
Foto: AFP, Dok Sieg Fahrenheit Collection, Dok. Hancinema.net
Mengapa kita cinta artis Korea? Survei femina mengungkap tiga alasan utama: penampilan fisik yang terawat, bakat akting, dan tetap bisa terlihat maskulin. Indonesia tidak sendiri; dunia memang tengah dilanda demam Korea. Hallyu alias Korean wave membuat kita menoleh dan kemudian jatuh hati pada aktor-aktor muda berbakat dan tampan seperti empat pria pilihan editor, Lee Min-ho, Gong Yoo, Song Joong-ki, dan Kim Woo Bin. Tak ragu merawat diri dan tampil trendi, pria-pria pesolek ini pun mendobrak pandangan bahwa pria maskulin haruslah terlihat macho.
(Tak Hanya) Kkotminam
Di awal kemunculannya pada tahun 2009 lewat drama televisi Boys Over Flowers, Lee Min-ho (29) tak hanya berhasil memikat jutaan penggemar dari seantero Asia. Berperan sebagai Gu Jun Pyo, versi adaptasi Korea dari karakter Tao Ming-tse dalam Meteor Garden, ia juga meraih gelar Aktor Pria Baru Terbaik dalam Baeksang Arts Awards ke-45.
“Saat saya bertemu dengan para penggemar drama dan film Korea, meski mereka tak paham bahasa dan budayanya, namun itulah yang membuat mereka belajar bahasa Korea dan melancong ke Korea, saya merasa inilah kekuatan gelombang Hallyu yang sesungguhnya,” ungkap aktor kelahiran 22 Juni 1987 ini, tentang Korean wave yang telah membesarkan namanya.
Pada tahun yang sama, The Korean Times menulis bahwa Boys Over Flowers turut mendorong para pria di Korea Selatan untuk berpenampilan ala kkotminam, yang secara harfiah berarti “pria-pria yang rupawan ibarat bunga.” Fenomena ini berujung pada meningkatnya penggunaan produk perawatan tubuh oleh para pria. Selera mode mereka pun bergeser ke gaya preppy yang necis juga penampilan yang cenderung lebih feminin seperti motif bunga-bunga dan warna-warna cerah maupun pastel.
Di lain pihak, tren pretty boy di kalangan aktor Korea tidak serta-merta muncul berkat pesona paras Lee Min-ho maupun Gong Yoo (37), sang Goblin dalam drama berjudul sama, yang mulai dikenal lewat perannya dalam The 1st Shop of Coffee Prince (2007).
Istilah flower boy sendiri bukanlah barang baru di Negeri Ginseng. Courtney Lazore (Dartmouth Quarterly, 2014) memaparkan bahwa istilah ini berasal dari kata hwarang, yang merujuk pada kelompok elit beranggotakan para bangsawan muda di era Dinasti Silla (tahun 57 sebelum Masehi-935).
Pada abad ke-6, mereka memelajari sastra dan budaya, mendapatkan pelatihan bela diri ala militer, dan berwajah tampan. Mereka juga mengenakan riasan, aksesoris, dan pakaian indah. Konon, kejayaan Dinasti Silla, yang memenangkan perang yang menyatukan Korea, tak lepas dari peranan para ksatria hwarang. Sosok dan sepak terjang mereka pun telah diangkat ke dalam drama berjudul Hwarang: The Poet Warrior Youth, yang baru selesai tayang di stasiun televisi KBS2 pada Februari lalu.
Penggambaran pria yang terpelajar, berwibawa, dan tak segan berhias pun kerap muncul dalam drama sejarah Korea. Contohnya Sungkyunkwan Scandal (2010), yang membuat popularitas Song Joong-ki (31) meroket sebagai pelajar dari kalangan bangsawan di masa Dinasti Joseon (1392-1897).
Di sisi lain, berwajah rupawan bukan berarti para aktor ini hanya bermodal tampang dalam meniti karier di dunia hiburan. Apalagi, sebagian besar agen artis Korea mensyaratkan para calon talent binaannya untuk memiliki minimal gelar sarjana.
Seolah kebetulan, Sungkyungwan University merupakan almamater Song Joong-ki di dunia nyata, tempatnya menamatkan studi di bidang administrasi bisnis pada tahun 2012. Sementara itu, sebelum memulai kiprahnya sebagai model, Kim Woo Bin (27) ternyata memiliki prestasi cemerlang di sekolah.
“Saya belajar sangat keras saat SMP hingga berhasil menempati peringkat kelima dari seluruh siswa di sekolah,” tutur aktor yang juga pernah belajar balet, jazz dance, dan kaligrafi itu. Belakangan, seorang gurunya mengungkap catatan absensinya yang tanpa cela semasa SMA, juga bahwa Woo Bin mendapatkan pengecualian dari aturan sekolah terkait gaya rambut siswa.
