Foto: 123RF
 
Akhir tahun lalu, cerita Farhana –siswi Indonesia yang sekolah di Palermo, Italia-- tentang pengalamannya menjadi minoritas (ia seorang muslim), tinggal di rumah keluarga Katolik selama satu tahun, telah menginspirasi banyak orang, hingga menjadi viral di jejaring sosial, Line.
 
Farhana menulis, “Kaum mayoritas sering kali beranggapan bahwa suatu atribut darinya adalah sesuatu yang umum, lalu ‘yang minoritas bisa menyesuaikan’. Mungkin Anda belum pernah merasakan jika situasinya dibalik, mungkin juga Anda tidak peduli.”
 
Pengalaman menjadi minoritas juga dirasakan oleh tiga sahabat femina berikut ini.


Foto: Dok. Pribadi
 
Cemas Berada di Lingkungan Baru
Annisa Larasati (27), Guru & Penerjemah Mandarin, Jakarta
Memiliki ayah diplomat, bukan hal aneh jika saya harus berpindah-pindah
negara sejak masih TK. Namun, momen terberat adalah ketika pindah ke Beijing, Cina, saat saya masih berusia 8 tahun.
 
Di sana, saya sekolah di sekolah internasional yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar. Masalahnya, saya tidak bisa bahasa Mandarin sama sekali dan menjadi satu-satunya murid yang berasal dari Indonesia.
 
Saya seperti orang bisu di sekolah, tidak banyak bicara bahkan cenderung tidak punya teman. Beberapa kali saya mendapatkan perlakuan tidak enak dari teman-teman satu kelas.
 
Salah satunya, saya dipanggil ‘Shagua’. Awalnya saya tidak tahu apa makna kata tersebut. Sampai saya cerita kepada guru les bahasa Cina dan dia marah. “Itu artinya bodoh! Ada yang ngatain kamu itu? Itu kasar!” katanya.
 
Peristiwa tidak mengenakkan juga pernah saya alami saat SMP di Beijing. Beberapa guru menjauhi saya karena saya muslim. Pasalnya, waktu itu sedang ramai kasus serangan teroris 9/11 di Amerika Serikat.
 
Ketika saya sedang makan di kantin, ada guru yang berkata, “Eh, si muslim datang, tuh, ayo kita pergi.” Karena peristiwa ini, saya jadi sering nangis dan takut ke sekolah.
 
Jujur saja, menjadi minoritas saat bersekolah membuat saya merasa tidak percaya diri dan selalu cemas ketika harus pindah ke lingkungan baru.
 
Tapi, pengalaman tersebut mengingatkan saya, tiap kali bertemu dengan teman yang berbeda, mendorong nurani saya untuk mendekat dan berteman dengan mereka.
 
 



Foto: Dok. Pribadi

“Bukan berarti kamu berbeda, maka kamu tidak baik.”
Aditya Widya Putri (25), Jurnalis, Jakarta

Ketika berusia 15 tahun, saya pindah dari Jakarta ke Solo. Terbiasa berbicara dengan bahasa Indonesia, saya menjadi bahan olokan teman di sekolah. Terlebih lagi karena saya tidak bisa bahasa Jawa, mereka menganggap saya sombong.
 
Paling mengesalkan adalah saat pelajaran bahasa Jawa di kelas. Saya kerap ditertawakan karena pelafalan bahasanya sering salah. Saya juga sering dikerjai teman teman untuk mengucapkan kata dalam bahasa Jawa, yang ternyata maknanya ‘jorok’.
 
Tidak hanya dengan teman, seorang guru juga pernah menegur saya karena ia menganggap cara bicara saya tidak sopan. Padahal, itu hanya masalah kebiasaan
dengan intonasi berbahasa Indonesia ketika tinggal di Jakarta yang cenderung tinggi, sementara intonasi di Jawa itu halus.
 
Meski begitu, saya berusaha untuk membaur dengan banyak berorganisasi di sekolah, agar bisa dekat dengan teman-teman.
 
Saya tidak berusaha memaksakan mereka untuk memahami gaya bicara saya. Saya perlahan-lahan belajar aksara Jawa hingga akhirnya mampu berbahasa Jawa.
 
Berada di posisi sebagai minoritas, saya harus pintar pintar upgrade diri, agar mereka membutuhkan saya sehingga mereka mengacuhkan fakta bahwa saya adalah seorang minoritas.
 
Tapi, dari pengalaman menjadi minoritas saya belajar bahwa bukan berarti kamu berbeda, maka kamu tidak baik. Kita harus saling menghormati, tidak peduli suku, ras atau agama.
 
 
 

Foto: Dok. Pribadi
"Ternyata Kekhawatiran Saya Tidak Berdasar!"
Laksmi Larastiti (27), Peneliti Perikanan, Bali

Fenomena Islamophobia yang banyak dibicarakan di media, sempat membuat saya khawatir ketika akan melanjutkan kuliah ke Wageningen, Belanda, pada tahun 2012. Terlebih, saya satu-satunya orang Indonesia di jurusan yang saya ambil, dan berhijab pula. Namun, kekhawatiran tersebut tak terbukti!
 
Justru, karena berbeda, saya kerap mendapatkan perlakuan istimewa, dalam arti positif, ya. Ketika saya makan di restoran misalnya, pelayan dan pengunjung restoran tersebut akan menginformasikan, jika makanannya mengandung babi atau rhum.
 
Sebenarnya, pengalaman tersebut tidak berbeda jauh ketika saya tinggal di Assilulu, desa terpencil di Maluku. Awalnya, saya sempat takut karena menilai karakter orang Indonesia timur cenderung kasar. Tapi, warga setempat memperlakukan saya dengan baik. Di sini lah saya belajar toleransi, berusaha menerima budaya masyarakat lokal.
 
Sebagai minoritas, saya berusaha berbaur dengan masyarakat sekitar dan mempelajari bahasa lokal, agar tidak ada jurang antara kaum pendatang dan penduduk asli.
 
Ketika ada orang yang penasaran dengan agama, suku, atau ras saya, akan saya jawab dengan cara yang mudah dimengerti. Karena saya percaya, komunikasi adalah kunci utama.
 
Tinggal di lingkungan yang baru dan menjadi minoritas adalah kesempatan yang tepat untuk belajar menghargai. (f)