Foto: Dok. Pribadi

Kemajuan teknologi digital membuat  tiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk berkarya. Namun, pada saat bersamaan, persaingan pun meningkat. Salah satunya di industri musik. Musik yang enak didengar saja tidak lagi menjadi jaminan sukses. Agar karya mereka menonjol, para musikus juga dituntut untuk memiliki keunikan. Seperti yang dilakukan oleh YouTuber Kaye & Kyla dan Nadya Rafika berikut ini.


 
MENJAGA TUTUR KATA
Kaye & Kyla (Subscribers: 16.821)


Terinspirasi dari duo Megan & Liz, penyanyi YouTube asal Amerika Serikat, kakak-beradik Kaye (19) dan Kyla (17) mulai gemar mengunggah video menyanyi mereka di YouTube sejak tahun 2010. Kala itu, Kaye yang masih kelas 1 SMP dan Kyla  kelas V SD meng-cover beragam lagu, terutama lagu-lagu idola mereka, Taylor Swift seperti lagu berjudul 22.  
Lagu-lagu itu mereka pilih atas saran dari orang-orang yang menonton video mereka saat itu. Kaye mengungkapkan, sebagian besar lagu yang mereka nyanyikan berbahasa Inggris karena sudah terbiasa memakai bahasa Inggris di sekolah. Mereka juga gemar mendengar lagu-lagu berbahasa Inggris.

Perlahan, jumlah subscriber mereka pun bertambah. Tidak sedikit pula yang terus mendorong mereka untuk  makin sering berkarya lewat kanal YouTube. Bahkan, para subscribers pun mendorong mereka mengikuti ajang Ride to Fame yang diselengarakan oleh sebuah merek ice cream pada tahun 2014.

Pada ajang yang diselenggarakan untuk mencari penyanyi pembuka konser Taylor Swift di Indonesia ini, peserta diwajibkan untuk mengunggah video menyanyi di YouTube. Kerja keras mereka tak sia-sia, mereka masuk dalam peringkat 5 besar di ajang itu. Meski tidak menjadi penyanyi pembuka konser, pencapaian pertama itu membuat mereka lebih bersemangat untuk berkarya di YouTube.

“Bagi kami, berkarya di YouTube itu seperti permainan yang mengasyikkan. Nagih banget,” ujar Kyla, tersenyum. Setelah ajang itu, mereka bisa mengunggah 2 video musik dalam seminggu. Selain karena alasan praktis, mereka memilih berkarya di YouTube karena merasa bisa lebih bebas mengekspresikan diri. Dari kanal itu pula  jaringan pertemanan mereka, khususnya sesama musikus YouTube, terbuka lebih luas.

Meski begitu, mereka menganggap YouTube juga memiliki kelemahan. Salah satunya, kebijakan yang mengatur sebagian lagu cover tidak akan bisa ditonton di beberapa negara karena aturan hak cipta. Ingin karya mereka didengarkan lebih banyak orang, Kaye dan Kyla pun tak mau terus-menerus mengandalkan lagu orang lain. Mereka mulai menulis lagu sendiri untuk dinyanyikan.

Hingga kini, mereka sudah mengunggah 6 lagu ciptaan sendiri di YouTube, salah satunya berjudul Bersamamu. Dibantu teman untuk membuat videoklipnya, video yang mereka garap dengan serius ini sukses menarik perhatian. Sejak diunggah pada Maret 2016 hingga akhir Januari 2017, lagu dan videoklip tersebut telah ditonton sekitar 18.900 kali.   

“Umumnya, kami merekam video sambil bernyanyi dan langsung mengunggahnya di YouTube, tanpa melalui proses rekaman suara terlebih dulu,” tutur Kaye. Selain alasan merepotkan bila melalui proses rekaman, mereka juga ingin terlihat natural, yang merupakan ciri khas.

Meski telah sukses lewat YouTube, mereka mengaku sempat tergoda juga untuk mencoba major label.  Namun, hasilnya sia-sia. Karya yang dikatakan akan diorbitkan, raib. Mereka juga kehilangan sejumlah uang. “Orang yang mengaku mampu memperjuangkan lagu-lagu kami, meminta uang, setelah itu dia menghilang,” ungkap Kaye.

Sejak kejadian itu, mereka jadi lebih selektif. Mereka tidak sembarangan lagi menerima saran orang-orang. Begitu juga kalau ada tawaran berkolaborasi. “Lebih baik kami nyanyikan sendiri. Kami bisa melihat tiap saat berapa kali video kami ditonton,” ujar Kyla, tegas. Untuk bertukar informasi tentang YouTube, Kaye dan Kyla pun sudah mendaftar sebagai member Famous.id, sebuah media online kreatif, tempat berkumpul para kreator video.

Lewat YouTube, mereka ingin menjadi diri sendiri tanpa harus dibentuk oleh pihak lain. Keluar dari zona nyaman dengan menghasilkan karya yang unik adalah cara mereka untuk mempertahankan jumlah views dan juga meningkatkan subscribers. “Dulu kami pernah terlalu nyaman dengan jumlah views yang puluhan hingga ratusan ribu. Kami pun jadi asal-asalan. Di video berikutnya, views menurun drastis. Lalu kami kapok dan lebih serius menjaga kualitas,” kata Kaye.