Demikian pula Gong Yoo, yang lulus dengan gelar sarjana teater dari Kyung Hee University sebelum debutnya sebagai aktor pada tahun 2001. Sementara itu, juru bicara Lee Min-ho pada tahun 2015 mengungkap bahwa sang aktor, yang kuliah film di Konkuk University, tengah merampungkan pendidikan pascasarjana, sehingga belum dapat mengikuti wajib militer.

Laris Manis Pesona Pria Asia
Sebagai produk budaya yang dibawa oleh Korean wave, aktor Korea berhasil membuat jutaan penggemarnya di Asia tergila-gila dengan 'paket lengkap' bakat dan penampilan terawat. Mereka pun menciptakan definisi baru maskulinitas, dari yang umumnya menekankan ketangguhan fisik dan penampilan macho ala Barat. Terkait fenomena ini, dalam Excess and Masculinity in Asian Cultural Productions, Kwai-Cheung Lo (SUNY Press, 2010) menilai bahwa berubahnya persepsi gender di masyarakat turut dipengaruhi ekspansi pesat kapitalisme.
Tak heran bila apa pun yang dijajakan oleh para aktor Korea, termasuk produk perawatan kulit, akan disambut baik di pasaran. Lee Min-ho dan Song Joong-ki masing-masing membintangi iklan Innisfree dan Laneige, keduanya produk perawatan kulit asal Korea. Sementara itu, Gong Yoo adalah wajah label produk sejenis asal Inggris, The Body Shop, dan Kim Woo Bin menjadi duta produk kosmetik asal Italia, Bottega Verde.
Respons positif ini juga terlihat dari hasil survei online femina terhadap 100 pembaca pada Maret 2017. Mayoritas (72%) responden menganggap bahwa kecenderungan aktor Korea menjadi bintang iklan produk perawatan tubuh dan wajah maupun kosmetik adalah sah-sah saja. Hanya 8% yang menilai bahwa pria-pria ini jadi tampak terlalu pesolek bagi mereka.
Di lain pihak, menurut kontributor The Daily Dot Collette Bennett, sebelum Korean wave tiba di Amerika Serikat, pria keturunan Asia khususnya Asia Timur kesulitan mendapat perhatian lawan jenis. Pasalnya, maskulinitas pria Asia kerap dinilai lebih rendah dari pria-pria dari budaya lain, sehingga menimbulkan banyak prasangka, tak hanya dalam soal asmara namun juga karier. Bahkan, sejumlah survei seputar online dating menunjukkan hasil nyaris seragam, bahwa wanita di AS paling tak tertarik pada pria Asia dibandingkan dari ras-ras lainnya.
“Namun, popularitas produk budaya Korea menunjukkan bahwa jutaan orang tengah jatuh cinta pada pria 'jenis baru', yang menarik bagi mereka yang bosan dengan definisi maskulinitas Barat yang kaku,” jelas Bennett.
Menariknya, National Geographic pada tahun 2011 justru menyatakan bahwa pria Asia Timur, tepatnya pria berumur 28 tahun dari etnis Han asal Tiongkok, adalah tipikal wajah manusia masa kini. Raut wajah serupa dimiliki sekitar 9 juta dari 7 milyar penduduk dunia. Mereka pulalah target demografis maskulinitas versi pria Korea masa kini, yang tak pantang diasosiasikan dengan femininitas.
Sun Jung, dalam Korean Masculinities and Transcultural Consumption (Hong Kong University Press, 2010) menyebut versi ini sebagai maskulinitas lembut (soft masculinity) Pan-Asia Timur.
Maskulinitas lembut merupakan versi gabungan dari tiga jenis maskulinitas. Yang pertama adalah seonbi, maskulinitas tradisional Korea Selatan yang dipengaruhi oleh ajaran Konfusius dari Tiongkok, menekankan pria sebagai sosok terpelajar dan taat aturan. Yang kedua adalah bishonen atau pretty boy versi Jepang, yang membaurkan batas gender antara pria dan wanita. Terakhir adalah maskulinitas metroseksual yang dikenal secara global, yang membebaskan pria untuk merawat penampilan.
Peran Song Joong-ki sebagai Gu Yong-ha dalam Sungkyunkwan Scandal, misalnya, adalah salah satu contoh penggambaran maskulinitas seonbi. Lee Min-ho turut menghadirkan maskulinitas bishonen sebagai pemeran utama dalam Boys Over Flowers, yang diangkat dari serial komik Jepang Hana Yori Dango.
Sementara itu, citra pria metroseksual yang umum ditampilkan para aktor Korea turut mendukung pria untuk merawat diri. BBC melansir bahwa di Korea Selatan, pria menghabiskan lebih banyak uang untuk berbelanja produk perawatan kulit dibandingkan di negara-negara lain.
“Tak hanya dianggap ideal dan dipasarkan secara strategis oleh industri K-pop, maskulinitas versi ini terbilang cocok mencerminkan perubahan sosial di masyarakat Korea. Saat ini, mereka berada di antara Konfusianisme sebagai bagian dari sejarah mereka, dan industrialisasi modern dengan hasrat untuk mencapai khalayak global,” tulis Soy Kim dalam kolomnya di The Harvard Crimson.
