Yuni Jie dan karya fashion One Fine Sky di atas catwalk/ Foto: dok. pribadi

“Lebih baik memberi daripada menerima”, ”Makin banyak memberi, kita akan makin berkelimpahan”. Kendati demikian, toh, tidak tiap orang mudah tersentuh hatinya untuk berbagi dan ‘melayani’ sesama. Wanita-wanita ini bisa memberi inspirasi bahwa memberi dan berbagi tidak perlu sulit-sulit, juga sangat menyenangkan.
 
Berbagi Lewat Talenta

Tidak dapat disangkal bahwa kehidupan saat ini sangat demanding. Segala sesuatunya berjalan serba cepat dan terus berubah. Sepertinya waktu 24 jam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan semua urusan. Ibaratnya, buat diri sendiri saja kewalahan, boro-boro punya waktu untuk memikirkan orang lain. Mungkin tidak sedikit diantara kita yang mengeluhkan, “Mengapa saya harus mengerahkan segala upaya untuk memberi kepada orang lain?”.
 
Tapi pemikiran itu berbeda dengan yang dilakukan desainer interior Yuni Jie. Di sela kegiatannya yang padat sebagai seorang desainer interior, bersama sahabatnya, Claudia Halim, Yuni mendirikan One Fine Sky. Sebuah platform bisnis sosial yang terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat, dengan cara membeli produk fashion

keluaran One Fine Sky dimulai dengan white shirt sederhana berlogo One Fine Sky. Kini selain kemeja putih, One Fine Sky juga memproduksi polo shirt dan topi. “Untuk tiap produk yang terjual akan dikonversi menjadi satu set seragam sekolah SD untuk didonasikan kepada anak-anak yang membutuhkan,” jelas Yuni.

Ide membangun One Fine Sky ini muncul menjelang Yuni berulang tahun ke-40. “Saya merasa berkecukupan, baik dalam hal karier maupun keluarga. Namun, saya masih merasa ada sesuatu yang kurang,” akunya. Ia merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang memberikan value bagi hidup orang lain, melalui talenta yang ia miliki.
 
Dari situlah ia kemudian menginisiasi proyek sosial yang menjadikan desain sebagai elemen utamanya. “Saya merasa desain merupakan hal terbaik yang dapat saya lakukan dan bagikan karena background saya adalah interior dan desainer produk,” katanya.
 
Pilihannya jatuh pada kemeja putih. Di mata Yuni, kemeja putih bersifat serbaguna dan universal. Semua orang membutuhkannya, dan secara fashion, bisa dipadupadankan, baik untuk acara kasual maupun formal.

One Fine Sky didirikan tepat pada hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017. Didukung oleh fotografer kenamaan Indra Leonardi, Yuni menggelar pameran foto yang memamerkan 16 tokoh mengenakan kemeja putih One Fine Sky hingga akhirnya merek ini dikenal khalayak luas dan kemeja putih berlogo awan itu menjadi fashion item yang dicari para fashionista.
 
November lalu mereka bahkan menggelar fashion show, bekerja sama dengan IPMI, melibatkan 36 perancang busana yang merancang berbagai busana warna putih. Usai peragaan dilanjutkan dengan silent auction dan seluruh potong baju terjual habis.
 
“Saya merasa belum banyak kegiatan sosial yang menjadikan desain sebagai core utamanya. Selain itu, saya juga merasa bahwa pendidikan itu, sama halnya seperti desain, demokratis dan harus dapat dijangkau oleh semua orang,” jelas Yuni.
 
Cerita lain datang dari Denica Flesch. Diawali dari niat untuk berbagi dan keinginan untuk berkontribusi mengangkat kemiskinan, Denica mulai melakukan sebuah aksi. Ia merasa, pekerjaannya sebagai ekonom tak memberikan dampak secara langsung pada masyarakat. Ketika melakukan riset dari desa ke desa, Denica menemukan tren yang menarik.
 
