
Dok: Unsplash
Baru-baru ini cucu tokoh agama Aa Gym meninggal dunia pada usia 2 bulan. Melalui akun Instagramnya, Ghaida Tsurayya, ibu sang bayi yang juga putri Aa Gym menyampaikan kabar duka tersebut. Berdasarkan keterangan Ghaida di akunnya, bayinya meninggal mendadak dan tiba-tiba.
Peristiwa bayi meninggal mendadak dalam dunia medis dikenal dengan istilah SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). SIDS atau sindrom kematian bayi mendadak yang biasanya terjadi pada bayi yang masih berusia kurang dari satu tahun.
SIDS telah menjadi penyebab utama kematian pada bayi usia 30 hari pertama setelah kelahirannya. Bayi yang berusia kurang dari satu tahun dan dalam kondisi sehat, tiba-tiba meninggal saat tidur tanpa diketahui penyebabnya.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, setiap tahun SIDS membunuh sekitar empat bayi dari setiap 10 ribu kelahiran hidup di Amerika. Di Indonesia, belum ada data akurat tentang jumlah kematian bayi mendadak setiap tahunnya.
Bagi orag tua, SIDS menjadi momok dan mimpi buruk, karena bisa terjadi secara tidak terduga. Sebelum terlambat, setiap orang tua perlu mengenal lebih jauh tentang tentang SIDS. Berikut fakta-fakta SIDS:
Apa penyebab SIDS?
Banyak hal yang dapat menjadi penyebab SIDS. Ada yang menghubungkannya dengan kelainan di bagian otak yang mengatur pernapasan bayi, hingga kondisi tidur bayi yang menghambat pernapasannya.
Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet, menemukan bahwa mutasi langka yang terkait dengan gangguan otot pernapasan lebih sering terjadi pada bayi yang meninggal akibat SIDS daripada bayi sehat.
Penelitian pada otak bayi yang meninggal akibat SIDS menunjukkan adanya keterlambatan perkembangan dan fungsi beberapa jalur saraf yang penting untuk mengatur pernapasan, detak jantung, dan respon tekanan darah saat bangun dari tidur. Sehingga pada bayi dengan kelainan seperti ini tidak dapat mengatasi masalahnya saat tidur.
Bayi yang tidur tengkurap atau tidur miring cenderung memiliki kesulitan untuk bernapas. Saat bayi dalam posisi telungkup, pergerakan udara di mulut akan terganggu karena adanya penyempitan jalan napas. Situs healthychildren.org menyebutkan sebuah penelitian membuktikan bahwa bayi yang tidur dengan posisi tengkurap 18 kali lebih berisiko terkena SIDS dibanding bayi yang tidur dengan posisi telentang.
Selain itu, pakaian bayi yang tertutup dan suhu ruangan yang panas juga dapat meningkatkan metabolisme bayi, sehingga bayi dapat kehilangan kontrol pernapasan. Meski begitu, penelitian-penelitian tersebut masih tahap awal sehingga perlu penelitian lanjutan untuk membuktikannya.
Selanjutnya: Siapa yang paling berisiko?

Dok: Unsplash
Siapa yang paling berisiko?
Bayi prematur, anak laki-laki, orang Amerika Afrika dan bayi Indian/Alaska Amerika disinyalir memiliki risiko SIDS yang lebih tinggi dari bayi lainnya. Selain itu, bayi yang lahir dengan berat badan rendah - biasanya pada bayi prematur atau bayi kembar - cenderung memiliki risiko yang lebih besar karena perkembangan otaknya belum sempurna, sehingga bayi menjadi kurang memiliki kendali atas pernapasan dan detak jantungnya.
Bayi yang lahir dari ibu perokok juga memiliki risiko tiga kali lebih besar mengalami SIDS daripada bayi yang lahir dari ibu bukan perokok. Merokok saat hamil merupakan faktor risiko utama terjadinya SIDS. Asap rokok yang bayi hirup juga dapat meningkatkan kejadian SIDS pada bayi.
