Foto: Shutterstock.com


Coba amati lingkungan Anda. Apakah Anda menemukan keberagaman dalam lingkungan, pertemanan, rekan kerja, hingga kehidupan bermasyarakat? Jika Anda tidak bertemu dengan beragam orang dalam hidup, ada begitu banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk menambah keragaman ke dalam hidup Anda.
 
Merayakan Perbedaan
Istilah keanekaragaman (diversity) dan inklusi (inclusion) adalah dua kata yang relatif baru terdengar dalam kosakata kita, namun menjadi isu yang hangat dibicarakan. Bicara tentang keberagaman saat ini tidak lagi terbatas hanya pada ras dan jenis kelamin, keberagaman dilihat dari segala sesuatu yang berkontribusi menjadikan seseorang sebagai sosok individu yang unik; gender, penampilan fisik, kepercayaan, agama, usia, orientasi seksual, budaya, politik, sosial ekonomi, profesi, dan lain sebagainya.
 
Teknologi dan berkembangnya alat transportasi yang memungkinkan orang berpindah wilayah dengan sangat mudah menumbuhkan kota-kota besar yang menjadi melting pot atau tempat berkumpulnya individu dengan latar belakang berbeda.
 
Memang, tak dipungkiri, menurut teori ketertarikan sosial Newcomb, manusia secara naluriah merasa lebih aman dengan mereka yang memiliki atribut sama seperti nilai, ras, sikap, kepercayaan, dan pandangan.
 
Eksperimen oleh Harry C. Triandis juga menunjukkan bahwa kelompok budaya dengan sedikit perbedaan tidak nyaman bicara dengan orang lain yang tak memiliki kepercayaan yang sama karena takut dihakimi dan disalahpahami.
 
Namun, di era kini, kita tidak lagi bisa melihat perbedaan seseorang sebagai ancaman. Suka atau tidak, sebagai masyarakat global, kita perlu merangkul fenomena sosial ini dan belajar untuk hidup dan menghormati orang yang berbeda dari kita.
 
Keberagaman melahirkan inklusivitas. Lantas apa yang dimaksud dengan inklusi itu sendiri? Inklusi berasal dari bahasa Inggris, inclusive, yang berarti ‘termasuk di dalamnya’. Secara istilah, inklusi berarti menempatkan diri kita ke dalam cara pandang orang/kelompok lain dalam melihat dunia. Dengan kata lain, berusaha menggunakan sudut pandang orang lain atau kelompok lain dalam memahami masalah.
 
Dalam perkembangannya, istilah inklusi meluas dan melahirkan masyarakat yang berjuang bahu-membahu mengatasi kesulitan untuk mencapai tujuan bersama. Karakter inklusif juga bisa menghasilkan toleransi. 


Baca Selanjutnya: Menjadi Pengubah
 
 

Dok: Femina
 
Menjadi Pengubah
Kampanye inklusi semakin kencang, mengajak masyarakat luas bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Inklusi sosial, misalnya, bisa berarti upaya menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang ideal, terutama untuk kelompok yang termarjinalkan dan mengalami stigma, seperti kelompok disabilitas, korban kekerasan, hingga masyarakat adat.
Sedangkan dalam dunia kerja yang menggabungkan karyawan dengan latar belakang berbeda hingga dibutuhkan pemimpin yang inklusif, yaitu seseorang yang berorientasi sebagai pendengar yang hebat, mampu memanfaatkan bakat, sekaligus motivasi tim yang sangat beragam.
 
Seorang pemimpin yang inklusif perlu memahami bahwa menggabungkan orang secara bersama-sama tidak menjamin kinerja tinggi. Tapi pemimpin harus mampu memastikan bahwa semua anggota tim merasa diperlakukan dengan hormat dan adil, dihargai, menumbuhkan percaya diri, dan terinspirasi.
 
Dalam dunia bisnis, inklusi berarti menjalani bisnis berkelanjutan yang menargetkan kelompok yang berada di dasar piramida ekonomi dengan menjadikan mereka bagian dari rantai bisnis sebagai pemasok, distributor, pengecer, hingga pelanggan. Inklusi bisnis yang dilakukan oleh sektor private ini membantu masyarakat kelas bawah untuk meningkatkan pendapatan dan kesempatan mereka untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan harian.
 
Perkembangan teknologi dalam dunia bisnis dan keuangan sekali lagi menjadi pendorong bagi pertumbuhan inklusi di dunia bisnis. E-commerce misalnya, memberikan peluang bagi siapa saja untuk memulai bisnisnya, tidak terbatas pada mereka yang memiliki modal besar atau berada di perkotaan.
 
Pemahaman tentang keberagaman dan inklusi harus dimulai lewat dunia pendidikan. Apa yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga pendidikan dengan membuka kesempatan dengan sekolah inklusi, terlepas dari tantangan apa pun yang mereka miliki, membuka ruang bagi program dan kampanye yang menekankan pada pentingnya keragaman bagi kaum muda.
 
Pendidikan inklusi tentunya akan memberikan kesempatan lebih besar bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan untuk meningkatkan kapasitasnya. Mereka ditempatkan di kelas pendidikan umum sesuai usia yang ada di lingkungan sekolah, sesuatu hal yang perlu dipahami orang tua dalam pendidikan inklusi.
 
Menjadi inklusif berarti kita membuka tangan lebar, merangkul siapa saja berbeda, tidak menjadi seseorang yang diskriminatif, mengembangkan toleransi, serta menciptakan keadilan dengan memberdayakan semua elemen masyarakat.
 
Jika Anda seorang pemimpin, Anda dapat mulai merekrut orang dari latar belakang yang berbeda. Jika Anda seorang ibu, Anda dapat mengizinkan anak Anda bergaul dengan anak dari lingkungan dan ras yang berbeda. Jika Anda pemilik bisnis, ciptakan lapangan pekerjaan untuk kelompok masyarakat kelas bawah, buat produk-produk yang mampu mereka manfaatkan. (f)
 

Bergabung dengan Indonesian Women's Forum 2019 di Bulan November 2019 untuk memperkaya perspektif tentang topik ini. Ikuti terus Instagram @feminamagazine, Facebook @feminamagazineindonesia, twitter @feminamagazine untuk update-nya.


Baca Juga: 
Potensi Wanita Asia di Mata Dr. Indigo
Selamat Datang di Dunia Kerja yang Baru
Kemampuan Yang Dicari Di Era Industri 4.0