Foto: unsplash.com
Dalam hal pencegahan penyebaran Corona, para milenial, menurut Staf Khusus Milenial Presiden, Adamas Belva Syah Devara, memiliki peran besar. Menurutnya, generasi milenial berpotensi sebagai generasi penular terbesar. Melihat data di Korea Selatan, ratusan ribu orang yang melakukan tes terdapat 25.000 hingga 300.000 orang. Hasil tes tersebut menunjukkan 30% kasus positif pada orang dengan usia 20 hingga 29 tahun.
“Jadi, jaga jarak, di rumah saja dulu. Jangan dulu hang out. Tidak penting sosialisasi yang tidak penting. Di rumah saja dulu. Karena generasi milenial ini adalah generasi penerus virus terbesar,” tegas Adamas.
Meski menyarankan generasi muda untuk #dirumahaja, pendiri aplikasi Ruang Guru ini, mengakui bahwa millenial menjadi kelompok yang paling rentan mengalami masalah kesehatan jiwa selama melakukan social distancing.
“Tanpa social distancing saja generasi milenial adalah yang paling terpapar problem mental health seperti depresi, merasa kesepian dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Ia pun meminta generasi milenial untuk saling menjaga kesehatan mental dengan terus bersosialisasi dengan orang lain dengan memanfaatkan teknologi meski tengah menjalani social distancing atau menjaga jarak aman seperti menggunakan konferensi telepon menghubungi teman-temannya untuk memeriksa apakah ada yang merasa kesepian dan lain sebagainya.
"Jangan menyebarkan hoaks, fungsi edukasi harus jalan dan yang ketiga coba cek teman-teman pastikan mereka OK," tegasnya.
Tak dipungkiri, wabah penyakit menular, seperti COVID-19, bisa menakutkan dan dapat memengaruhi kesehatan mental kita. Penting untuk kita mengelola kesehatan mental selama masa-masa seperti sekarang ini.
Baca Selanjutnya: Beberapa kiat menjaga kesehatan mental sementara kita harus tinggal di rumah
Foto: Unsplash.com
Berikut beberapa kiat menjaga kesehatan mental sementara kita harus tinggal di rumah dari The Mental Health Foundation, Inggris:
1/ Jaga hubungan dengan orang lain
Anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing dengan tinggal di rumah dan memberi jarak 1-2 meter saat berada di dekat orang lain, berarti bahwa lebih banyak dari kita akan menghabiskan waktu di rumah. Ritme kehidupan pun akan berbeda, terutama menyangkut kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain.
Buat rutinitas harian baru yang memprioritaskan menjaga diri sendiri. Berbagai ekgiatan bias dipilih seperti membaca lebih banyak atau menonton film, berolahraga rutin, mencoba teknik relaksasi baru, atau menemukan pengetahuan baru di internet.
Meski terbatas oleh jarak, kita tetap harus menjalin hubungan dengan orang lain secara teratur misalnya lewat media sosial, email atau telepon.
2/ Cobalah untuk menghindari spekulasi dan mencari sumber-sumber informasi akurat
Rumor dan spekulasi dapat memicu kecemasan. Memiliki akses ke informasi berkualitas tentang virus dapat membantu kita merasa lebih terkendali.
Kita dapat memperoleh informasi dan saran terkini tentang virus di sini:
1/ https://www.google.com/covid19/
2/ covid19.go.id
3/ corona.jakarta.go.id
4/ https://pikobar.jabarprov.go.id/
5/ https://corona.jatengprov.go.id/
6/ https://corona.jogjaprov.go.id/
Selain itu, ikuti saran kebersihan seperti mencuci tangan lebih sering dari biasanya, selama 20 detik dengan sabun dan air panas. Lakukan setiap kali dari luar rumah, meniup hidung, bersin atau batuk, makan atau menangani makanan. Jika tidak bisa langsung mencuci tangan, gunakan pembersih tangan dan cuci tangan pada kesempatan berikutnya. Gunakan tisu jika bersin dan pastikan membuangnya dengan cepat.
3/ Cobalah untuk tetap terhubung
Cobalah dan tetap berhubungan dengan teman dan keluarga melalui telepon, email atau media sosial, atau hubungi saluran bantuan untuk dukungan emosional. Tingkatkan manajemen stres, tetap aktif, dan makan makanan yang seimbang.
Tetap berkomunikasi dengan teman-teman di media sosial tetapi cobalah untuk tidak berbagi hal-hal yang sensasional. Jika berbagi konten, gunakan ini dari sumber tepercaya, dan ingat bahwa orang lain mungkin juga khawatir.
Tidak ada salahnya juga detox media sosial, seperti mengecek apakah ada akun atau orang tertentu yang meningkatkan kekhawatiran atau kecemasan? Pertimbangkan mematikan atau berhenti mengikuti akun atau tagar yang menyebabkan kita merasa cemas.
4/ Antisipasi ketakutan
Boleh-boleh saja merasa rentan dan kewalahan ketika kita membaca berita tentang wabah, terutama jika pernah mengalami trauma, masalah kesehatan mental di masa lalu, atau memiliki kondisi kesehatan fisik jangka panjang yang rentan efek virus corona. Penting untuk mengakui perasaan ini dan saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
5/ Cobalah untuk tidak membuat asumsi
Coronavirus dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, etnis atau jenis kelamin. Jangan menilai atau menyalahkan orang lain karena kondisi saat ini atau mencari siapa yang bertanggung jawab.
Cobalah untuk mengelola bagaimana kita mengikuti informasi tentang wabah ini di media. Ada banyak liputan berita, jika menemukan bahwa berita tersebut menyebabkan kita sangat tertekan, penting untuk menemukan keseimbangan.
Yang terbaik adalah tidak menghindari semua berita, namun memilih informasi yang benar-benar mendidik diri sendiri. (f)
Baca Juga:
Terjebak Lockdown di Italia, Ini Kondisi Terkini Asmara Abigail
Waspada, Gejala Ini Biasanya Dirasakan Pasien COVID-19 Berusia Muda
Demi Kesehatan Anak, Guru, dan Masyarakat, UN 2020 Ditiadakan