Foto:Shutterstock
 
Dimulainya program vaksinasi nasional  menjadi harapan baru untuk memerangi pandemi Covid-19. Kelompok prioritas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sudah mulai disuktikkan vaksin keluaran Sinovac beberapa waktu yang lalu. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang mendapatkan vaksin ini.

Sebagian tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam merawat pasien Covid-19 dan para pekerja layanan publik juga sudah mendapatkan suntikan pertamanya.

Program vaksinasi ini disambut positif oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Keinginan untuk mencegah terjangkit virus ini pun datang dari berbagai kalangan masyarakat. Namun, karena ketersediaan vaksin Covid-19 di Indonesia masih terbatas, maka ada beberapa kelompok masyarakat yang belum diprioritaskan, salah satunya adalah anak-anak.

Saat ini  vaksin yang tersedia di Indonesia baru hanya vaksin buatan Sinovac asal Cina. Saat program Femina Live mengenai “Siapa yang Boleh dan Tidak Boleh  DivaskinCovid-19”, DR. dr. Erlina Burhan Sp.P, Anggota Tim Ahli Medis Satgas Covid-19, menjelaskan bahwa hasil akhir uji klinis fase III vaksin Sinovac yang dilakukan hingga saat ini, tidak memasukkan usia anak-anak dalam sampel uji coba. Oleh sebab itu, vaksinasi Covid-19 pada anak anak di bawah 18 tahun belum bisa dilakukan. Namun, bukan berarti kelompok anak-anak tidak divaksin.

Saat ini, penelitian dan uji coba vaksin Covid-19 yang menyertakan kelompok anak-anak masih dalam proses. Jika nanti vaksin Covid-19 yang aman untuk kelompok anak-anak sudah disahkan dan hadir di Indonesia, tentunya anak-anak Indonesia juga berhak mendapatkan vaksin ini untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Proses vaksinasi adalah memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, sebab itu perlu kehati-hatian. Terlebih lagi vaksin Covid-19 ini merupakan jenis vaksin baru.

Baca berikutnya: Uji Coba Vaksin Covid-19 Untuk Anak-Anak
 

Foto: Shutterstock
 
Uji Coba Vaksin Covid-19 Untuk Anak-Anak

Tujuan pemberian vaksin Covid-19 bukan hanya memproteksi diri dari terjangkit virus Covid-19. Idealnya, program nasional pemberian vaksin Covid-19 juga untuk menghentikan penyebaran virus ini. Oleh karena itu diharapkan sebanyak-banyaknya masyarakat mendapatkan vaksin ini termasuk anak-anak.

Walau kasus positif Covid-19 pada anak memiliki angka yang kecil dibangingkan dengan kelompok usia dewasa, bukan berarti anak-anak tidak perlu divaksin. Anak-anak memang terlihat seperti tidak menularkan virus Covid-19. Padaha justru sebaliknya, mereka justru bisa menjadi carrier yang membahayakan para orang tua.

Saat ini beberapa perusahaan yang memproduksi vaksin Covid-19 sedang melakukan uji coba penggunaan pada anak-anak. Salah satunya adalah Pfizer, yang memulai uji klinis  pada anak usia 12 tahun mulai Oktober 2020 lalu.  Uji klinis akan melibatkan 3000 relawan berusia 12 hingga 18  tahun. Hingga saat ini, belum ada hasil uji klinis tersebut. Sedangkan vaksin Covid-19 milik Pfizer yang saat ini sudah digunakan bisa diberikan kepada anak usia 16 tahun ke atas.

Dikutip dari fiercebiotech.com , vaksin Sinopharm yang dikembangkan oleh China National Biotec Group (CNBG) diklaim bisa digunakan hampir segala umur dan ampuh melawan banyak varian virus. “Uji melawan jenis virus baru di Inggris sedang dilakukan dengan hasil awal sementara yang baik. Vaksin ini bisa menginduksi perlindungan,” kata ketua CNBG Yang Xiaoming.

Vaksin pertama yang sudah diizinkan penggunaannya secara masal Desember lalu ini bisa digunakan kepada anak-anak dan remaja. Sebelumnya, vaksin ini telah mengantongi izin penggunaan darural di bulan Juli 2020. Yang Xiaoming mengaku hingga kini perusahaanya tidak menemukan perbedaan keamanan dan efektifitas antar kelompok umur.

"Anak-anak berusia 3 sampai 17 tahun bisa menerima vaksin CNBG," ujar Yang. Catatannya adalah bahwa pada anak 3-5 tahun, sistem imun tubuh masih dalam perkembangan awal, "Mereka harus diobservasi secara hati-hati jika diputuskan divaksinasi," tambahnya.

Hasil uji klinis yang dilakukan menunjukkan tingkat efikasi 79,34 persen. Tingkat kemampuannya membangun antibodi dalam tubuh mencapai 99,52 persen. Dari data yang dikumpulkan, efek samping yang muncul terbatas kepada nyeri di sekitar lokasi suntikan, sakit kepala, nyeri otot, dan demam.

CNBG juga mengeksplorasi teknik dan dosis yang berbeda-beda dalam uji klinis yang dilakukannya. Hasilnya, diketahui vaksin memberi efek terbaik ketika suntikan dosis yang kedua berjangka 3-4 bulan dari yang pertama. Kini, CNBG sedang mengamati jangka waktu proteksi yang mampu ditawarkan.

Yang Xiaoming juga menjelaskan bahwa delapam bulan yang lalu kelompok pertama telah menerima dosis vaksin, dan hingga kini masih terlindungi. Data CNBG menunjukkan ada perlindungan setidaknya untuk enam bulan, dan masih dilakukan uji coba apakah kemampuan itu masih ada untuk delapan bulan atau lebih.