Dari Pesolek Jadi Macho
Sementara itu, citra flower boys, yang umumnya ditampilkan oleh aktor Korea berusia 20-an, kerap disandingkan dengan peran yang terkesan lebih maskulin dan tangguh. Tak hanya tren budaya populer, kajian tentang maskulinitas Korea pun sering membandingkan keduanya, dan berujung pada kesimpulan bahwa flower boys cenderung tak mampu memegang kendali dan bertarung secara fisik. Maka, muncul pandangan bahwa seiring bertambahnya usia seorang aktor Korea, ia akan mulai meninggalkan peran-peran 'manis' untuk menjajal penampilan yang lebih macho.
Contohnya Lee Min-ho, saat memerankan anak jalanan yang tumbuh menjadi gangster di tahun 1970-an dalam Gangnam Blues (2015). Karena tak mungkin memerankan karakter tersebut dengan wajah mulus, aktor asal Seoul ini rela absen menggunakan pelembap selama tujuh bulan. Hingga berbulan-bulan sesudahnya, ia masih menuai komentar bahwa ia terlihat jauh lebih tua.
Lain lagi dengan Kim Woo Bin. Dari belakang layar, ia menuai banyak pujian karena pembawaannya yang dianggap cenderung lebih maskulin dibandingkan flower boys pada umumnya. Bertinggi badan 188 sentimeter, ia terlihat mencolok dibandingkan aktor Korea rupawan lainnya, yang harus membentuk tubuh terlebih dahulu agar terlihat lebih berotot dan kuat. Citra maskulin yang dimilikinya datang dari suaranya yang dalam, juga ekspresi wajah dan matanya, yang ikut membuatnya terlihat seksi.
“Wajahnya mungkin tidak setampan banyak aktor flower boys lain, namun justru inilah yang membuatnya bisa mendapat tawaran peran yang lebih beragam,” komentar salah seorang produser film, sebagaimana dilansir soompi.com.
Sementara itu, bagi sejumlah aktor Korea, tawaran peran yang menuntut mereka tampil lebih tangguh datang setelah mereka merampungkan masa wajib militer. Misalnya Song Joong-ki, yang kembali ke layar kaca tahun lalu sebagai Kapten Yoo Shi Jin dalam Descendants of the Sun. Saat syuting dimulai, ia sudah terbiasa dengan gaya bicara dan penampilan sebagai seorang tentara.
“Tetapi, Kapten Yoo bukan hanya seorang pria berseragam tentara. Karakter ini sangat serius dan berjiwa kepemimpinan tinggi, sehingga memerankannya menjadi tantangan tersendiri,” ungkap pria yang masa wajib militernya berakhir pada tahun 2015 ini.
Demikian pula Gong Yoo, yang penampilannya cenderung lebih dewasa seusai menjalani wajib militer pada Desember 2009. Dalam dua tahun bertugas, ia tak hanya turun ke garis depan di Cheorwon, namun juga menjadi disk jockey di Radio Militer Korea. Kembali ke dunia seni peran lewat film komedi romantis, aktor yang pernah menjadi video jockey semasa kuliah ini kemudian berkesempatan berakting dalam genre action-thriller.
Dalam film The Suspect (2013), ia menjadi agen rahasia Korea Utara yang hendak membalas dendam atas kematian istri dan anaknya, sekaligus menelusuri misteri yang menyebabkan kematian bosnya. Tiga tahun kemudian, Gong Yoo, yang hingga kini betah melajang, kembali dipercaya memerankan sosok ayah dalam Train to Busan yang bergenre serupa.
Kedua film tersebut menghadirkan Gong Yoo yang berpenampilan acak-acakan; sekali waktu ia berkumis, bercambang, bertelanjang dada, dan menodongkan pistol, kali lain ia berlari demi menghindari zombie dengan wajah kusut dan pakaian berlumur darah.
Sementara itu, berpenampilan seperti seorang pria tangguh tak melulu berarti keberanian mereka tak ada habisnya. Begitu pula para aktor Korea.
“Memerankan suatu karakter saat sedang merasa benar-benar ketakutan adalah pengalaman yang menyeramkan, dan ekspresi itu terlihat jelas di kamera,” ungkap Gong Yoo, menceritakan pengalamannya saat syuting Train to Busan. Aktor yang hampir 16 tahun berkarier di dunia akting ini berseloroh, “Bahkan ketika kami sedang rehat syuting, saya tak mau dekat-dekat dengan aktor pemeran zombie saat mereka masih memiliki riasan lengkap.” (f)
Baca juga:
5 Bintang Korea yang Mencuri Perhatian Dunia, Mulai dari BTS Hingga Gong Yoo
Demam Korea Melanda Indonesia
Gong Yoo Konfirmasi Fan Meeting di Hong Kong dan Taiwan, Indonesia Kapan?