Dok. Femina Media


Noesreini Meliala, reporter pertama Majalah Femina, menceritakan kembali pengalamannya menyaksikan pemotretan cover 48 tahun yang lalu. Di suatu pagi hari Minggu.
 
Cerita dari Garasi 
Sekitar pukul 7 pagi di suatu hari Minggu kami, tim Femina sudah berkumpul di kediaman Pemimpin Umum Sofjan Alisjahbana dan istrinya Pia, di Jalan Sukabumi, Menteng, Jakarta Pusat. Di garasi rumah mereka lah saat itu kami berkantor. Model cover Tuti Indra Malaon dan putrinya, Meike, yang saat itu masih berusia 6 tahun, hadir tepat waktu. 
 
Kami sudah menyiapkan perlengkapan yang akan dipakai sebagai properti dalam pemotretan. Saya masih ingat jumlahnya ada 10 jenis barang, tidak semuanya barang betulan. Mesin tik, setrika dan wajan berisi telur ceplok adalah foto yang kami cetak lalu ditempel pada selembar kertas karton. Ini adalah upaya agar benda-benda tersebut bisa dipegang sebelah tangan oleh sang model. Kami juga membuat gambar hati dan jam weker dari kertas tebal. Benda  yang asli hanyalah cermin tangan, buku, gunting, sepotong kain (milik Pia) dan papan cuci plastik yang saya temukan di pasar Cikini. 
 
Model kami saat itu Tuti Indra Malaon (1939 - 1989), adalah ibu dari tiga anak, seorang wanita karier yang bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra jurusan Bahasa Inggris di Universitas Indonesia. ia juga seorang seniwati teater bersama Teater Populer Teguh Karya dan pemain film yang diperhitungkan selain seorang penari Jawa klasik di Istana Negara.  
 
Belakangan Tuti meraih 2 piala Citra untuk Ibunda (1986) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1989). Ia juga pernah menjadi wartawan majalah Zaman dan anggota MPR RI. Bagi kami, Tuti adalah sosok wanita modern multifaset yang patut dijadikan panutan dan tepat menjadi cover perdana Femina, majalah wanita baru dengan visi yang baru. 
 
Gaun yang dikenakan Tuti dan Meike adalah milik mereka pribadi. Tuti sengaja memilih gaun berwarna netral dengan potongan yang sederhana mirip busana yang  ada di  patung dewi- dewi Yunani. Rias wajah dan tata rambut  juga dikerjakan sendiri oleh Tuti .  

Latar belakang pemotretan adalah kain hitam yang diikatkan ke pagar pintu garasi. Pemotretan di luar ruangan ini tidak menggunakan lighting tambahan, hanya kamera yang dilengkapi lampu kilat saja. Siapa fotografernya? Tidak lain dan tidak bukan Sofjan Alisjahbana sendiri.

Kerjasama Tuti dengan fotografer yang juga melakukan pengarahan gaya, langsung kompak. Padahal tidak mudah berpose 5 gaya dengan lengan terentang dan sikap tubuh tidak boleh berubah. Saya bertugas menempatkan satu persatu ke 10 benda yang sudah kami siapkan itu pada lengan sang model. Saya kagum pada Meike yang tetap sabar duduk di tanah di depan ibunya.



Lanjut ke halaman berikutnya : Mengapa Wanita Berlengan 10?



 
 


Dok. Ms. Magazine
 

 
Mengapa Wanita Berlengan 10?
Inspirasi bisa datang dari mana saja. Untuk cover perdana majalah Femina, ide dasarnya berasal dari Majalah Ms terbitan Amerika yang kami beli dari kios majalah bekas. Jika pada umumnya majalah wanita luar negeri saat itu menampilkan wanita cantik bergaya glamor, Ms. tampil unik dan dengan ilustrasi sosok wanita bertangan 8.
 
