
Foto: Shutterstock
Kerajaan monarki memiliki tradisi yang sudah terpatri selama usia keberadaan kerajaan tersebut. Dalam hal tata krama, kerajaan penuh dengan petatah-petitih yang harus diikuti, yang berlaku ketat untuk para anggota keluarga, juga protokoler yang melingkupinya.
Para keluarga kerajaan ini ibarat living legend, legenda raja ratu yang masih bisa kita temui hingga sekarang. Bagaimana mereka berjalan, makan-minum, hingga melambaikan tangan, sungguh tiada cela. Hasil dari sebuah tata krama tingkat tinggi. Beberapa keluarga kerajaan yang menarik untuk disimak antara lain Inggris, Swedia, Jepang, dan Bhutan.
INGGRIS
Kerajaan Inggris merupakan salah satu kerajaan paling besar, paling banyak terekspos media, dan karenanya paling populer. Lebih mudah mengulik seperti apa etiket kerajaan, sesederhana mengamati tindak-tanduk Kate Middleton lewat foto-fotonya, yang dengan mudah bisa kita ikuti tiap harinya. Beberapa etiket itu, misalnya:
1/ Duduk ala The Duchess Slant
Pernahkah Anda memerhatikan cara duduk anggota Kerajaan Inggris? Jika Anda perhatikan, baik Kate Middleton maupun Meghan Markle selalu duduk manis dengan posisi kedua kaki miring ke samping. Posisi duduk seperti ini disebut The Duchess Slant. The Duchess Slant adalah posisi duduk paling elegan ketika harus mempertahankan postur duduk dalam waktu yang lama. Dalam tata krama kerajaan, duduk menyilangkan kaki di atas lutut adalah sebuah ‘dosa’ besar bagi wanita. Kunci untuk melakukan teknik duduk seperti ini adalah dengan menegakkan bahu, pertahankan lutut hingga pergelangan kaki saling menempel, dan miringkan lutut ke samping. Tangan harus diletakkan di pangkuan, dengan satu tangan di atas tangan yang lain.
2/ Memegang Cangkir
Keluarga kerajaan menyukai acara minum teh. Dalam memegang cangkir, ternyata tidak sembarangan. Mereka menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang bagian atas gagang cangkir, sementara jari tengah menopang bagian bawah. Mereka juga hanya menyeruput dari tempat yang sama, sehingga noda lipstik tidak ke mana-mana. Lain lagi dengan acara minum kopi. Untuk memegang cangkir kopi, lingkarkan jari telunjuk melalui gagang cangkir.
3/ Tidak Berfoto Bareng dengan Orang Biasa
Tiap anggota kerajaan dilarang memberi tanda tangan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penipuan atau penyalahgunaan tanda tangan di kemudian hari. Namun, meskipun protokolnya mengatakan demikian, beberapa kali anggota kerajaan melanggarnya. Pangeran Charles, Pangeran William, Pangeran Harry, termasuk Meghan Markle, pernah memberikan tanda tangannya kepada fans. Jangan pernah juga meminta selfie dengan anggota keluarga kerajaan, sebab hal ini tidak diperkenankan. Seluruh aktivitas berfoto yang diperkenankan hanyalah foto resmi yang ditangani oleh tim kerajaan.
4/ Bersentuhan dengan Orang Biasa
Menyentuh punggung Ratu dengan gaya sok akrab jelas melanggar protokol. Bahkan untuk seorang kepala negara sekalipun, seperti Donald Trump. Dalam kunjungannya ke Inggris, saat masih menjadi ibu negara, Michelle Obama juga tanpa sengaja menyentuhkan lengannya ke punggung Ratu, seperti ingin memeluk Ratu. Tak berapa lama ia baru tersadar bahwa apa yang dilakukannya tidak diperbolehkan dalam protokol kerajaan. Dalam kondisi canggung itu, Ratu Elizabeth II membiarkannya, bahkan membalas pelukannya. Adegan itu diingat oleh publik Inggris sebagai adegan yang bersejarah. Dalam aturan kerajaan, Ratu dan keluarga kerajaan memang tidak diperkenankan berdekatan dengan orang lain di luar kerajaan, bahkan untuk berjabat tangan sekalipun. Tentang adegan berpelukan ini, beberapa kali juga dilanggar oleh anggota kerajaan. Ada beberapa momen yang mereka tak kuasa untuk tidak memberikan pelukan, sebagai bagian dari ungkapan kasih sayang yang spontan. Pangeran William misalnya, pernah memeluk fans kecilnya di Ullswater tahun 2009. Hal yang juga masih menjadi ‘perjuangan’ bagi Meghan, karena ia terbiasa berpelukan jika bertemu teman-temannya.
