
Foto Instagram @agusyudhoyono
Berikut penyataan dari keluarga Ibu Ani Yudhoyono:
Ibu Ani berjuang melawan kanker darah, yang baru terdeteksi sejak pertengahan Februari lalu. Keberadaan Bapak SBY dan keluarga yang selalu mendampingi, perhatian dan doa dari para sahabat maupun masyarakat Indonesia, serta upaya medis terbaik yang dilakukan tim dokter Kepresidenan dan tim dokter National University Hospital (NUH) Singapura, membuat Ibu Ani selalu bersemangat, berjuang dari hari ke hari, untuk sembuh. Namun, Allah SWT punya kehendak yang lebih baik bagi Ibu Ani.
Atas nama keluarga, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya sekiranya ada ucapan atau tindakan Almarhumah, Ibunda kami, yang mungkin pernah menciderai perasaan Bapak, Ibu, saudara sekalian.
Kami mohon doa agar Allah SWT mengampuni dosa beliau dan melapangkan kubur beliau.
Kami, anak-anaknya, menyaksikan bahwa Ibu Ani adalah seorang muslimah yang baik, yang selalu memperhatikan Bapak SBY dan kami, anak-anak, menantu dan cucu-cucu beliau serta masyarakat Indonesia.
Sampai akhir hayatnya, beliau selalu mengikuti perkembangan di tanah air, ikut bersuka manakala rakyat senang, ikut berduka saat rakyat ditimpa kesusahan.
Foto: ShutterstockHidup Dalam Keluarga Tentara
Wanita kelahiran 6 Juli 1952 ini selalu dikelilingi tentara. Dalam buku biografi Kepak Sayap Putri Prajurit (2010), ia menceritakan masa kecilnya hingga dewasa sebagai anak ketiga dari Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Eddie. Termasuk ketika berkenalan dengan SBY pada tahun 1973 di Magelang dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ani yang tinggal di Jakarta melanjutkan hubungan dengan SBY lewat surat.
Keduanya lalu menikah pada 30 Juli 1976. Wanita tomboy yang sempat kuliah kedokteran di Universitas Kristen Indonesia ini pun memulai perannya sebagai isteri tentara. Lalu, sebagai ibu dua putera, salah satunya kemudian menjadi tentara.

Cinta Fotografi

Kontribusi dan Warisan Ibu Ani
Semasa hidupnya, Ibu Ani juga mendapat Pin Emas dari Pemegang Nobel Perdamaian M. Yunus karenanya perannya dalam program Perempuan Keluarga Sehat dan Sejahtera dan Indonesia Kreatif (PERKASSA). Program ini bertujuan mendorong pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Kredit Mikro Indonesia. Beliau juga mendapat Pin emas dari Kementerian Negara dan Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2007 sebagai penghargaan atas usahanya mendorong peningkatan kualitas hidup wanita Indonesia. Kontribusinya mendorong gerakan Tanam dan Pelihara 10 juta Pohon di Indonesia juga dihargai dengan Certificate of Global Leadership dari The United Nations Environment Program(UNEP).
Wanita yang sangat aktif di media sosial ini memberikan warisan bagi masyarakat berupa buku-buku.
Beliau memberikan gagasan dan pemikiran sehingga terwujud buku berjudul 3500 Plant Species of The Botanic Garden of Indonesia yang dikurasi oleh Deniek Sukarya. Buku setebal 2000 halaman itu berisi koleksi tanaman di empat kebun raya di Indonesia (Kebun Raya Bogor, Kebun raya Cibodas, Kebun Raya Purwodari, dan Kebun Raya Eka Karya-Bali.

Beliau juga merilis buku #BerkebayaAlaAniYodhoyono sebagai bentuk kebanggaan dan cintanya pada busana nasional Indonesia itu. Pilihan kebaya yang ia kenakan selama 10 tahun menjadi Ibu Negara didokumentasikan di sini. Lewat buku ini, Ani Yudhoyono ingin mengajak wanita Indonesia untuk lebih mencintai dan melestarikan kebaya dan wastra nusantara sebagai warisan budaya.

Beberapa saat sebelum sakit, Ibu Ani meluncurkan buku Ani Yudhoyono: 10 Tahun Perjalanan Hati. Buku ini menceritakan suka duka dan pengalamannya sebagai Ibu Negara mendampingi SBY yang menjadi presiden selama dua periode. Mulai dari saat masuk istana hingga kembali menjadi rakyat, sikapnya menghadapi kritik dan fitnah, juga usahanya menjaga stamina selama menjalani tugas negara. Buku ini lahir karena ia pengalamannya kesulitan mencari referensi.
Ibu Ani adalah wanita yang selalu senang berbuat sesuatu. Bahkan kabarnya beliau sesungguhnya sedang merintis jalan untuk menggelar pameran batik di museum.
Selamat jalan Ibu Ani. Semangatmu akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia. (f)