Awalnya Ms. terbit sebagai sisipan New York Magazine pada Desember 1971. Sisipan tersebut dikerjakan oleh Gloria Steinem, seorang feminis garis keras, aktivis sosial politik populer pada masa itu dan menjadi sosok kuat dalam pergerakan feminisme di dunia hingga saat ini. Saat itu ia menjadi salah seorang editor di New York Magazine. 
 
Karena ternyata banyak penggemarnya, sisipan tersebut diputuskan untuk diterbitkan kembali sebagai majalah terpisah pada  Januari 1972. Edisi inilah yang ‘sampai’ di tangan kami.
 
Gambar ilustrasi wanita bertangan 8  pada sampul depan Majalah Ms itu adalah simbolisasi Dewi Kali dari mitologi India. Sebelah kanan 4 lengan memegang jam penunjuk waktu, sapu, wajan dan mesin tik. Empat lengan sebelah kiri memegang setrika, cermin, pesawat telepon, dan setir mobil. Di bagian perut sang model menempel foto bayi.
 
Mengapa Dewi Kali? Gloria Steinem, layaknya sebagai seorang  hippies, akrab dengan mitologi India. Dewi Kali, pasangan Siwa adalah perlambang dari wanita cantik, perkasa, penolong dan mampu melakukan banyak hal. Tergambar dari alat-alat  yang ada di genggaman tangannya. 
 
Saya masih ingat bagaimana sampul majalah Ms. ini menjadi pembicaraan hangat dalam beberapa rapat para pendiri Femina  yang saya hadiri. Dewi Kali, yang dalam kisah pewayangan kita lebih dikenal dengan nama Dewi Durga, juga cukup dekat dengan hati kami. Simbolisme yang digambarkan oleh majalah Ms. melalui dewi Kali memukau kami dan kami olah kembali, disesuaikan dengan visi dan misi yang ingin kami terapkan dalam Femina yang akan diterbitkan itu.
 
Kata sepakat cepat diperoleh untuk meminta Tuti Malaon dan puterinya menjadi model. Kami menyiapkan 10 benda sebagai lambang yang akan digenggam Tuti. Di tangan kanan ia memegang gunting dengan selembar kain, mesin tik, buku, celengan dan alat seterika. Sedang di sebelah kiri kelima lengannya memegang papan pencuci pakaian, wajan, cermin, simbol hati dan jam weker. Meike, puteri Tuti akan duduk di depan Tuti.
 
Arah Baru Wanita 
Pada awal tahun 70 an majalah wanita yang beredar di Indonesia sangat sedikit. Pada saat itu majalah yang sering dibaca kaum wanita adalah majalah Mutiara dan majalah Wanita.
 
Saat femina terbit pada September 1972, tentu saja menjadi kejutan. Penampilan luar dan isinya dapat dikatakan  out of the box. Misinya  progresif  yaitu membawa kehidupan baru bagi kaum wanita, khususnya remaja yang sedang mekar, para mahasiswi cerdas dan penuh cita-cita, seorang ibu yang arif bijaksana  maupun wanita bekerja  dengan masa depan yang cemerlang. 
 
Citra femina pada kaum wanita saat itu adalah : Sumber cinta kasih, cekatan membagi waktu, ahli  mengatur keuangan, tugas rumah tangga tidak pernah tersia-sia, kecantikan dirinya tetap terpelihara plus kemampuannya dalam meniti karier apabila dia memilih menjadi pekerja.
 
Image ‘ideal’ tersebut ditampilkan dalam berbagai tulisan melalui berbagai rubrik seperti : kecantikan, fashion, tata boga, kesehatan, tanya jawab dengan ahli, karier, profil wanita berprestasi yang bisa jadi panutan dan sebagainya. Dan tentu saja semuanya diatur dengan tata letak yang khas dan berwarna. Saat itu teknologi cetak dengan warna masih langka. (f)
 



Noesreini Meliala, Kontributor, Jakarta