Baca Selanjutnya: JEPANG

Foto: Shutterstock
JEPANG
Keluarga Kekaisaran Jepang adalah monarki herediter tertua di dunia. Garis silsilah keluarga ini berasal dari abad ke-6 sebelum Masehi. April lalu, Jepang mempunyai kaisar baru setelah Kaisar Akihito berkuasa lebih dari 30 tahun. Penerusnya adalah Putra Mahkota Naruhito, yang resmi menjadi kaisar ke-126 Jepang.
1/ Wanita Tak Bisa Menjadi Pemimpin
Di keluarga kekaisaran Jepang, wanita tak pernah bisa jadi pemimpin. Padahal, sebelum restorasi Meiji tahun 1889, ada 8 ratu yang mewarisi takhta dari ayah mereka, yang disebut Tenno. Namun, setelah restorasi Meiji, aturan suksesi diperketat dan konstitusi tahun 1949 membuat definisi ulang siapa yang memenuhi syarat untuk posisi itu lebih jauh. Bahkan, putri kaisar yang menikah dengan rakyat biasa akan kehilangan haknya sebagai bagian dari kerajaan. Berbeda dengan pangeran yang tetap mempertahankan gelar kerajaan, meski menikah dengan wanita biasa.
2/ Wanita Berjalan Dua Langkah di Belakang Pria
Dalam aturan Kekaisaran Jepang, wanita diharuskan berjalan dua langkah di belakang pria. Namun demikian, jangan sampai langkahnya menginjak bayangan kaisar. Hal ini juga berlaku untuk permaisuri dan para putri. Biasanya, mereka turun dari mobil terlebih dahulu, mereka berdiri di samping dan menunggu suami mereka turun. Dalam acara publik, wanita kerajaan tidak berbicara lebih banyak daripada para prianya, dalam hal ini raja dan pangeran.
3/ Anak-Anak Kerajaan Dipisahkan dari Orang Tua
Saat anak-anak kerajaan menginjak usia tiga tahun, mereka dirawat oleh pengasuh dengan pendampingan dokter, perawat, dan guru privat. Sejak kecil, anak-anak diajari etiket. Mulai dari cara menggunakan sendok, pisau, dan sumpit, cara berbicara, melambaikan tangan, pendidikan moral, dan pendidikan khusus tentang kekaisaran. Namun demikian, sewaktu kecil, Kaisar Naruhito dirawat langsung oleh ibundanya, Ratu Michiko. Ratu bahkan membuatkan sendiri bekal makan siang untuk dibawa Naruhito ke sekolah.
4/ Tak Punya Harta Pribadi
Keluarga kerajaan tidak boleh memiliki kekayaan pribadi. Mereka tidak memerlukan uang tunai untuk berbelanja sehari-hari, sebab semua sudah diatur dan ditanggung oleh Imperial Household Agency (IHA). Seluruh rumah dan perabotnya adalah milik negara. Mereka juga tidak perlu menjawab telepon. Tiap tamu yang diundang ke istana harus mendapat persetujuan dari IHA dan dijadwalkan beberapa minggu sebelumnya.
