Foto: Adelli Arifin dan Shinta Meliza
 
Berbusana serba batik dan kebaya, peserta Nonton Bareng Film Kartini bersama Femina & AXA Mandiri memenuhi studio Starium,  CGV Grand Indonesia pada Sabtu, (22/4) lalu. Film biopik tentang pahlawan emansipasi wanita besutan sutradara Hanung Bramantyo berdurasi dua jam ini mendapat apresiasi yang baik dari penonton. Tepuk tangan riuh kembali terdengar saat Dian Sastrowardoyo, pemeran sosok Kartini, hadir menyapa peserta. "Terima kasih sudah menyempatkan waktu menonton Kartini. Semoga film ini bisa menularkan semangat-semangat positif bagi kita semua," kata Dian.

Ia mengaku sempat terbebani saat mendapat kepercayaan untuk memerankan tokoh besar ini. "Salah memainkan peran ini, bisa bahaya. Agar total mendalami peran, saya melakukan riset, membaca surat-surat dan buku harian Kartini dan buku-buku sejarah,” tutur Dian. Setelah mendalami karakter Kartini, ternyata Dian mendapati justru sifat Kartini yang suka memberontak telah membantunya mendobrak kekang yang membatasi geraknya di masa itu.

 
Semangat dan inspirasi Kartini masih hadir hingga acara selanjutnya, Meet & Greet Bintang Kartini di restoran Marche. Selain Dian Sastrowardoyo, Director In Branch Channel AXA Mandiri, Tisye Diah Retnojati, serta 4 dari 6 wanita inspiratif pilihan femina, hadir dan berbagi kisah perjuangan mereka baik sebagai aktivis sosial maupun wirausaha sosial. (Baca profil Tisye Diah Retnojati, Sukses Melesatkan Karier Dari Posisi Customer Service Officer ke Jajaran Direksi)
 
Baca inspirasi dari mereka di laman selanjutnya.
 
 


 
Virus Kebaikan dari Kartini Modern
Pemikiran Kartini telah menginspirasi wanita modern untuk lebih berdaya, tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Serupa dengan apa yang diperjuangkan Kartini dulu. Empat dari enam wanita inspiratif pilihan femina menceritakan perjuangan dan tantangan mereka dalam menghayati dan menghidupkan semangat Kartini.
 
Ada Nury Sybli yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan anak-anak Baduy baca tulis dan berhitung. "Tantangan terberat saya adalah saat berhadapan dengan adat di Baduy Dalam yang tidak memperbolehkan warga untuk bersentuhan dengan dunia luar. Sulit untuk mengajak warga mau belajar agar mereka tidak dibodoh-bodohi oleh orang jahat yang ingin memanfaatkan kepolosan mereka," tutur Nury.
 
Pendidikan memang masih menjadi senjata utama untuk memutus rantai kemiskinan. Heni Sri Sundani, penggagas program edukasi untuk anak petani, Anak Petani Cerdas, menceritakan pengalamannya meraih pendidikan. “Saya datang dari keluarga tidak mampu dengan ibu yang tidak mencicipi sekolah, tapi saya justru ingin sekali sekolah tinggi. Akhirnya, saya bekerja jadi babysitter di Hong Kong sambil sekolah, dan kini saya bisa lepas dari kemiskinan," ia berkisah sambil berlinang air mata mengingat jatuh bangun hidupnya.
 
Beda halnya dengan Anne Sri Arti, wirausaha sosial pemilik Makmur Agro Satwa yang memberdayakan peternak dan petani lokal mengaku penting untuk menjadikan mereka 'raja' di tanah mereka sendiri.
 
"Hasil tani dan ternak kita kaya, tapi kehidupan ekonomi para petani dan peternak ini justru membuat hati miris. Saya berharap dengan bekerja sama dengan mereka dan menjadi jembatan antara pemasok dan pengguna, bisa meningkatkan kualitas hidup mereka,” ujar Anne yang  berharap usahanya dapat menciptakan ekosistem baru menuju daerah dengan kedaulatan pangan.
 
Lusia Kiroyan justru melihat potensi pada para napi di lapas-lapas yang sering diabaikan. Muncullah gagasan Cinderella from Indonesia untuk memberdayakan para napi membuat boneka Barbie yang mengenakan batik untuk dikirimkan ke anak-anak penderita kanker.
 
"Sebenarnya para napi punya kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Hanya saja kadang mereka tidak dapat kesempatan. Lewat kegiatan membuat boneka Barbie Girl, bisa memberikan semangat baru bagi mereka untuk hidup yang lebih baik ketika mereka keluar penjara," tegas Lusia.
 
Sementara Tisye Diah Retnojati, Director In Branch Channel AXA Mandiri yang sebelumnya mendalami dunia perbankan dan kini mencapai puncak karier di dunia asuransi menuturkan tantangan yang ia temukan sebagai pemimpin wanita.
 
"Sebenarnya pemimpin wanita tidak jauh berbeda dengan para pemimpin pria. Wanita memang lebih pintar dalam manajemen waktu dan emosi. Terlebih kita tidak hanya mengurus pekerjaan di kantor, tapi ada keluarga di rumah yang perlu diperhatikan, sehingga membutuhkan energi ekstra. Itulah kehebatan kita sebagai wanita," tuturnya bangga.
 
Perjuangan Kartini memang telah menjadi pendorong para wanita modern agar bisa hidup bebas menyuarakan pendapat dan terus menyebarkan hal-hal positif di lingkungannya. (f)

Simak laporan femina dari Perayaan Hari Kartini 2017 lainnya di topik #SuaraAndaBerharga dan #Kartini