
Foto: Freepik
Ketika pandemi COVID-19 bergulir, pemerintah di berbagai negara dan WHO menyarankan setiap orang yang berada di lingkungan yang terpapar COVID-19 untuk selalu menggunakan masker di ruang publik. Tujuannya tak lain untuk membantu mengurangi risiko penyebaran virus tersebut selama obat dan vaksin belum ditemukan.
Banyak orang yang sudah mengetahui keharusan memakai masker sebagai bagian dari protokol kesehatan 3M di era kenormalan baru. Survei yang dilakukan BPS tentang Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi COVID-19 menunjukkan fakta yang cukup menarik. Sekitar 91,8% responden mengakui efektivitas penggunaan masker untuk mencegah risiko penyebaran virus COVID-19. Namun, mengapa masih saja ada orang yang ‘ngeyel’ menolak mengenakan masker saat keluar rumah.
Lihat saja data jumlah pelanggaran penggunaan masker di Jakarta sejak pemberlakuan PSBB mulai 14 September 2020, yang mencapai 21.285 orang dengan total denda yang dihimpun mencapai Rp 233 juta.
Lantas apa yang membuat orang menolak dan enggan mengenakan masker? Survei BPS menjawab hal ini, dimana lebih dari setengah responden berpendapat bahwa tidak ada sanksi menjadi alasan masyarakat untuk tidak menerapkan protokol kesehatan, termasuk menggunakan masker. Selain itu, kurangnya kesadaran penerapan protokol di masyarakat juga menjadi alasan orang tidak menerapkan protokol kesehatan, termasuk memakai masker.
"Saya tida suka saja ketika memakai masker, karena harus menutup wajah saya ketika bertemu dengan orang lain. Rasanya kok aneh dan risih ya,” ungkap Rina, ibu rumah tangga, ketika ditanya mengapa ia enggan memakai masker.
Lain lagi dengan Yani, seorang mahasiswi, yang justru merasa kewajiban memakai masker sebagai perintah, sehingga ia merasa tidaknyaman saat mengenakannya. "Saya rasa saya benci saja kalau disuruh-suruh pakai masker,“ tutur Yani.
Tidak hanya di Indonesia, penolakan mengenakan masker selama pandemi COVID-19 juga terjadi di negara-negara lainnya. Amerika Serikat misalnya, negara dengan angka COVID-19 mencapai 8,8 juta kasus, tertinggi di dunia, penolakan penggunaan masker disampaikan dalam bentuk unjuk rasa.
Seperti dilansir dari Medical Daily, informasi yang keliru, alasan politik, kepercayaan dan ketakutan telah mendorong beberapa penduduk di AS untuk menolak menggunakan masker penutup wajah meskipun sudah direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
Baca Selanjutnya: Berbagai Faktor Pendorong Orang Menolak Masker


Foto: Freepik
Berbagai Faktor Pendorong Orang Menolak Masker
Selain faktor kenyamanan, ada berbagai alasan mengapa orang memilih untuk tidak mengenakan masker seperti alasan sakit, kondisi mental, politik, agama, perbedaan aturan dan herd imunity disebut-sebut menjadi alasan mengapa orang menolak menggunakan masker.
Psikolog Eboney Jackson menyebutkan bahwa penggunaan masker bisa saja berdampak buruk bagi sebagian orang yang sering mengalami kecemasan. “Karena mereka sulit bernafas saat memakai masker, dan melepas masker bisa membuat orang merasa ‘lebih tenang’, “ ungkap Jackson.
Namun, seorang profesor ilmu sosial dan perilaku di School of Global Public Health di New York University, Amerika Serikat (AS), David B. Abrams, menyebutkan munculnya banyak penolakan pada penggunaan masker bisa terjadi karena virus dan pandemi ini masih terasa sangat asing.
Menurut Abrams, seperti dikutip dari Huffington Post, manusia seperti primata lainnya yang memiliki naluri kuat untuk bertahan hidup, tanpa disadari akan melakukan stimulasi yang bisa saja menghapus pemikiran rasional ketika mendapatkan ancaman tiba-tiba dari ‘musuh’ yang tidak dikenal. Dalam hal ini, virus COVId-19.
Kondisi tersebut ditambah parah dengan simpang siurnya informasi seputar penggunaan masker sebagai bentuk perlindungan diri dari ancaman virus COVID-19. Informasi yang tidak konsisten dan ketidakpastian tentang penggunaan masker disebut Joseph J. Trunzo, profesor dan Ketua Departemen Psikologi di Universitas Bryant di Smithfield, Rhode Island, AS, sebagai pendorong orang menolak memakai masker.
