain sebagainya. Didiagnosis mengalami beberapa gangguan mental, yaitu bipolar disorder, schizophrenia, dan personality disorder, pada 22 agustus 2017, Yodha dinyatakan sembuh dari semua gangguan yang dideritanya.
Berawal dari mencari solusi untuk kesembuhannya, Yodha menemukan seni meditasi. Ini membuatnya jauh lebih stabil. Ia juga menjalani seni meditasi untuk lebih mendalami tata masalah dan menyembuhkan trauma yang dialami.
“Forgive and forget adalah kunci dari menjalani hidup menjadi lebih baik. Mencoba memaafkan dan melihat trauma itu dari segi positif, dapat saya capai lewat seni meditasi,” ujar Yodha, berbagi tip.
Yodha juga mengajak para peserta untuk ikut serta mencoba seni meditasi ini lewat langkah mudah yang pimpinnya. Awalnya peserta diminta untuk menggambar otak dan hati diatas secarik kertas, kemudian peserta diminta untuk duduk senyaman mungkin tanpa menyilangkan kaki mereka dan memejamkan mata.
Kemudian ia berusaha memberi sugesti positif dengan meminta peserta untuk mengenal lebih dalam hati dan pikiran yang dirasakan saat ini. Kata-kata positif dan negatif yang dirasakan lalu ditulis di atas kertas yang telah digambar otak dan hati. Lalu secara perlahan mencoret kata-kata negatif dan menggantinya dengan kalimat yang positif.
Masalah kesehatan jiwa di Indonesia kian hari meningkat, namun gangguan mental belum diketahui publik. Ini karena adanya konotasi tabu yaitu lebih baik tidak usah dibahas, karena takut dianggap kurang atau salah. Namun perlahan kondisi ini mulai berubah. Gangguan mental bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dibicarakan. Masalah kesehatan mental justru mendapatkan perhatian lebih dari masayarakan saat ini.
Mengutip perkataan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian penyakit Kementerian Kesehatan RI, Yodha mengatakan saat ini gangguan mental bertransformasi menjadi sesuatu hal yang bisa disembuhkan dan bukan sesuatu hal yang disangkal atau ditindas.
Ganguan mental memiliki banyak tipe dan warna, dari depresi, dysthymia, bipolar, psychotic, schizophrenia, anxiety, eating disorder, adhd, post trauma, ocd, dan lain sebagainya. Didiagnosis mengalami beberapa gangguan mental, yaitu bipolar disorder, schizophrenia, dan personality disorder, pada 22 agustus 2017, Yodha dinyatakan sembuh dari semua gangguan yang dideritanya.
Berawal dari mencari solusi untuk kesembuhannya, Yodha menemukan seni meditasi. Ini membuatnya jauh lebih stabil. Ia juga menjalani seni meditasi untuk lebih mendalami tata masalah dan menyembuhkan trauma yang dialami.
“Forgive and forget adalah kunci dari menjalani hidup menjadi lebih baik. Mencoba memaafkan dan melihat trauma itu dari segi positif, dapat saya capai lewat seni meditasi,” ujar Yodha, berbagi tip.
Yodha juga mengajak para peserta untuk ikut serta mencoba seni meditasi ini lewat langkah mudah yang pimpinnya. Awalnya peserta diminta untuk menggambar otak dan hati diatas secarik kertas, kemudian peserta diminta untuk duduk senyaman mungkin tanpa menyilangkan kaki mereka dan memejamkan mata.
Kemudian ia berusaha memberi sugesti positif dengan meminta peserta untuk mengenal lebih dalam hati dan pikiran yang dirasakan saat ini. Kata-kata positif dan negatif yang dirasakan lalu ditulis di atas kertas yang telah digambar otak dan hati. Lalu secara perlahan mencoret kata-kata negatif dan menggantinya dengan kalimat yang positif.
Foto: NORASeni juga menjadi media bagi Atreyu Moniaga, seniman dan aktivis sebagai terapi jiwa.
“Buat saya emotional healing, ya, dengan menggambar, karena saya menyukai aktivitas yang benar-benar dapat dilakukan sendirian,” ujar Atreyu.
Memiliki kesulitan untuk mengomunikasikan perasaannya saat sedang sedih, merupakan awal mula Atreyu menyadari bahwa lewat menggambar ia dapat mencurahkan gejolak hatinya. “Dengan kata lain saya memindahkan rasa sakit saya lewat menggambar.”
Seniman pendiri Atreyu Moniaga Project ini juga mengungkapkan bahwa, healing through art ini banyak dilakukan oleh seniman-seniman yang memiliki masalah gangguan mental. Mereka dapat menyalurkan emosi dan memulihkan kesehatan mentalnya melalui seni.
Sesi master class mengenai Healing Through Art ini diakhiri dengan testimoni beberapa peserta. Mereka menceritakan arti dari gambar yang mewakili perasaan. Rasa haru muncul karena beberapa peserta menceritakan mengenai depresi yang mereka miliki dan bagaimana seni meditasi ini cukup membantu mereka melepaskan perasaan yang mereka alami. (f)
Debbyani Nurinda
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga :
Membebaskan Kekuatan Tanpa Batas
Mengajarkan Nilai-nilai Positif dari Entrepreneurship pada Anak Ala Entrepreneurmom
Menciptakan Generasi Inklusif