Baca Selanjutnya: SWEDIA

Foto: Shutterstock.com
SWEDIA
Kerajaan Swedia telah ada sejak seribu tahun lalu dan hingga kini berjumlah sebelas dinasti yang turun-temurun mewarisi takhta. Swedia juga menjadi negara monarki pertama yang mengubah ketentuan tentang penerus takhta: anak sulung dari raja adalah ahli waris takhta, tanpa memandang jenis kelamin. Raja Carl XVI Gustaf adalah raja ketujuh dalam dinasti Bernadotte, memiliki anak sulung seorang wanita, Putri Victoria. Maka, Putri Victoria yang kelak akan mewarisi takhtanya sebagai Ratu Swedia. Sayangnya, keberadaan keluarga kerajaan tidak terlalu menjadi perhatian publik Swedia, sebagaimana Kerajaan Inggris. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, berkaitan dengan aturan kerajaan.
1/ Raja Tak Punya Kekuatan Politik
Keluarga kerajaan tidak memiliki pengaruh secara politik. Raja bahkan tidak memiliki hak suara dalam pemilu. Sebagai kepala negara, raja adalah simbol pemersatu Swedia. Menurut konstitusi tahun 1974, raja tidak boleh memiliki kedekatan politis dengan pihak mana pun dan dirinya tidak memiliki kekuatan formal. Tugas raja yang utama bersifat seremonial dan representatif.
2/ Tiara, Dulu dan Kini
Jika di pernikahan Meghan Markle kita menyaksikan parade topi para bangsawan dan sosialita Inggris, di pernikahan Putri Victoria, tahun 2010, tampak parade tiara yang dikenakan oleh para bangsawan. Ratu Silvia mengenakan tiara andalannya, Braganza Tiara. Adik Victoria, Madeleine, mengenakan Connaught Diamond Tiara untuk pertama kalinya. Begitu juga para bangsawan lainnya, saling berlomba memamerkan tiara bertabur permata. Pemasangan tiara kemudian mengalami perubahan, seiring pergeseran tren mode. Sekarang, tiara dipakai di atas kepala dengan sudut 45 derajat, lebih ke arah dalam kepala, dibandingkan aturan dulu.
3/ Royal Curtsies adalah Kewajiban
Hampir sama seperti Inggris, tiap bertemu keluarga kerajaan, diharuskan untuk memberikan penghormatan atau royal curtsies. Bagi wanita, royal curtsies cukup dengan meletakkan satu kaki di belakang yang lain, tekuk lutut (tidak perlu sampai ke lantai), dan tundukkan kepala sedikit. Untuk prianya, memberi hormat dengan cara menundukkan kepala. Jika raja berdiri, itu artinya semua orang juga harus berdiri mengikuti raja. Begitu juga untuk table manner saat makan malam bersama raja. Kalau raja sudah selesai makan, maka tak seorang pun boleh melanjutkan makan.
4/ Tak Boleh Meninggalkan Negara
Berdasarkan aturan Act of Succession Kerajaan Swedia, anak-anak kerajaan tak boleh meninggalkan negara, dimulai dari usia mereka 6 tahun. Jika ada anggota kerajaan melanggar aturan ini, anak-anak mereka akan kehilangan gelar pangeran dan putri. Masalah ini yang sedang dihadapi oleh Putri Madeleine, yang pada Agustus 2018 pindah ke Florida, Amerika Serikat, bersama ketiga putra-putrinya: Pangeran Nicolas (4), Putri Leonore (2), dan Putri Adrienne (1). Jika Putri Madeleine tetap menginginkan anaknya memiliki gelar sebagai pangeran dan putri, maka dalam waktu kurang dari dua tahun mereka harus kembali dan tinggal di Swedia.
5/ Tak Harus Mahal
Tidak semua yang dikenakan keluarga kerajaan merupakan busana mahal dan baru. Putri Victoria berani tampil dalam balutan baju yang harganya ‘hanya’ 99 dolar AS (atau sekitar Rp1,3 juta). Gaun dari koleksi ASOS itu tentu sangat murah untuk ukuran putri kerajaan. Putri Victoria juga pernah mengenakan busana milik ibundanya, gaun yang sudah berusia 23 tahun, dan ia tampil memesona. Dari segi mode, Swedia tidak bisa diremehkan. Swedia juga memiliki beberapa merek fashion ternama yang mendunia, salah satunya H&M.
