
Foto: Freepik
Pandemi telah membawa krisis kesehatan sekaligus ekonomi di dunia. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto di gelaran Indonesia Industry Outlook #IIO2021 Conference dengan tema: 2021: It's Time to Win-Back "Reimagine, Recover, Regain" yang diselenggarakan oleh Inventure secara daring mulai 4 hingga 6 November 2020, Indonesia dapat pulih dari krisis ekonomi dan kesehatan tersebut jika ada kolaborasi yang baik antara pemerintah dengan semua kalangan, termasuk entrepreneurs dan pelaku usaha.
Dengan semangat ini, Airlangga meyakini Indonesia akan bisa cepat keluar dari krisis pandemi. "Kita harus menggelorakan semangat persatuan dan kerjasama seluruh elemen bangsa dalam menangani pandemi COVID-19. Dengan perjuangan dan kerjasama yang kuat kita dapat melampaui pandemi secara bersama-sama," kata Airlangga.
Walaupun pandemi masih berlangsung dan vaksin belum benar-benar ditemukan, Airlangga melihat kondisi Indonesia saat ini sudah memasuki masa pemulihan dan momentum pemulihan ini akan terus berlangsung hingga tahun 2021. Keyakinan tersebut muncul dari berbagai indikator kinerja ekonomi nasional yang mulai membaik.
Di tahun 2020 Indonesia akan mencapai pertumbuhan berkisar -1,6% hingga 06% sehingga Indonesia akan berada di range pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari negara lain. Utilisasi sektor industri sudah membaik rata-rata di angka 55%. Di samping itu juga terjadi penurunan risiko investasi dimana nilai indeks saham membaik dan kapitalisasi pasar mulai pulih kembali.
Sementara itu, peningkatan aktivitas ekonomi terlihat dari mulai menggeliatnya industri manufaktur tercermin dari indeks PMI (Purchashing Manager Index) yang diharapkan berada di jalur di atas 50 (ekspansif). Sektor industri dasar dan aneka industri yang juga mengalami pemulihan dimana sektor-sektor tersebut naik 50% dibanding bulan Maret 2020.
Airlangga juga melihat bahwa upaya-upaya pemulihan ekonomi sudah menunjukkan tren yang positif sehingga berimbas pada bangkitnya sektor manufaktur. Bangkitnya industri pengolahan ini terlihat dari peningkatan impor bahan baku dan barang modal, dan neraca perdagangan di triwulan ketiga surplus menjadi $8 miliar. Sehingga di triwulan keempat diharapkan semuanya akan positif terutama daya beli masyarakat dan peningkatan investasi.
Perbaikan tak hanya di sektor riil, tapi juga di pasar modal dan sektor keuangan. Indeks harga saham Indonesia sudah mencapai 5159 dan kurs rupiah sudah mencapai Rp 14.585 per 3 November. Kinerja emiten juga 63% masih membukukan profit, dan sejalan dengan kondisi yang membaik, investment grade Indonesia berada di posisi BBB di bulan Agustus 2020 lalu.
Baca Selanjutnya: Dunia Keuangan di Tengah Pandemi

Foto: Freepik
Dunia Keuangan di Tengah Pandemi
Masih dalam ajang yang sama Indonesia Industry Outlook #IIO2021 Conference, di hari pertama, Rabu (4/11) hadir CEO dari berbagai industri yang membahas temuan menarik dari survei yang dilakukan Inventure tentang tren konsumen Indonesia di tahun 2021.
Salah satunya Haryati Lawidjaja, CEO LinkAja yang berbagi insight tentang digital payment, salah satu industri yang jsutru mengalami peningkatan pesat di kala pandemi ini.
Haryati menyebutkan data per November 2020, digital payment LinkAja sudah memiliki lebih dari 58 juta pengguna yang terdaftar dan sudah bisa digunakan di lebih dari 600 ribu local merchant dan lebih dari 280 ribu merchant nasional di seluruh Indonesia.
Menurut Haryati, tren penggunaan digital payment ini diperkirakan akan terus berlanjut setelah pandemi nanti. Namun, untuk bisa keluar bersama dari krisis ekonomi dan kesehatan di masa pandemi ini, Haryati mengingatkan akan pentingnya para pelaku usaha termasuk layanan digital payment untuk berkolaborasi dan tumbuh bersama agar bisa keluar dari situasi pandemi.
“Kami juga bersinergi dengan perbankan bahkan saling melengkapi. Dari kolaborasi ini melahirkan kesempatan yang tidak terbatas, semuanya tergantung kreatifitas dan inovasi yang dilakukan,”ujar Haryati yang baru menjabat CEO sejak April 2020 lalu.
Saat ini, selain bekerjasama dengan sekitar 1600 e-commerce, LinkAja sudah bisa digunakan di 134 moda transportasi dan bisa digunakan di lebih dari 500 pasar tradisional.
Berdasarkan riset konsumen yang dilakukan Inventure, pandemi telah mendorong tumbuhnya pembayaran secara cashless, cardless dan contactless. Sebesar 63,5% mengatakan setuju (menggunakan digital payment) sebagai pembayaran di masa pandemi.
Lantas bagaimana dengan sektor perbankan? Diperkirakan setelah pandemi, kehadiran digital branch menjadi sangat penting dan dibutuhkan oleh nasabah. Nasabah dapat melakukan transaksi perbankan secara digital, self service dan minim sentuhan.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Inventure sebanyak 68,5% responden dari 629 responden mengatakan setuju jika kantor cabang bank pada umumnya harus melakukan transformasi menjadi digital branch.
”Ke depan kantor cabang harus berubah mengikuti pergeseran preferensi konsumen ini. Kantor cabang akan ditata lebih cozy dan diarahkan untuk melayani high-value customers dengan layanan yang highly-customized," kata Yuswohady Managing Partner Inventure.
Menurut Haryanto T Budiman, Executive Chairman Ikatan Bankir Indonesia, dalam webinar bertajuk Towards Digital Banking, ke depannya kantor cabang akan tetap dibutuhkan oleh nasabah terutama untuk transaksi dalam jumlah besar. Namun bentuk kantor cabang akan berubah, bisa menjadi lebih kecil, ringkas dan efisien.
Transformasi digital, sekali lagi akan menjadi backbone berbagai industri ke depannya. Pandemi telah mengakselerasi penggunaan digital dalam berbagai ranah kehidupan. Maka, inventasi dalam hal digitalisasi adalah keharusan bagi industri yang ingin terus berkembang. (f)
Baca Juga:
Norma Sosial Jadi Alasan Orang Rendah Terapkan Disiplin Perilaku Jaga Jarak
Penyebaran Hoaks Meningkat Jelang Pilkada 2020, Wanita Punya Peran Menjadi Agen Literasi Digital
Hasil Testing Covid-19 pada 2,5 juta orang, 86% Terkonfirmasi Negatif