Orang lebih mudah mendapatkan penghasilan dari pekerjaan sederhana, seperti di minimarket, menjadi pramusaji atau tukang, ketimbang menjadi perajin kain. Jarang anak muda yang tertarik meneruskan bekerja sebagai perajin. Padahal, industri kerajinan adalah industri terbesar kedua yang membuka lapangan kerja.
 
Dari situlah Denica terpikir untuk memanfaatkan kerajinan sebagai alat untuk membantu pengentasan kemiskinan, sekaligus mempertahankan keberadaan industri kerajinan, dengan mendirikan SukkhaCitta sebagai sebuah social enterprise, untuk mengubah standar industri kerajinan tekstil. SukkhaCitta berfokus memperjuangkan perajin rumahan di pedesaan, terutama para wanitanya.
 
Denica juga menekankan bahwa sehelai kain yang diproduksi harus mampu memberikan upah yang layak, berkelanjutan secara lingkungan, dan pada saat yang sama mempertahankan tradisi.

Selanjutnya: Hidup yang Bermakna
 
 

 
Denica Flesch giat meningkatkan taraf hidup ibu-ibu perajin kain lewat SukkhaCitta/ Foto: Dok. pribadi

Hidup yang Bermakna
 
Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Shanti Mendera untuk berbagi. Wanita yang hanya memiliki satu lengan ini tak sungkan terjun ke daerah bencana alam di Lombok dan Palu sebagai relawan untuk mengajar yoga bagi para korban terdampak gempa.
 
Begitu mendengar kabar terjadinya bencana gempa di Lombok, Juli lalu, Shanti tak bisa tinggal diam. Terlebih lagi, Lombok adalah tempat asalnya. “Saya merasa tergerak. Ingin membantu dengan melakukan apa yang saya bisa. Karena saya tidak bisa memberi banyak dalam bentuk dana, saya bisa menyumbangkan keahlian saya,” tutur Shanti, yang sudah aktif beryoga sejak lima tahun lalu.
 
Menurut Shanti, yoga bisa membantu pemulihan trauma para korban. “Yoga tidak hanya untuk ketahanan fisik, tapi juga menguatkan mental dan pikiran,” jelas Shanti, yang pernah  mendalami ilmu yoga di Yoga Vidya Gurukul di Nashik, Maharashtra, India.

Selama hampir satu bulan Shanti berkeliling dari satu posko pengungsi ke posko lain di sekitar Lombok, mengajar yoga untuk anak, ibu hamil, orang dewasa, juga kaum manula. Hal yang sama ia lakukan juga di Palu, yang beberapa waktu lalu diguncang gempa dan tsunami. Meski tawarannya kurang begitu disambut warga setempat, Shanti tak lekas patah arang. Ia terus mengenalkan yoga.

“Mungkin karena waktu saya di sana cukup singkat, hanya seminggu. Selain itu, warga yang saya temui belum terlalu familiar dengan yoga. Yang lebih antusias justru para relawan di sana,” cerita Shanti, yang menikmati kegiatan sosialnya itu.

Bagi Shanti yang sehari-hari bekerja sebagai instruktur yoga di Jakarta, memberi dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain memberi efek sederhana, tapi sangat bermakna. “Membuat saya merasa lebih berguna sebagai manusia,” tuturnya jujur.
 
Bagi Yuni Jie, memberi tidak akan pernah membuatnya merasa kekurangan. Ia bahkan mendapatkan berlipat-lipat ganda dari apa yang ia beri. “Saya merasa bahwa hidup cuma sebentar dan apa yang kita berikan kepada orang lain menjadikan hidup kita lebih berarti. Tidak perlu muluk-muluk menyusun rencana besar. Berikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan talenta kita masing-masing,” sarannya.
 
Yuni percaya, apa yang ia lakukan barulah langkah kecil. Ia masih menyimpan mimpi, agar seluruh anak Indonesia dapat bersekolah dengan baik dan dengan percaya diri mengenakan seragam baru mereka untuk menggapai mimpi.
 
