Dok. Shutterstock




Dampak pandemi pada perubahan perilaku masyarakat terlihat sangat menarik. Ketika roda ekonomi sempat bergerak sangat lambat, jiwa sosial masyarakat justru bergerak naik sangat tajam.

Ini juga terjadi di dunia usaha, di mana para pelaku bisnis tak hanya meraup untung dari usaha yang dilakukannya, tapi juga menyisihkan apa yang didapat untuk mereka yang membutuhkan. Niat ini pun memberikan inovasi-inovasi baru bagi para pelaku usaha, untuk meningkatkan bisnis mereka sekaligus memberikan nilai lebih bagi sekitar.


Mengangkat fenomena business with a cause, Facebook #SheMeansBusiness dan Wanita Wirausaha Femina menggelar talkshow virtual dengan judul Berbisnis Sambil Berbagi yang disiarkan secara Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina pada Selasa, 23 Juni 2020 lalu.

Talkshow kolaborasi ini menghadirkan Tuhu Nugraha (pakar digital marketing), Tunjung Larasati (Co-Founder NIION), Avanda Hanafiah (Executive Chef & F&B Director Al's Catering), Allesandra Hanafiah (Creative Director & Pastry Chef Al's Catering) dan Fitria Debora (Business Development Account Officer Du'anyam).

Menurut studi yang dilakukan Cone Cause Evolution (2013) sekitar 91 persen konsumen mengatakan akan memilih
brand yang memiliki misi sosial yang baik jika ditawarkan dua produk dengan harga dan kualitas yang sama. 

Selain itu, 92 persen konsumen akan membeli produk yang memberikan keuntungan sosial atau lingkungan, dan 67 persen konsumen mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hal ini 12 bulan terakhir. 

Menurut Tuhu, generasi yang akrab dengan dunia digital, memang lebih punya kepedulian terhadap isu sosial. Hal ini dikarenakan generasi seperti milenial adalah generasi pertama yang bisa dengan mudah mengakses informasi dimanapun, salah satunya lewat media sosial. 

“Jadi memang generasi muda ini lebih
concern, karena mereka bisa melihat lebih nyata," jelas Tuhu.

Selain itu, dengan memasuki era yang serba digital, para milenial kebingungan untuk memilih produk karena begitu banyaknya pilihan yang tersebar di jagat maya. Sehingga, di antara banyaknya tawaran serupa dengan harga yang kompetitif, sebuah brand dengan nilai ‘lebih’ menjadi lebih menarik untuk dipilih. 

"Karena ada sebuah cerita di baliknya. Sekarang kita bukan lagi memilih fungsi, tapi juga
what's the story. Beda dengan zaman dulu, orang tinggal ke toko dan pilihannya terbatas," papar Tuhu.

Dengan cerita yang bagus, mereka bisa menceritakan ulang kisah tersebut ke media sosialnya.

"
Doing good itu sekarang jadi social currency seseorang," Tuhu menekankan. 

Saat ini, kegiatan pemasaran berbasis sosial memang sedang bertumbuh pesat, yang tak hanya dilakukan oleh
social entrepreneur tapi juga para pebisnis berbasis profit. Menurut Tuhu, pemasaran berbasis sosial memang memberikan dampak baik bagi perusahaan itu sendiri. 

Pasalnya, di zaman sekarang konsumen itu tak hanya membeli produk, tapi juga cerita.

“Orang itu suka dengan cerita, fungsional menjadi nomor dua. Dan cerita (dengan cara pemasaran sosial) akan membuat brand kita menjadi lebih kuat,” papar Tuhu.

Brand yang kuat akan membedakannya dengan brand-brand yang lain dan membuat konsumen percaya.

“Dengan visi sosial yang kuat, tidak akan membuat orang mudah berpindah ke lain hati, kendatipun ada brand lain yang menawarkan harga yang lebih murah,” jelasnya.



Lanjut ke halaman berikutnya : Syarat Melakukan Kampanye Pemasaran Sosial.



