Foto: Shutterstock
 
Kira-kira satu tahun lalu, majalah Vogue sempat memasang model Gigi Hadid dan penyanyi Zayn Malik sebagai model sampul mereka. Dalam artikelnya, keduanya seolah digambarkan sebagai pengusung gender fluid karena tidak membedakan pilihan fashion mereka sebagai baju wanita dan baju pria.
 
Zayn dikatakan senang mengenakan baju Gigi, demikian juga sebaliknya. Tidak ada batasan soal motif, warna, dan model dalam fashion. Namun, ini dikritik oleh banyak orang, karena menurut mereka, gender fluid lebih dari sekadar wanita memakai baju pria dan pria memakai koleksi baju wanita.
 
Lalu, apa maksud gender fluid? Jika Anda berselancar di internet, akan terlihat beragamnya pendapat tentang arti gender fluid. Mari kita lihat dari sudut pandang mereka yang mendeklarasikan diri menganut gaya (style) gender fluid, seperti Jaden Smith (20), anak laki-laki dari aktor terkenal Will Smith, yang juga berprofesi sebagai aktor dan penyanyi. Ia mengatakan, ia tidak membedakan gaya wanita dan pria. Semua tergantung kenyamanan seseorang saja.
 
Sejak berusia 16 tahun ia mendeklarasikan dirinya sebagai gender fluid dengan menjadi model iklan koleksi busana wanita Louis Vuitton. Ia juga tak ragu mengenakan rok dalam acara publik, dan memproduksi busana yang ia bilang gender netral, MSFTS.
 
Baginya, baik wanita maupun pria sama bebasnya memakai motif bunga-bunga, menghias kuku, memakai sepatu hak tinggi, rok, celana panjang, berambut superpendek, dan lain-lain. Sesungguhnya, gaya gender fluid seperti yang ditunjukkan Jaden bukan hal baru. Musikus David Bowie dan Prince yang sangat terkenal pada tahun 1970 - 1990-an juga terkenal dengan gaya yang oleh masyarakat bisa dibilang tidak biasa.
 
Gender fluid bukan hanya soal fashion. Ada pesan yang ingin disampaikan di balik gaya yang fluid ini. Gender juga menyangkut peran dalam rumah tangga misalnya. Tak hanya Will dan Jada Pinkett Smith yang mendukung Jaden, beberapa orang tua di Hollywood, seperti penyanyi Pink, Megan Fox, dan Adele, mengaku berniat membesarkan anak-anak mereka dengan konsep ini.
 
Mereka tidak menanamkan bahwa anak perempuan harus bersikap begini dan berpakaian ini, dan anak laki-laki harus begitu dan berpakaian tertentu. Mereka bertekad membebaskan dan mendukung apa pun pilihan anak-anak mereka.
 
 


 
Menurut Lini Zurlia, aktivis queer dan feminis dari Arus Pelangi, gender fluid meliputi peran, ekspresi, dan identitas. Karena itu pengertian gender fluid yang masih awam bagi sebagian besar orang, terdengar sangat kompleks.
 
"Gender fluid gampangnya adalah seseorang bisa saja mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan pada satu waktu, tapi di waktu lain ia merasa tidak lagi cocok dengan identitas tersebut dan mengidentifikasi diri sebagai gender yang lain, atau benar-benar tidak peduli dengan segala kotak-kotak gender identitas dan role itu," ujar Lini.
 
Terminologi gender fluid digunakan para peneliti untuk melihat perkembangan terhadap individu yang tidak mau lagi pusing dengan pengkategorian sebagai wanita, pria, ataupun transgender.
 
“Menurut saya, gender fluid ini seperti pemikiran yang menolak batasan-batasan yang selama ini ada, misalnya batasan bagaimana seorang anak perempuan harus berperilaku. Misalnya, perempuan tidak boleh tertawa lebar,” ujar Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi., psikolog yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak.
 
Monty P. Satiadrama, psikolog dari Universitas Tarumanegara, melihat kemunculan gender fluid sebagai upaya untuk meruntuhkan batasan yang menimbulkan kesenjangan gender, meniadakan batasan aturan sosial, dan membebaskan diri dari kaidah konvensional.
 
“Paham tersebut banyak dianut oleh remaja dan dewasa awal yang relatif ingin memberontak terhadap kaidah sosial yang ada. Hal ini merupakan bentuk pemberontakan kaum muda terhadap kemapanan, selaras dengan kondisi gejolak perkembangan mereka dalam periode badai,” jelas Monty.
 
Lingkungan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh, terutama bagi para remaja yang masih bergulat dengan pencarian identitas diri. Apa yang menjadi tren di lingkungan pergaulan, atau apa yang dilakukan oleh idola mereka, akan memengaruhi pemikiran mereka juga. Kemerdekaan berekspresi menjadi bagian dari kebutuhan mereka dalam pencarian identitas diri. Hal ini pun ditemukan oleh Vera di banyak kasus yang ditemuinya.
 
Dalam konteks Indonesia yang sangat lekat dengan budaya patriarki, manusia yang dilahirkan sebagai pria atau wanita harus tumbuh dan berkembang sesuai dengan peran gender yang diharapkan masyarakat.
 
"Ketika seseorang tidak merasa cocok dengan ekspektasi tersebut, muncullah pemikiran, mengapa saya tidak bisa sekadar menjadi manusia saja. Mengapa saya harus menjadi pria dengan segala kewajibannya? mengapa saya harus menjadi wanita yang harus melaksanakan semua peran domestik? Itulah yang mendorong gender fluid," papar Lini.
 
Lini sendiri mengategorikan diri sebagai pribadi yang memberontak dari peran gender yang diharapkan orang tua, keyakinan, dan masyarakat. Meski, ia tetap mengidentifikasikan diri sebagai wanita. Mereka yang melawan pengotakan gender tersebut kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai gender fluid, bergantung pada keputusan individu.
 
“Saya pernah mendengar selintas tentang gender fluid, tapi saya tidak betul-betul paham apa maksudnya. Dalam pikiran saya, jika ini menyangkut mengingkari jenis kelamin yang sudah digariskan oleh Yang Mahakuasa, ini sesuatu yang salah. Dosa,” ujar Bima, ayah dari empat anak. Pendapat Bima ini juga menjadi pendapat mayoritas dari beberapa orang tua yang dimintai pendapat tentang gender fluid.
 
Pemikiran ini kemungkinan lahir dari pemikiran bahwa peran, identitas, dan ekspresi gender yang cair itu mencerminkan orientasi seksual seseorang. Padahal menurut Lini, tidak sesederhana itu.
 
Gender sangat berbeda dengan orientasi seksual atau ketertarikan, karena gender ini paras luar, maka ia mudah diidentifikasi. Berbeda dengan orientasi seksual, yang berada di hati individu yang paling dalam, dimana ia bisa tertarik dengan seseorang. Karena itu, gender fluid seseorang umumnya tidak memengaruhi orientasi seksual seseorang. Dan memang lazimnya begitu," jelasnya.
 
Kalau ada orang yang mengidentifikasi diri sebagai gender fluid, ia bukan pria bukan juga wanita atau transgenser, belum tentu secara ketertarikan mereka tertarik pada sesama atau yang berbeda. Gender itu belum bisa menggambarkan orientasi seksual seksual seseorang. (f)

Baca Juga:

Sajak Sri Mulyani: Puisi Menyayat Hati Untuk Korban Lion Air JT 610
Kasus Penculikan Anak di Tangerang Selatan Ternyata Hoax. Begini Cara Cek Berita Hoax.
Ini Cara Menebak Karakter Seseorang dari Tulisan Tangannya