Foto: unsplashMenonton film bisa dibilang salah satu hiburan yang paling banyak disukai orang. Entah itu nonton di bioskop atau telepon genggam. Lebih dari sekadar hiburan, sebuah film menyangkut banyak hal mulai dari seni, sosial, bisnis, hingga politik. Menurut psikolog Elvi Fianita beberapa film memiliki efek terapi yang bagus untuk kesehatan mental.
Seperti apa film yang dapat memiliki efek terapi bagi kita?
Menurut Elvi yang juga menulis buku Happy Career ini, yang pertama, kisah dalam film tersebut harus memiliki resonansi dengan persoalan yang tengah kita hadapi. Misalnya saja jika masalah yang tengah kita hadapi terkait dengan pilihan hidup, menonton kisah dimana tokohnya menghadapi pergulatan yang sama, akan membantu kita untuk melihat masalah kita dengan perspektif yang berbeda, dengan pergulatan ego yang minimal, mengingat permasalahan kita diproyeksikan sebagai hiburan yang tidak menyerang konsep diri kita secara langsung.
Perspektif yang berbeda ini juga akan membantu kita untuk mengembangkan empati, dengan mengkorelasikan peran tokoh-tokoh tertentu yang ditemui kesamaannya dengan orang-orang yang ada dalam kehidupan kita, empati ini akan sangat membantu kita untuk memulai relasi dengan lebih baik lagi, karena diawali dengan pemahaman akan reaksi-reaksi tertentu dari orang lain yang sebelumnya dirasa kurang menyenangkan. Misalnya, suami yang menonton film tentang sulitnya seorang Ibu membagi waktu, memungkinkan untuk mengembangkan empatinya, sehingga lebih dapat mengerti akan luapan-luapan emosi sang istri.
Adanya resonansi ini juga memungkinkan kita untuk mendalami apa yang sebenarnya kita rasakan dan apa yang kita inginkan dan menjadi hasrat terbesar kita. Kejelasan ini seringkali dapat menjadi dasar awal yang membuat kita memulai langkah-langkah awal yang berarti bagi pertumbuhan diri. Bahkan terkadang, kisah dalam film tersebut dapat juga membukakan mata kita mengenai hal-hal yang kita abaikan, padahal isu tersebut mengganggu aktualisasi diri kita. Misalnya saja, menonton tokoh yang di-abuse secara emosional menyadarkan kita tentang tidak sehatnya hubungan kita dengan seseorang.
Contoh lain, menonton tokoh yang asyik mengejar karier lewat hobi tertentu mungkin mengingatkan kita yang sudah melupakan pentingnya mengerjakan kegiatan-kegiatan yang sudah dilupakan, yang sebenarnya akan memberikan energi tambahan sehingga hidup tidak lagi terasa itu-itu saja.
Foto: disney pixarYang kedua, tokoh dalam cerita tersebut harus dapat menjadi role model yang tepat. Bagaimana ia berjuang mengatasi masalahnya, bagaimana ia akhirnya berhasil, memberikan tidak saja cara yang dapat ditiru, namun juga memberikan harapan tertentu, bahwa bagaimanpun juga masalah tersebut akan dapat diatasi. Hal yang dilakukan oleh sang tokoh dapat juga menjadi sumber ide yang menginspirasi kita dalam menemukan solusi, atau hal-hal yang seharusnya kita usahakan.
Selain menonton karena film itu baru tayang, aktor dan aktris idola, atau special effect yang ciamik, Elvi menyarankan ada baiknya jika memilih film untuk mencari efek positifnya terhadap mental kita. Berikut beberapa yang ia rekomendasikan.
Untuk menaikan rasa percaya diri terkait body image :
Shallow Hal (2001)
My Big Fat Greek Wedding (2002)
Real Women Have Curves (2002)
Untuk membangkitkan keberanian diri dan daya banting dalam menghadapi kesulitan :
Finding Nemo (2003)
Hotel Rwanda (2004)
Million Dollar Baby (2004)
WALL-E (2008)
Up (2009)
50/50 (2011)
Argo (2012)
The Impossible (2012)
Life of Pi (2012)
Gravity (2013)
The Theory of Everything (2014)
Arrival (2016)
Berempati dengan schizophrenia, atau membangkitkan semangat pada penderita :
Shine (1996)
A Beautiful Mind (2001)
Proof (2005)
(f)
Baca Juga:
Bincang-Bincang Little Women Bersama Leila Chudori
Gaun Natalie Portman dan Absennya Wanita Sutradara Sebagai Unggulan di Oscar 2020
Mulai Mencintai Diri Sendiri dengan 5 Langkah Sederhana untuk Investasi Kebahagiaan Anda!