Baca Selanjutnya: BHUTAN

Foto: Shutterstock.com
BHUTAN
Kerajaan Bhutan dipimpin oleh raja dan ratu yang usianya masih cukup muda, yakni King Jigme Khesar Namgyel Wangchuck (39) dan istrinya, Jetsun Pema (29). Mereka dikaruniai seorang anak, Pangeran Jigme (3). Jika berkunjung ke The Land of the Thunder Dragon ini, ada banyak petatah-petitih yang perlu diketahui, yang dikenal sebagai driglam namzha, atau kode etik Bhutan. Antara lain:
1/ Memberi Hormat kepada Raja
Cara memberi hormat kepada raja bukan dengan berjabat tangan, melainkan dengan membungkukkan badan dan menekuk punggung dalam-dalam, posisi tangan ke bawah. Hal ini juga berlaku untuk menyalami orang yang dihormati. Untuk rakyat biasa, cara mereka menyapa ke sesamanya adalah dengan berjabat tangan menggunakan kedua tangan untuk prianya, sementara untuk wanitanya cukup dengan menepuk bahu orang yang disapanya.
2/ Dilarang Mengenakan Celana Pendek
Keluarga Kerajaan Bhutan tidak boleh mengenakan celana pendek, atasan halter, dan tank top. Aturan ini berlaku untuk pria dan wanitanya. Para prianya mengenakan pakaian tradisional Bhutan, yakni gho atau jubah selutut yang diikat sedemikian rupa dengan ikat pinggang hingga membentuk seperti saku di bagian perut. Para wanitanya mengenakan gaun panjang sampai pergelangan kaki, yang disebut kira atau wonju, dan jaket sutra pendek serupa kimono yang disebut toego. Dalam tiap kesempatan, Ratu Jetsun Pema selalu terlihat mengenakan busana kira.
3/ Tak Boleh Ada Suara Mengunyah
Dalam acara jamuan makan, selalu dimulai dengan berdoa. Tidak memulai makan sebelum raja atau orang yang dihormati makan terlebih dahulu. Saat makan, tidak boleh ada suara mengunyah makanan. Makanan yang diambil juga harus selalu dalam jumlah yang tepat, tidak boleh sampai bersisa. Selain itu, kita tidak boleh menampakkan ekspresi wajah terhadap makanan yang disajikan, baik sesuai selera maupun tidak.
4/ Berjalan Tanpa Suara
Anggota keluarga kerajaan harus berjalan di sebelah kiri belakang raja. Cara berjalannya pun tanpa membuat suara. Berjalan tergesa-gesa, setengah berlari, membuat suara langkah kaki keras, mengambil langkah kaki besar, memegang tangan di pinggul, berpegangan tangan, meletakkan tangan di belakang sambil berjalan, adalah hal yang dianggap tidak sopan di dalam aturan keluarga Kerajaan Bhutan.
5/ Tidak Menyilangkan Kaki dan Bersandar ke Dinding
Posisi duduk yang tepat bagi keluarga kerajaan adalah dengan menjaga postur tubuh. Tidak menyilangkan kaki atau bersandar ke dinding. Perilaku semacam ini dianggap tidak sopan. Jika duduk di tanah, harus duduk dengan kaki bersilang di lantai dengan tangan terlipat di depan. (f)
Baca Juga:
Anak Laki-laki Meghan Markle dan Pangeran Harry Sudah Lahir
Menurut Aturan, Anak Harry – Meghan Kelak Tidak Bisa Bergelar Pangeran Atau Putri. Mengapa?
Kemewahan Royal Tiara Kerajaan Inggris. Yang Dikenakan Kate Middleton, Meghan Markle, Hingga Yang Membuat Mendiang Putri Diana Sakit Kepala