
Foto: Shutterstock
WHO menyebutkan, remaja dan anak muda lebih rentan terkena gangguan mental. Masa muda merupakan fase seseorang mengalami banyak perubahan dan penyesuaian, baik secara psikologis, emosional, termasuk di dalamnya ganguan stres.
Setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun. WHO juga menyebutkan, banyak kasus pada remaja yang tidak tertangani dengan cepat sehingga bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun.
Di tahun 2020, para remaja dan anak muda yang rentan akan gangguan mental ini juga menghadapi masa pandemi yang menantang. Apalagi, data yang dikeluarkan oleh Satgas Penanganan Covid-19, hingga bulan Oktober 2020, menyebutkan persentase kasus positif Covid-19 di usia 19-30 tahun mencapai angka 24,5%. Ini bukanlah jumlah yang sedikit. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tapi juga mental golongan muda ini.
Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang dilakukan untuk memutus rantai penularan COVID-19 sekarang ini, sangat mungkin menjadi pemicu stres pada remaja dan anak muda. Jika tidak memiliki mental yang kuat serta kurangnya dukungan keluarga, aturan untuk tetap di rumah, tidak bertemu dengan teman dan tidak boleh menyampaikan afeksi secara fisik, bisa membuat stres.
Menurut psikolog Ine Indriani, Leader of Brainspotting Indonesia, ada cara yang bisa dilakukan agar para remaja dan anak muda terhidar dari stres di saat pandemi. “Mereka harus melalukan self care yang meliputi seluruh aspek kehidupan, karena tubuh dan pikiran saling terintegrasi,” ujar Ine. Self care ini meliputi area fisik, emosi, sosial, dan rutinitas.
Baca selanjutnya: 4 Area Self Care Untuk Menghindari Stres Pada Anak Muda Selama Pandemi


Foto: Shutterstock
1.Fisik
Mens sana in corpore sano bukanlah sekadar kalimat belaka. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Hal ini sejalan dengan Ine yang menyarankan untuk tetap manjaga kondisi fisik selama pandemi. Walau sekolah, kuliah, atau bekerja di rumah bukan berarti santai di rumah dan mengabaikan kondisi tubuh.
Makan dengan porsi yang cukup dan mengandung nutrisi yang baik adalah suatu keharusan untuk menjaga imun tubuh saat ini. Begitu juga dengan minum air yang cukup agar tidak dehidrasi. Selain itu, rutin berolahraga membuat kondisi oksigen dalam darah dan otak menjadi baik, sehingga akan membantu kondisi emosi.
2. Emosi
Cek emosi dan connect dengan diri sendiri. Sadari perasaan-perasaan diri sendiri. Coba ketahui apakah diri kita sedang sedih, sedang marah atau kecewa. Dan bagaimana mencari solusinya atau meminimalisirnya.
Merasa cemas saat pandemi adalah hal yang wajar. Namun, kecemasan ini tidak boleh dibiarkan hingga belarut menjadi hal yang mengkhawatirkan.
Cobalah untuk mencari pengalihan dari rasa cemas. Bagi yang hobi menulis, mungkin ini saat yang tepat untuk menulis sebuah jurnal atau blog. Selami lebih dalam hobi atau justru lakukan hal baru yang sebelumnya tidak sempat dilakukan. Membaca novel, belajar memainkan alat musik, berkebun, memasak, dan lainnya.
Menurut Ine, curhat juga bisa menjadi cara untuk menjaga emosi. “Saat memendam emosi tubuh akan merasa tidak nyaman, sebab mind and body saling terkoneksi,” terang Ine. Mengekspresikan isi hati dengan curhat artinya menyalurkan apa yang terpendam di dalam hati. Dengan mengetahui ada orang lain yang mendengarkan, menerima kondisi Anda, maka emosi akan lebih tenang.
3.Sosial
Pada dasarnya manusia suka bersosialisasi. Walau kini lebih sering di rumah, menjaga relasi tetap penting, terutama dalam hubungan kelompok. Cari cara yang terbaik untuk tetap berkomunikasi dengan teman-teman. Melalui media sosial adalah salah satunya.
Berkreativitaslah menggunakan media sosial yang kini tak terhitung jumlahnya. Namun, Ine mengingatkan agar tidak berlebihan dalam menggunakannya sehingga justru berbalik mempengaruhi emosi menjadi negatif. Hindari media sosial yang toksik dan berisi konten tidak baik.
4. Rutinintas
Sebelum pandemi, rutinitas yang monoton bisa menjadi salah satu pemicu stres. Namun, saat ini, tidak melakukan apa-apa di rumah justru menjadi masalah yang memicu stres. Rutinitas justru bisa membuat diri lebih tenang dan nyaman terhindar dari stres.
Coba buat agenda rutinitas harian. Selain sekolah, kuliah, atau kerja, masukkan rutinitas berolah raga, melakukan hobi, dan membersihkan rumah. Rumah yang bersih juga membuat pikiran lebih nyaman, lho! (f)