Penelitian yang dilakukan oleh David Katz, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Coorado di Aurora, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa dibandingkan dengan bayi yang tinggal di dataran rendah, bayi yang tinggal di atas 8000 kaki memiliki risiko SIDS 2,3 kali lebih besar. Studi ini tidak menunjukkan alasan mengapa tinggal di tempat yang lebih tinggi menyebabkan SIDS. Namun, kurangnya oksigen di udara mungkin memengaruhi hal tersebut.
Selanjutnya: Bagaimana mencegah SIDS?

Dok: @isaacmdt / unsplash.com
Bagaimana mencegah SIDS?
Untuk menurunkan risiko atau mencegah SIDS pada bayi, orang tua disarankan untuk melakukan beberapa hal berikut ini:
1. American Academy of Pediatrics sejak tahun 90-an mengeluarkan rekomendasi bayi tidur telentang. Karena posisi ini tidak akan menghalangi jalan napas bayi. Sedangkan saat bayi tidur telungkup atau miring ke sisi kanan atau kiri ada kemungkinan lebih besar bayi mengalami kesulitan bernapas. Begitu pula dengan bayi prematur.
Meski kebanyakan bayi prematur akan diposisikan tidur telungkup atau miring saat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk melegakan napasnya, namun begitu pulang ke rumah waktunya untuk mengubah tidur bayi ke posisi telentang.
2. Mitos bahwa dot tidak baik untuk bayi juga kurang tepat. Membiarkan bayi mengisap dot hingga usia enam bulan disinyalir dapat menambah perlindungan terhadap SIDS.
3. Jangan meletakkan berbagai macam benda di atas tempat tidur anak. Jauhi bayi dari bantal, selimut, boneka, mainan, atau hal lainnya saat bayi tidur. Benda-benda ini dapat menghalangi mulut dan hidung bayi sebagai jalan napas, sehingga bayi dapat mengalami sesak napas saat tidur. Seprai yang longgar juga bisa berbahaya pada bayi.
4. Hingga usia enam bulan, bayi Anda lebih aman tidur satu kamar tidur dengan orangtua. Anjuran ini dikeluarkan American Academy of Pediatrics dalam mencegah SIDS. Sayangnya, membiarkan anak tidur di tempat tidur Anda juga akan meningkatkan risiko. Jadi sebaiknya letakkan boks bayi di kamar Anda dan biarkan si kecil tidur di boksnya, bukan di tempat tidur Anda.
5. Menyusui bayi terbukti dapat menurunkan risiko SIDS sebesar 50%. Beberapa ahli percaya bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi yang dapat meningkatkan risiko SIDS.
6. Berikan imunisasi lengkap pada bayi. Faktanya, bayi yang menerima imunisasi sesuai rekomendasi dapat menurunkan risiko SIDS sebesar 50% dibandingkan dengan bayi yang tidak menerima imunisasi lengkap.
7. Seperti diungkap di awal, kepanasan dapat meningkatkan risiko bayi mengalami SIDS. Selalu jaga suhu kamar bayi, hindari mengenakan pakaian terlalu tebal atau selimut jika bayi kepanasan. Kenakan pakaian tidur yang nyaman saat bayi tidur.
8. Sebaiknya, bayi yang berusia di bawah satu tahun tidak diberikan madu. Madu dapat menyebabkan bayi menderita botulisme dan bakteri penyebab botulisme dapat dihubungkan dengan kejadian SIDS pada bayi. Penyakit botulisme pada bayi disebabkan oleh toksin yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan masalah otot melemah hingga gangguan pernapasan. (f)
Baca Juga:
5 Langkah Mudah untuk Cegah Penyakit Ginjal Pada Anak
Ini Penyebab Kematian Janin Dalam Kandungan Seperti yang Terjadi Pada Alm. Istri Kedua Opick
Penyakit Langka Paling Banyak Diderita Anak-Anak, Sebagian Besar Berupa Kelainan Metabolisme Bawaan