Konsisten mengunggah video secara rutin dan sabar menghadapi haters adalah cara mereka untuk mempertahankan popularitas. Mereka pun sangat menjaga nama baik dengan bertutur kata secara baik. “Kami tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, makian, dan menyebutkan nama-nama binatang untuk menghadapi komentar-komentar haters,” tutur Kaye. Keseriusan mereka membawa hasil manis. Sejak tahun 2015, mereka mulai mendapatkan tawaran pekerjaan untuk pentas. Beberapa di antaranya di acara malam final Wajah Femina 2016, serta di berbagai Pentas Seni (seni) sekolah.


Baca pengalaman Nadya Rafika di halaman berikutnya.
 
 
 
LEBIH BAIK BERDUA
Nadya Rafika (Subscribers: 644.350)


Gagal meraih gelar dalam ajang Mamamia Show 2007 yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta, tidak menghalangi langkah Nadya Rafika (26) untuk berkarya dan meraih kesuksesan. Setelah ajang itu, beragam pekerjaan di dunia entertainment pun sudah ia tekuni. Membintangi FTV, jadi host di beberapa stasiun televisi nasional dan lokal di Jakarta, juga menjadi master of ceremony (MC) di berbagai acara atau pesta pernikahan.

Dunia digital pun tak luput jadi ‘sasaran’ Nadya untuk menyalurkan talentanya di bidang musik. Awalnya, ia mengunggah beberapa lagu yang ia ciptakan dan nyanyikan lewat Soundcloud. Salah satu lagunya berjudul Dalam Penantian. Namun, namanya melambung lebih tinggi ketika ia mulai berkolaborasi dengan Eka Gustiwana, komposer ucapan (speech composer) pada tahun 2013. Salah satu lagu hasil kolaborasi mereka berjudul Demi Tuhan, terinspirasi dari ucapan Arya Wiguna, seorang pria yang berseteru dengan Eyang Subur karena merasa ditipu. Cerita ini sempat ramai diberitakan di infotainment karena melibatkan Adi Bing Slamet yang sebelumnya telah melaporkan Eyang Subur ke Majelis Ulama Indonesia atas tuduhan perdukunan dan ajaran sesat.  

Eka mengajak Nadya untuk menyanyikan ulang lagu itu dengan aransemen baru dan videoklip yang dibintangi oleh mereka berdua. “Video pertama yang Eka unggah di YouTube menarik perhatian jutaan orang. Dalam sebulan saja, ditonton sekitar 3 juta kali,” katanya. Kolaborasi mereka pun terus berlanjut. Salah satu karya mereka yang menjadi viral adalah mashup lagu Anime ‘90-an yang diunggah di channel pribadi Eka pada Agustus 2014. Lagu itu menarik perhatian jutaan orang karena mengingatkan mereka pada film-film di masa kecilnya.

Tawaran untuk menyanyi terus berdatangan setelah mereka dikenal lewat YouTube. Pentas di luar kota hingga ke Jepang sudah mereka jalani berdua. “Kami diundang ke Jepang untuk menyanyikan lagu mashup Anime ‘90-an itu,” tuturnya. Selain itu, Nadya juga telah menyanyikan beragam jingle berbagai perusahaan.

Di sela kesibukan mereka menggarap karya yang disebarkan lewat YouTube, Nayda dan Eka pernah menggarap dua single yang mereka launch lewat salah satu label. “Label tersebut yang mendorong saya dan Eka untuk duet. Dari pengalaman itu, kami banyak belajar tentang manajemen musik,” ungkapnya. Setelah kontrak berakhir, mereka pun membentuk manajemen sendiri bernama EkaNadya Management.

Dengan genre musik semi-jazz, Nadya sangat mudah beradaptasi dengan Eka yang lihai memainkan piano dan gitar. “Saya sebagai penyanyi, sedangkan Eka sebagai musikus yang bisa menciptakan lagu dan mengaransemen musik. Kami saling membutuhkan,” ujarnya. Lagu-lagu hasil kolaborasi selalu diunggah di kanal pribadi Eka yang memiliki jumlah subscribers sekitar 644.350.  

Nadya mengakui, ia memilih jalur digital khususnya YouTube untuk berkarya karena mudah, murah, dan dapat menghubungkannya dengan banyak orang dari berbagai penjuru dunia. “Saya tidak harus mengeluarkan uang untuk proses rekaman,” katanya, senang.

Agar bisa bertahan, Nadya dan Eka selalu total. Mulai dari tema, syair lagu, hingga  video mereka persiapkan agar disukai, bahkan akan menjadi viral. Riset tentang lagu-lagu yang dikompilasi selalu dilakukan karena menyatukan beragam judul lagu membutuhkan waktu lama agar tetap enak didengar. Seperti lagu bertemakan kegalauan yang mereka publish pada Agustus 2015 lalu. “Kami mengumpulkan lagu-lagu yang menggambarkan tentang kegalauan dari tahun ke tahun,” tuturnya. Kumpulan lagu galau ini ditonton lebih dari 1 juta kali.

Dengan menciptakan lagu dan memproduksi videoklip yang tidak asal-asalan, Nadya berharap bisa mengikat hati netizen di tengah persaingan YouTuber yang  makin ketat. “Tema lagu-lagu lawas seperti soundtrack sinetron ‘90-an merupakan keunikan dan daya tarik kami,” katanya. (f)

Baca juga:
Super Chat, Fitur Baru YouTube yang Akan Mendekatkan Penonton dan Bintang YouTube
Cara Memperoleh Royalti dari YouTube
Eka Gustiwana Video Unik Produser Muda