BACA JUGA :
Pola Konsumsi Masyarakat Berubah Pasca Pandemi COVID-19, Ini yang Perlu Diperhatikan UMKM
Maksimalkan Penjualan Online Selama Masa COVID19 untuk Lancarkan Bisnis
Cara 3 Wanita Wirausaha Muda Sukses Jeli Membaca Peluang Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19


 

 



Dok. Facebook Page Wanita Wirausaha Femina




Syarat Melakukan Kampanye Pemasaran Sosial

Ditambahkan oleh Tuhu bahwa dalam membuat kampanye sosial, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, agar sebuah brand tidak dianggap menunggangi penderitaan orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

Pertama adalah empati. "Konsumen sekarang tuh mau melihat bahwa brand ini beneran empati, bukan hanya mau jualan, apalagi dalam keadaan krisis seperti saat ini," jelasnya.

Beberapa waktu lalu, Edelman riset khusus di tengah pandemi COVID-19 dimana membangun kepercayaan sangat penting untuk menarik perhatian calon konsumen. Maka dengan orang percaya bahwa sebuah brand benar-benar berempati, mereka akan memilih brand tersebut sebagai pilihannya. 


Kedua adalah otentik. Tuhu menjelaskan, bahwa setiap brand perlu membuat kampanye sosial yang memang memiliki korelasi dengan apa yang mereka tawarkan. Misal sebuah brand mode menjual produk masker untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan. Menurutnya ini masih sangat relevan dengan keadaan. Berbeda dengan brand makanan, yang menjual masker, yang membuat kampanye tersebut jadi tidak otentik.

“Empati dan otentik itu sangat penting. Karena generasi sekarang ini sangat bisa melihat mana yang bohong, mana yang cuman ikut-ikutan, mana yang cuman gimmick marketing dan mana yang memang dari hati,” ujarnya lagi.

Selain itu, dalam melakukan kampanye sosial, seperti yang diingatkan oleh Tuhu untuk mengedepankan transparansi. Karena karakteristik generasi saat ini adalah menginginkan hal yang jelas, kalau tidak mereka tak akan tergerak untuk terlibat dalam sebuah kampanye sosial.

Penting untuk diingat, bahwa melakukan kampanye sosial jangan sampai mengolok-ngolok kesusahan orang lain.

“Semua orang itu butuh brand yang bisa memberikan harapan. Dimana brand kita bisa memberikan rasa fun dan juga solutif. Karena tidak mungkin bisnis tersebut terasa menyenangkan tapi mengolok-ngolok orang yang lagi susah,” paparnya. 

Untuk diketahui,
Berbisnis Sambil Berbagi* adalah virtual talk kolaborasi ketiga antara #SheMeansBusiness Facebook dan Wanita Wirausaha Femina. Sebelumnya, virtual talk mengangkat tema Peluang Bisnis Setelah COVID-19* yang membahas tentang melihat peluang bisnis dalam memasuki fase new normal. (*Semua tayangan live talkshow bisa diakses di galeri video Facebook Pages Wanita Wirausaha Femina).

Sejak tahun 2019, Wanita Wirausaha Femina telah bekerjasama dengan #SheMeansBusiness Facebook menggelar
workshop untuk UMKM wanita di kota-kota di Indonesia. Tahun ini, mengikuti kondisi masyarakat, workshop offline tersebut berpindah platform, dilaksanakan di ruang digital lewat Facebook Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina. Dan sejak bulan Maret 2020, Facebook telah melakukan online training yang menjangkau hingga 26.696 pemirsa. 

Diharapkan melalui berbagai
talkshow virtual yang diadakan dengan menghadirkan sejumlah pembicara inspiratif ini, dapat memberikan pengetahuan, jaringan, keterampilan serta teknologi yang dibutuhkan para wanita wirausaha untuk memulai dan mengembangkan bisnis mereka. 

Dan Anda pun bisa mendapatkan keistimewaan untuk bergabung di
Facebook Group Wanwir Mahir Digital, dimana menjadi wadah bagi wanita wirausaha untuk berjejaring dan mendapatkan ilmu-ilmu digital marketing baru guna mengembangkan bisnis lebih besar lagi. Ayo segera gabung di FB Group Wanwir Mahir Digital, caranya:

1. Klik link https : //www.facebook.com/groups/wanwirmahirdigital/ 
2. Klik permintaan JOIN GROUP
3. Lalu ISI DATA USAHA yang diminta (wajib diisi)
4. Klik Setuju (Agree) rules admin
5. Tunggu approval dari Admin Femina