Foto: NORA

Stereotipe tentang wanita telah menjadi sebuah gagasan yang kontroversial dari generasi ke generasi. Sebagian menyetujui, tapi banyak juga yang tidak percaya dengan stereotipe tertentu pada wanita. Apakah kaum pria saat ini juga masih percaya stereotipe yang berdasar pada gender? 

Hal ini langsung dibantah oleh William Sabandar, Direktur Utama PT. MRT Jakarta, saat menjadi panelis dalam salah satu sesi acara Indonesian Women's Forum 2019 bertajuk  Men’s View.

The role of women is very instrumental,” ujar William.

Ia pun menjabarkan bukti bahwa, 33% divisi direktorat konstruksi saat ini dipegang oleh wanita. Menurut William, konstribusi wanita di PT. MRT Jakarta membuktikan bahwa tidak akuratnya stereotipe yang berasumsi bahwa wanita tidak mampu untuk menjadi pemimpin.

Dengan karakteristik wanita yang gigih konstruksi MRT berhasil selesai setahun lebih cepat, memberikan on time performance, dan dapat menampung lebih dari 100,000 penumpang setiap harinya.

They’re very persistentYou put your commitment, dan itu akan di kejar sampai titik darah penghabisan, ” ungkap William.


William Sabandar, Direktur Utama PT. MRT Jakarta. / Foto: NORA

Hal senada juga dikatakan oleh Handry Satriago (CEO GE Indonesia). Apalagi berdasarkan pengalamannya, sebuah tim justru akan menjadi lebih baik jika kesenjangan gender diminimalisir.

"Why should we bother with gender gap? Perusahaan dengan gender gap yang lebih kecil, ternyata mampu meningkatkan difference of equity,” ungkap Handry.

Ia yakin gender gap sangat memberi pengaruh kepada kemakmuran sebuah negara. Menurutnya, keberagaman dan kompatibilas serta kreatifitas dan inovasi adalah hal-hal yang diperlukan pada setiap tim, bukan peran gender.

Handry Satriago, CEO GE Indonesia / Foto: NORA

Sementara itu Ernest Prakasa, komika, memandang dinamika tentang peran wanita dalam masyarakat dimulai dari rumah. Sebagai pria yang dibesarkan oleh ibu yang berkarier, ia tidak merasa asing dengan aktivitas wanita yang luas.

Menurut Ernest, berdayanya wanita juga ikut memengaruhi power sharing dalam rumah tangga. “Saya perhatikan, semakin istri saya empowered, semakin dia lebih percaya diri untuk menjadi the decision maker.”

Meski ini kemudian membuat perubahan dinamika dalam rumah tangga, bagi Ernest, dominannya peran istri di dalam rumah tangga bukanlah hal yang buruk.  


Ernest Prakasa, komika, sutradara, penulis skenario, aktor. / Foto: NORA
 
 

 
Foto: Belinda

​Pernyataan-pernyataan dari ketiga panelis pun mengundang pertanyaan dari audiensi.  “Apakah mempunyai karakteristik keibuan dan emosional dianggap negatif jika dilihat dari kacamata perusahaan?”
“Apakah dengan mempunyai keterbatasan, seperti menjadi single mom, juga dilihat sebagai hal negatif dalam perusahaan?” 
“Mengapa pada situasi yang sama, bos wanita dipandang lebih bossy, sementara bos lelaki dianggap tegas?”

Menanggapi pertanyaan soal sikap perusahaan, Handry kembali mengatakan bahwa semua orang harus bisa berpikir secara rasional. Perusahaan yang baik percaya bahwa single mom atau single dad bisa memberi kontribusi sama baiknya dengan siapa pun. 

Nothing is related to gender, it’s all about whether you perform or not perform,” ujar Handry. Baginya, menjadi seorang single parent seperti dirinya tidak menjadikan alasan untuk tidak memberikan kinerja yang maksimal. 

Soal bossy? Ketiga panelis setuju bahwa mempunyai sifat bossy adalah karakteristik masing-masing orang, dan tidak ada kaitannya dengan gender.  Ernest menambahkan, bagaimana semua orang dibesarkan memiliki dampak besar saat dewasa nanti, termasuk karakter bossy ini.

“Untuk menjadi maju, stereotipe harus bisa dibuang jauh-jauh,” ujar Petty S. Fatimah, Editor in Chief Femina & Direktur Editorial PT Prana Dinamika Sejahtera yang menjadi moderator, menyimpulkan hasil diskusi panel sesi ini. (f)
 

Belinda Furati Millenia (Kontributor)

Editor : Nuri Fajriati