Apa yang dilakukan Denica juga memberikan dampak yang besar bagi komunitas binaannya. “Saya perhatikan, ketika kita memberdayakan wanita, kita memberdayakan komunitasnya juga. Khususnya di desa-desa, wanita biasanya menghabiskan 80 persen dari pengeluaran mereka untuk keluarga. Ketika ekonominya membaik, mereka bisa menyediakan makanan sehat dan bergizi untuk kelraga," katanya.
 
"Tidak hanya itu, mereka juga mulai bertanya kepada saya tentang cara terbaik memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, jenis buku apa yang dapat ia beli, dan sebagainya. Jadi, ada pemberdayaan baru yang tidak kami bayangkan sebelumnya,” ujar Denica.

Selanjutnya: Pilihan Hati
 
 

 
Shanti Mendera memanfaatkan ilmunya dalam yoga untuk berbagi dengan para korban bencana di daerah bencana alam./ Foto: Dok. Pribadi
 
Pilihan Hati

Tiap orang sebenarnya selalu punya sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain. Tidak harus berupa uang, tapi bisa juga waktu, cinta, maupun wisdom. Memberi bisa disebut juga sebagai kebutuhan dasar manusia.
 
Menurut psikolog Anisah Wheatly, memberi --entah itu materi, waktu, usaha-- akan membuat yang diberi merasa terbantu. Dengan demikian, ada kebahagiaan karena merasa ada orang yang ikut memperhatikan, ikut merasakan kesedihan dan keperihan mereka. Membuat mereka percaya bahwa ‘kemanusiaan’ itu masih hidup.
 
Begitu juga bagi yang memberi. “Melihat orang lain bahagia membuat mereka ikut bahagia. Dengan catatan, bila pemberian dilakukan dengan hati yang ikhlas dan penuh cinta. Perasaan bahagia yang terpelihara dengan baik akan membuat kualitas hidup di semua aspek akan membaik,” tuturnya.
 
Dalam hukum energi, Anisah percaya, sekecil apa pun energi yang Anda keluarkan, akan kembali pada Anda berkali lipat. “Jadi, bayangkan bila yang Anda keluarkan adalah kebahagiaan. Semesta bekerja dengan cara-cara yang misterius. Kita tak pernah tahu dia akan kembali dalam bentuk seperti apa, tapi yang pasti dia akan kembali.”

Keengganan memberi karena menunggu kaya dulu, dikatakan Anisah, seperti mengisyaratkan kepada semesta bahwa kita belum cukup. “Getaran tidak berkecukupan inilah yang ditangkap semesta dan inilah yang akan semesta berikan untuk kita, tidak akan pernah kita dicukupkan.”
 
Apakah bila memberi akan menjamin bahwa Anda akan menerima lebih? Tidak juga. “Bila ini mindset yang ada di pikiran dan hati, maka seolah-olah memaksa bahwa itulah yang akan terjadi. Tetapi, jika pada saat memberi Anda ikhlas, karena rasa cinta kepada sesama, rasa cinta kepada Ilahi, maka vibrasi yang Anda getarkan adalah bahwa Anda berkecukupan, walaupun dalam realitasnya tidak persis sama.”
 
Lebih lanjut, Anisah berpendapat, memberi tidak hanya membersihkan harta, karena apa pun yang mengalir akan kembali. Bila harta tidak dibersihkan, maka akan banyak energi yang mati, yang akan menghambat bertumbuhnya diri secara spiritual, bahkan menghambat memuainya hartamu. Start giving, seberapa pun harta, tenaga, dan usaha, pasti bisa kita sisihkan untuk diberikan kepada yang membutuhkan.”
 
Tentang siapa yang harus diberi? Berhati-hatilah memilih dan memilah siapa yang hendak dibantu. Saran Anisah, “Pilihlah dengan hatimu karena hatimu akan membawamu memilih dan memilah orang ataupun organisasi yang tepat yang patut dibantu.” (f)

Baca Juga:

Makna Beres-beres Jelang Imlek
Wings Wujudkan Kepedulian Terhadap Pendidikan Dengan Turut Membangun Gedung PAUD di Sumba Timur
Rina Trisnawati, Lewat Tintin Chips Berdayakan Ibu-Ibu Yang Memiliki Anak Disabilitas