Foto: Dok. Satgas COVID-19


Satgas Penanganan COVID-19 meluncurkan sebuah inovasi baru dalam penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. Koordinasi Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito menyebut inovasi dari bidang Data dan IT Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 ini dikenal  sebagai "Sistem Bersatu Lawan COVID-19 (BLC) Monitoring Perubahan Perilaku".

Sistem ini dirancang untuk menghasilkan data yang realtime, terintegrasi, sistematis, interoperabilitas, dan sistem yang melibatkan koordinasi antar lintas sektor. "Melalui sistem ini, petugas di lapangan dapat memasukkan berbagai data terkait dengan pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan masyarakat di lokasi-lokasi pengawasan secara real time," kata Prof. Wiku.

Data yang dimasukkan para petugas di lapangan, akan diolah menjadi data statistik untuk mengetahui lokasi atau area terbanyak dengan lokasi geografisnya, dan menemukan pelanggaran protokol kesehatan. Data statistik itu nantinya dapat digunakan untuk mengoptimalisasi pelaksanaan operasi yustisi.

Prof. Wiku menjabarkan, salah satu fitur yang terdapat dalam sistem BLC Perubahan Perilaku ialah kuesioner untuk melaporkan kerumunan yang terjadi dan juga memonitor kepatuhan individu dan institusi terhadap protokol kesehatan. Termasuk dapat digunakan memetakan lokasi dan institusi yang perlu meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Hasil pelaporan monitoring dalam sistem itu, berbentuk sebuah dashboard nasional yang berbentuk alat navigasi. Saat ini sistem monitoring sudah berjalan selama 4 minggu, dan sudah ada 18.960.212 orang yang dipantu dengan 3.480.380 titik pantau di seluruh Indonesia yang termasuk dalam 485 kabupaten/kota.

"Data yang dihasilkan bersifat realtime, dan akan terus diperbarui berdasarkan laporan yang masuk, melalui dashboard ini pula dapat diketahui jumlah orang yang dipantau, titik pemantauan, jumlah kabupaten/kota serta provinsi yang dipantau," papar Wiku.

Melalui dashboard itu juga dapat dipetakan wilayah di Indonesia yang perlu ditingkatkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan. Data-data itu akan diolah didalam aplikasi dan dapat digunakan untuk menentukan kebijakan mendorong perubahan perilaku masyarakat di tengah pandemi COVID-19.

Dalam mengoperasikan sistem ini, Satgas Penanganan COVID-19 mempertimbangkan aspek kemitraan atau pentahelix. Prof. Wiku mengakui hal itu dikarenakan pihaknya tidak dapat bekerja sendiri dalam memerangi pandemi. Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak termasuk kalangan masyarakat.

Selain personil TNI dan Polri, ada juga duta perubahan perilaku sebanyak 17.199 orang yang terdiri dari PLKB atau petugas lapangan Keluarga Berencana dari BKKBN, mahasiswa dan dosen, Koalisi Kependudukan Indonesia, Koalisi Muda Kependudukan dan Sat Pol PP. Para petugas ini di lapangan melaporkan setiap detik kepada sistem ini.

Untuk itu, Prof. Wiku memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pihak yang sudah terlibat. Dan sistem ini kedepannya dapat menjadi alat navigasi sebagai upaya lanjutan perubahan perilaku dan arahan strategis komunikasi publik kedepannya. "Ingat, tidak ada toleransi atas ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan. Jika sudah ada bukti terkait pelanggaran harus ditindak dengan tegas," kata Prof. Wiku.

Baca Selanjutnya: 3,8 Juta Titik Terpantau Aplikasi Monitoring Perubahan Perilaku

 

 


Foto: Dok. Satgas Penangan COVID-19


3,8 Juta Titik Terpantau Aplikasi Monitoring Perubahan Perilaku

Sistem Aplikasi Monitoring Perubahan Perilaku sudah diterapkan di 3,8 juta titik yang tersebar di 494 Kabupaten/Kota di 34 provinsi seluruh Indonesia. Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penangan COVID-19, Dr. Dewi Nur Aisyah mengatakan sistem aplikasi ini melihat titik kerumunan orang yang dilaporkan oleh petugas di lapangan. Selain itu data masuk di dashboard tersebut dikumpulkan untuk kemudian dilakukan analisa.

Petugas melaporkan kerumunan dan memasukkan data sekaligus foto. Misalnya kerumunan di pasar, mall, tempat wisata, dan tempat hiburan untuk memantau kepatuhan masyarakat yang rawan kerumunan.

"Aplikasi didesain khusus agar petugas lapangan dari TNI, Polri, Satpol PP, dan Duta Perubahan Perilaku langsung memantau. Para petugas tersebut langsung entry angka, setelah itu dianalisis, dan keluar hasil," ujar Dr. Dewi dalam talkshow Covid dalam Angka: Aplikasi Monitoring Perubahan Perilaku di Media Center Satgas Penanganan Covid-19 Graha BNPB Jakarta pada Kamis (29/10) pagi.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Dr. Sonny Harry B. Harmadi mengatakan Duta Perubahan Perilaku yang terbentuk sejak September 2020 berjumlah 17.223 orang dari rencana sebanyak 28.000 orang.

Petugas di lapangan melakukan sosialisasi perubahan perilaku dengan target spesifik untuk perubahan. Adapun target yang disasar adalah petugas lapangan penyuluh KB, pendamping desa, dan juga datang door to door ke rumah target keluarga.

Sementara Duta Perubahan Perilaku, yang merupakan mahasiswa-mahasiswi, bertugas mendatangi tokoh-tokoh masyarakat, komunitas, pesantren, kantor, dan rumah makan.

"Mereka juga melaporkan hasil. Mereka juga harus jadi teladan. Mereka juga monitor kerumunan," jelas Dr. Sonny. Meski begitu, aplikasi ini sementara baru bisa dipakai untuk pengguna android. (f)


Baca Juga: 
Berencana Nonton di Bioskop Pekan Ini? Begini Protokol Kesehatan Cegah COVID-19
Prof Wiku: Masyarakat Perlu Informasi yang Tepat Tentang Vaksin COVID-19
5 Kabar Baik dari Penanganan COVID-19 di Indonesia