Trunzo menjelaskan bahwa perilaku manusia, bahkan perilaku yang tampaknya sederhana, seperti mengenakan masker atau tidak - ditentukan oleh beberapa faktor, keyakinan politik, ideologi, faktor sosial, dan pendidikan. Ketidakpastian yang terjadi di masa pandemi ini mendorong orang untuk memegang kendali pada dirinya sendiri. ”Ketidakpastian melahirkan ketakutan, yang secara alami memicu kebutuhan akan kontrol," kata Trunzo.
Jika kondisi ketidakpastian dan kebingungan terus terjadi, Psikolog klinis yang juga profesor kesehatan masyarakat di The University of Alabama di Birmingham, Joshua Klapow menyebutkan hal ini dapat menimbulkan frustasi.
"Manusia tidak suka merasakan ketidaknyamanan, jadi pada tingkat dasar, itulah yang mendorong beberapa orang melewatkan atau tidak memakai masker,” ungkap Klapow.
Namun, lebih dari itu ketika aturan memakai masker berbeda di satu tempat dengan tempat lain. Ada negara yang mewajibkannya, namun ada pula yang menyerahkannya ke masing-masing orang. “Ketidakseragaman ini menciptakan sumber frustrasi lain," kata Klapow yang menekankan pentingnya konsekuensi atau sanksi yang lebih tegas ketika seseorang tidak menggunakan masker.
Kelompok remaja disebut sebagai kelompok yang paling rentan terhadap perilaku berisiko seperti pergi tanpa masker. Keinginan kelompok usia muda ini untuk memegang kendali pada apa yang meerka lakukan, disebut Jacqueline Gollan, Psikolog dan Profesor Ilmu Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Northwestern University Feinberg School of Medicine sebagai alasan yang mendorong mereka abai menggunakan masker.
Baca Selanjutnya: Perubahan Perilaku Butuh Waktu, Tidak Bisa Instant


Foto: Freepik
Perubahan Perilaku Butuh Waktu, Tidak Bisa Instant
Penerapan perilaku baru di masa pandemi seperti mewajibkan penggunaan masker memang membutuhkan waktu, tidak bisa terjadi secara instant. Namun, seiring waktu akan memaksa orang untuk menyesuaikan diri.
Walaupun masih ada orang yang ngeyel tak mau mengenakan masker, yang kini juga penting menjadi perhatian bersama adalah bagaimana menggunakan masker yang tepat dan seberapa efektif kelompok masyarakat ini melakukannya.
Satu studi observasi terhadap 12.000 orang di wilayah Sao Paulo, Brazil, menemukan bahwa sekitar 30% orang yang memakai masker tidak memakai masker dengan benar sehingga hidung atau mulut mereka tak terlindung, meskipun makalah tersebut masih akan diterbitkan dalam jurnal akademis.
Dalam hal ini, edukasi tentang penggunaan masker yang benar harus terus dilakukan. Satgas Penanganan COVID-19 dalam berbagai kesempatan mengedukasi masyarakat untuk melakukan perilaku 3M dengan tepat dan mengeluarkan berbagai panduan cara melakukannya.
Khusus untuk penggunaan masker, berikut panduan dari Tim Satgas Penangan COVID-19:
- Sebelum memasang masker, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir (minimal 20 detik) atau bila tidak tersedia, gunakan cairan pembersih tangan (minimal alkohol 60%).
- Pasang masker untuk menutupi mulut dan hidung dan pastikan tidak ada sela antara wajah dan masker.
- Hindari menyentuh masker saat digunakan; bila tersentuh, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir minimal 20 detik atau bila tidak ada, cairan pembersih tangan (minimal alkohol 60%)
- Ganti masker yang basah atau lembab dengan masker baru. Masker medis hanya boleh digunakan satu kali saja. Masker kain dapat digunakan berulang kali.
- Untuk membuka masker: lepaskan dari belakang. Jangan sentuh bagian depan masker; Untuk masker 1x pakai, buang segera di tempat sampah tertutup atau kantong plastik. Untuk masker kain, segera cuci dengan deterjen. Untuk memasang masker baru, ikuti poin pertama. (f)
Sambut Libur Panjang Pekan Depan, Masyarakat Diminta Kurangi Mobilitas
Infografis: Cara Tepat Pakai Masker
Pilihan Masker Terbaik untuk COVID-19