Petugas Patroli Perbatasan menahan sekelompok pencari suaka asal Amerika Tengah dekat perbatasan di McAllen, Texas. Foto: John Moore/Getty Images.

Sebuah peristiwa dramatis kembali terjadi di Amerika Serikat. Rabu (20/06) waktu Washington, AS, atau Kamis (21/6) waktu Indonesia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani surat perintah eksekutif untuk mengakhiri kebijakan pemisahan anak-anak dari orang tua mereka di perbatasan AS – Meksiko.

“Saya tidak menyukai pemandangan atau perasaan yang muncul saat keluarga-keluarga dipisahkan,” ungkap Trump saat menandatangani surat perintah itu di Ruang Oval Gedung Putih.
 
Keputusan Trump ini menyusul luapan kemarahan dari masyarakat dan politisi terhadap kebijakan yang dipandang tidak manusiawi dan tidak berhati itu.  Sejak kebijakan zero toleransi terhadap warga imigran gelap itu dicanangkan, lebih dari 2.300 anak-anak dipisahkan paksa dari kedua orang tua mereka.

Michigan Departement of Civil Rights, Selasa (19/6) lalu melaporkan fakta mengkhawatirkan bahwa usia anak-anak yang berada di penampungan jauh lebih muda dari anak-anak yang sebelumnya. Beberapa bahkan masih bayi berusia sekitar tiga bulan yang belum bisa menentukan atau membela nasib mereka sendiri.

Namun demikian, di tengah protes keras tersebut, Trump tetap berpendirian untuk memberlakukan kebijakan zero toleransi terhadap warga imigran ilegal. Anak-anak memang akan tetap bersama dengan keluarga mereka, tapi sebagai gantinya mereka akan tinggal dalam tahanan, bersama dengan keluarga-keluarga imigran lainnya.
 
“Surat peritah ini dibuat untuk menjaga kesatuan keluarga, sembari tetap memastikan bahwa kita memiliki perbatasan yang berjaya, sangat kuat, dengan pengamanan perbatasan yang sama kuatnya, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya,” ungkap Trump yang saat penandatanganan didampingi oleh Wakil Presiden Mike Pence dan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen.

Associate Director Hubungan Pemerintahan di American Immigration Lawyers Association Kate Voigt melontarkan kritik tajam terhadap keputusan Trump ini. Menurutnya, pada dasarnya Trump hanya menyatukan anak-anak itu untuk berada di tahanan yang sama bersama orang tua mereka.

“Ini jelas bukan bentuk solusi terhadap pemisahan keluarga. Kebijakan Zero Toleransi tetap berdampak dan inilah yang menjadi akar dari krisis tercerai-berainya keluarga yang diciptakan oleh pemerintahan Trump,” ungkap Kate kepada The Guardian.
 
 


Seorang wanita dan anaknya yang masih kecil menunggu di penampungan para pencari suaka di Tijuana, Meksiko. Foto: Nina Lakhani/The Guardian

Apa yang dikhawatirkan oleh Kate Voigt tergambar jelas pada suasana persidangan terhadap 74 imigran gelap, kebanyakan dari Amerika Tengah, di Pengadilan McAllen, Texas, Amerika Serikat, menjelang Trump menandatangani surat perintah eksekutif.

Pengacara para imigran tersebut mengatakan bahwa 24 dari 74 imigran yang siap menjalani persidangan itu adalah para orang tua yang dipisahkan dari anak-anak mereka oleh pihak berwenang AS saat tertangkap di perbatasan.

Seorang ayah bernama Oscar Rox-Flores, imigran asal Guatemala yang dipisahkan dari putrinya, dua hari sebelumnya di perbatasan AS – Meksiko, berharap agar Hakim bersedia mengabulkan permohonannya.   

“Dalam kasus ini, saya bersama dengan putri saya,” kata Oscar kepada Hakim J. Scott Hacker, “Saya memohon agar kami dideportasi, sehingga kami bisa kembali pulang bersama-sama,” lanjutnya penuh harap.

Sayangnya, Hakim tidak bisa memberikan jaminan terhadap permohonannya ini. “Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Semoga prosedurnya tersedia,” jawab Hakim Hacker.

Sementara itu, puluhan wanita pencari suaka yang tinggal di penampungan biarawati Madre Assunta Scalabrini di Tijuana, Meksiko, masih berharap bahwa mereka bisa meraih hati pemerintah AS dan memulai hidup baru di negara berlambang dewi keadilan Liberty itu.

Ana Ramirez (34) tiba di penampungan itu sekitar 12 hari yang lalu. Bersama anaknya yang berusia 17, 11, dan cucunya yang berusia 18 bulan, ia melarikan diri dari kota di pesisir pantai Acapulco, Meksiko Selatan.

Keputusan untuk meninggalkan Meksiko dan mencari suaka ini bahkan disarankan oleh staf pemerintah setempat. Sebab, Jika tidak, maka sekelompok pria dengan seragam tentara, akan membunuh seluruh keluarganya. Kecuali, jika Ana merelakan putra tertuanya yang masih duduk di bangku SMA untuk berjualan narkoba bagi mereka.

“Saya punya bukti, jika kami kembali, maka mereka akan membunuh putra saya dan kami semua. Saya berusaha untuk menjaga keutuhan keluarga kami…Saya mencari suaka, saya tidak akan menerobos perbatasan secara ilegal,” ungkap Ana kepada The Guardian. Setelah sempat berada di urutan 1.000 dalam daftar pencari suaka, kini Ana telah berada di urutan ke-400. (f)

Baca Juga:
Ketika Trump Memisahkan Anak-Anak dari Ibu Mereka
Merasa Tidak Disukai Presiden Trump Karena Perselingkuhannya, Kristen Stewart Buka Suara
10 Fakta Barron Trump, First Boy di Gedung Putih Setelah Era Presiden John F. Kennedy