Foto: NORAJika ingin usaha terus berkembang dan membesar, mencari peluang bisnis dan pasar yang lebih luas perlu selalu dilakukan. Selain pasar lokal, pebisnis mana yang tidak tertarik untuk menjajal pasar ekspor?
Dalam salah satu master class Indonesian Women's Series 2019, bertajuk Wanwir Series: Are You Ready to Export? dua wanita wirausaha telah sukses memperluas area bisnisnya hingga berbagai negara di dunia, Tissa Aunilla dari Pipiltin Cocoa dan Margareta Astaman dari Java Fresh berbagi pengalaman tentang seluk beluk melakukan ekspor.
Dalam sesi yang dimoderasi oleh Elvera N.Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Tissa bercerita, awal yang mendorongnya untuk menggeluti usaha cokelat. "Indonesia adalah salah tiga dari negara pengekspor cokelat terbesar di dunia, namun jika ditanya soal cokelat yang lezat berasal dari mana, orang akan menjawab dari Belgia maupun Swiss," ujar Tissa.
Berangkat dari keprihatinannya saat kuliah hukum S2 di Swiss dan melihat sendiri cokelat dari Indonesia dijual serta dipamerkan disana membuat Ibu Tissa ingin berbisnis coklat batangan yang mampu mendapat pengakuan internasional. Ia ingin membuat cokelat Indonesia juga bisa dikenal sebagai produk lokal berkualitas seperti kopi Indonesia yang sudah terkenal di dunia internasional
Hal ini memacu dirinya untuk belajar tentang jenis-jenis cokelat hingga tahu tentang cara dan teknik membuat cokelat selama kuliah di Swiss.
Sementara Margareta bersama kedua partnernya yang lain memulai Java Fresh karena ingin mengubah mindset orang-orang soal buah yang selalu diimpor dari Tiongkok. Padahal mereka tahu buah Indonesia memiliki potensi yang besar jika dilakukan dengan serius.
Tissa Aunilla pemilik Pipilitin Cocoa./ Foto: NORA
Tantangan selama Menjalani Bisnis Ekspor
Kini Pipiltin Cocoa telah dipasarkan di sejumlah kafe ternama dan hotel bintang lima selain di Chocolate Boutique Pipiltin Cocoa. Selain itu Pipiltin Cocoa juga menjual secara online dan sering kali pesanan dari negara luar seperti Singapura, Hongkong dan Prancis. Sementara Java Fresh menuju 5 tahun bisnisnya, telah menghasilkan omset 30 M dengan 200 karyawan dan telah bekerja sama dengan 3.000 petani dari berbagai pulau di Indonesia untuk dikirimkan ke 16 negara.
Berdasarkan pengalaman Tissa dan Margareta, berikut beberapa tantangan yang harus siap dihadapi dalam melakukan ekspor:
● Partner
Berdasarkan pengalaman Tissa, memiliki parter di negara tujuan ekspor akan sangat membantu. Ia pun bercerita pengalamannya berpartner dengan pihak asal Jepang yang kebetulan sedang mencari suatu komoditas untuk dijajaki. Bekerja sama dengan partner dari Jepang ada beberapa halangan yang cukup memakan waktu, seperti harus mengikuti prosedur negara tujuan ekspor.
Lain halnya dengan pengalaman Margareta, dimana beliau melalui proses pencarian partner yang terbilang mudah karena tidak perlu melewati proses pengiriman sampel dan lain-lain, tapi semuanya bisa dilakukan dengan online lewat e-mail ataupun riset di forum-forum bisnis terkait.
● Komunikasi dengan Para Petani Komoditas
Dari pelaku wirausaha dengan petani terkadang bisa saja terjadi perbedaan pendapat dan visi juga misinterpretasi. Misal saja soal gaya menanam.
Oleh karena itu merupakan hal yang penting untuk terus melakukaan pembinaan pada petani menurut Margareta.
● Kualitas Produk
Margareta bercerita bahwa saat memulai pengiriman buah ke berbagai negara dengan situasi iklim yang berbeda dari Indonesia seperti Prancis, masalah ketahanan buah sempat menjadi masalah karena saat buah sampai ke tempat tujuan, buah sudah dalam kondisi busuk, namun kemudian belajar dari kesalahan, Margareta segera memperbaiki proses pengiriman buah yang ideal agar sampai ke tempat tujuan masih dalam kondisi segar.
● Regulasi dan Lisensi Eksportir
Saat menargetkan untuk menjual ke pasar luar, Margareta sudah melakukan riset mengenai beberapa calon negara tujuan ekspor. Dan beliau menemukan bahwa ternyata tiap negara mempunyai prosedurnya tersendiri.
Terkait regulasi dan lisensi, informasi dan pengurusannya sudah banyak dibantu oleh pemerintahan. Diana Dewi, Ketua Kadin DKI Jakarta, yang hadir dalam acara mengatakan KADIN siap mendukung dan memfasilitasi wirausahawan yang ingin melakukan ekspor. "Saya senang semakin banyak wirausahawan yang ingin memperluas area bisnisnya hingga ke pasar luar," ujarnya.
Bagi para wirausahawan yang sebelumnya masih ragu, Diana Dewi mengungkapkan bahwa KADIN siap membantu regulasi dan legalitas bisnis lokal ke pasar internasional yang sekaligus juga menunjukkan dukungan pemerintah terhadap bisnis lokal. Ia juga memberi informasi bahwa proses pengurusan bisnis ke pasar luar tidaklah sesulit impor karena pemerintah sendiri sangat mendukung dan mempermudah bahkan siap mendampingi bisnis wirausahawan Indonesia supaya siap ekspor.
Bagaimana dengan modal? Beberapa Bank di Indonesia sudah ada yang memberikan mentoring hingga permodalan untuk bisnis, salah satunya Citi Bank. Sejumlah bank juga mempunyai program pembinaan untuk bisnis. Hal ini ikut menunjukkan bahwa ada banyak pihak yang mendukung pertumbuhan bisnis kewirausahaan di Indonesia. (f)
Jessica Thennia (Kontributor)
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga:
Membebaskan Kekuatan Tanpa Batas
Memulai Investasi Demi Masa Depan
Pola Asuh Untuk Maksimalkan Potensi dan Kecerdasan Generasi Alpha