Foto: pixabay

Hingga hari Selasa (17/3/2020) sore, jumlah pasien yang dinyatakan positif COVID-19 di dunia adalah 184.054 kasus. Di Indonesia, jumlahnya bertambah 38 dari kemarin, hingga total adalah 172 kasus. Meski tercatat 7182 kematian, ada 79.927 pasien yang dinyatakan sembuh.
 
Tiongkok, dimana penyakit ini pertama ditemukan, hingga hari ini melaporkan 80.881 kasus positif COVID-19, 3226 kematian, dan 68.703 sembuh. Sebuah hasil yang luar biasa. Sementara di Indonesia, selain lima kasus kematian akibat COVID-19, ada sembilan pasien yang dinyatakan sembuh.

Melihat angka-angka itu, ada kekhawatiran, ada juga  harapan. Beberapa penyintas pun berbagi pengalaman mereka. Ini beberapa pesan dan pelajaran yang bisa kita petik bersama:

1/ Seorang penyintas di Busan, Korea Selatan mengingatkan agar semua orang tetap waspada tapi tidak panik. Seperti dikutip dari SCMP, pria yang bermarga Park, seorang dosen mengaku terlalu percaya diri dengan kesehatannya. Ia rajin berolahraga dan menjaga pola makan sehat, sehingga tidak berpikir kalau ia bakal menjadi tertular COVID-19. "Saya waktu itu terlalu naif, bodoh, dan overconfident." 

2/ Seorang perawat berusia 29 tahun di Hubei, Tiongkok, yang terinfeksi COVID-19 tidak menyangka kalau ia akan selamat. Seperti dikisahkan dalam Straitstime, empat hari setelah dirawat karena demam dan kemudian didiagnosa COVID-19 kondisinya memburuk. Ia sulit menelan dan makin lemah. Tenaga medis dengan telaten merawatnya hingga akhirnya setelah 17 di rumah sakit ia dinyatakan sembuh. 

Pemerintah Tiongkok memintanya untuk mendonasikan plasma darah yang mengandung antibodi terhadap virus dan bisa dimanfaatkan untuk riset dalam upaya menyembuhkan pasien lain. Dengan senang hati ini ia lakukan. Ya, penyakit ini memiliki persentase kesembuhan besar, tapi sebagian pasien harus melalui perjuangan berat selama berhari-hari, dibantu beragam obat dan peralatan canggih. Begitu juga tenaga medis yang harus bekerja keras. Karena itu, jangan pernah anggap enteng. Tak semua memiliki kesempatan mendapat perawatan yang memadai.

Selanjutnya, penyintas covid-19 di Indonesia
 
 



3/ Pasien 1 di Indonesia yang dinyatakan sembuh setelah dua kali pengujian dinyatakan negatif meminta, media dan masyarakat untuk memberi dukungan moral pada pasien COVID-19. Yaitu dengan tidak menghakimi dan memberi stigma negatif, yang membuat pasien menjadi korban dua kali. Penyebaran informasi yang tidak akurat dan bocornya identitas pasien oleh pihak yang tidak bertanggungjawab selain sangat membebani psikis pasien. Juga membuat orang yang berisiko enggan memeriksakan diri. 

Ia mengaku terus menangis selama seminggu berada di rumah sakit. Padahal psikologis pasien juga memengaruhi imunitas tubuh dalam melawan virus 2019-nCoV. Tekanan psikologis bisa menghambat proses penyembuhan.

4/ Pasien 3 di Indonesia mengaku tidak memiliki gejala yang mengkhawatirkan. Ini justru lebih berbahaya karena dia bisa melakukan berbagai aktivitas normal tanpa sadar bisa menularkan virus 2019 nC0V pada orang lain yang imunitasnya lebih rendah. Untungnya ia diminta melakukan tes karena termasuk kerabat dari pasien 1, meski tak menunjukkan gejala.

Kenyataannya, inisiatif untuk memeriksakan diri di berbagai rumah sakit rujukan diseleksi ketat. Jika tidak melakukan perjalanan ke luar negeri dan mengalami gejala yang nyata seperti sesak napas dan demam tinggi, belum tentu Anda bisa melakukan tes. Di berbagai negara ini juga terjadi. Bagaimana pun mencegah sebaik mungkin agar tak tertular adalah yang bisa kita lakukan saat ini.  (f)

Baca Juga:

Bawang Putih Bisa Cegah Infeksi Virus Corona? Ini Faktanya
Stop Sebar Info Tak Jelas, Ketahui Fakta Tentang Virus Corona
Ini Maksud Jaga Jarak Sosial dan Isolasi Mandiri