Foto: Pexels


 
Di tengah pandemi COVID-19 masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap ancaman penyakit lain, seperti demam berdarah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lebih dari 65 ribu kasus demam berdarah di seluruh Indonesia.

Angka kematian penyakit demam berdarah termasuk tinggi yakni hampir 400 jiwa. Hal ini menjadi tantangan di masa krisis COVID-19, khususnya terhadap masyarakat di wilayah-wilayah endemis malaria. Kemenkes mencatat pada tahun ini kasus demam berdarah mencapai 100 hingga 500 kasus per hari.

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, menyampaikan masyarakat perlu waspada dengan ancaman penyakit yang disebabkan oleh nyamuk tersebut, terutama di daerah dengan angka kasus COVID-19 yang tinggi, seperti di Provinsi Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

Menurutnya, demam berdarah adalah suatu penyakit yang sampai sekarang juga belum ada obatnya. “Vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya untuk mencegahnya adalah kita menghindari gigitan nyamuk. Seperti halnya COVID-19 ini juga disebabkan oleh virus,” ucap dr. Siti.

dr. Siti menyampaikan tiga tantangan yang dihadapi masyarakat dalam ancaman penyakit demam berdarah di tengah wabah COVID-19. Pertama, kegiatan jumantik atau juru pemantau jentik menjadi tidak optimal karena saat ini menuntut adanya social distancing.

Kedua, sudut-sudut bagian bangunan seperti mushola, tempat ibadah, dan bangunan lain yang ditinggalkan dapat menjadi sarang nyamuk karena kebijakan kerja dan belajar dari rumah. Ketiga, penting untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) karena masyarakat banyak berada di rumah.

Lebih lanjut ia berharap bahwa saat beradaptasi dengan kebiasaan baru seperti sekarang, masyarakat dapat memanfaatkan waktu untuk pemberantasan sarang nyamuk. Hal tersebut dapat dilakukan di sekolah, rumah ibadah, atau hotel.

dr.Siti juga menekankan keluarga untuk berinisiatif dalam pemberantasan nyamuk sehingga demam berdarah bisa dicegah. Masyarakat dapat melakukan pencegahan utama melalui 3 M yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang.

“Selain tentunya ventilasi yang baik, kemudian tidak menumpuk baju, digantung seperti itu, karena nyamuk sangat senang sekali bergelantungan. Itu memang sifatnya nyamuk, bergelantungan, karena sejuk,” kata dr. Siti saat menjelaskan mengenai langkah 3 M.

Lanjut ke halaman berikutnya : Perbedaan Gejala COVID-19 dengan DBD.



BACA JUGA:
Twitter Luncurkan Notifikasi Khusus Kekerasan Berbasis Gender
Sambut Hari Keluarga Nasional, Facebook Luncurkan Grup Pengasuhan Anak
Jawaban Mendikbud Nadiem Makarim Seputar Sekolah Selama Pandemi COVID-19

 


 
 
 

Foto: Pexels
 
 
Perbedaan Gejala COVID-19 dengan DBD


Nyamuk aedes aegypti atau nyamuk demam berdarah (DBD) memiliki perilaku mengigit pada pagi dan sore hari. dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), ahli infeksi dan pedriati tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa nyamuk menggigit antara jam 10 sampai jam 12 siang. Gigitan nyamuk bisa menyerang semua kelompok umur.

Demam pada anak perlu diwaspadai para orang tua karena ini merupakan salah satu gejala DBD. Apabila menemui kondisi ini, penderita harus banyak meminum air dan jangan sampai dehidrasi.

"Awasi asupan minum, kedua awasi buang air kecilnya. Biasanya kalau cukup asupan cairannya, dia 4 sampai 6 jam harusnya buang air kecil, dan awasi aktivitasnya," pesan dr.Mulya.

Namun, apabila gejala semakin memburuk seperti muntah terus menerus dan tidak buang air lebih dari 12 jam, penderita harus segera mendapatkan perawatan medis.

Berbeda dengan gejala COVID-19 yang menyerang sistem saluran napas atas, maka gejala DBD umumnya demam dan pendarahan kulit yang perlu diwaspadai. Pendarahan tersebut antara lain dalam bentuk mimisan, gusi berdarah, atau memar.

"Itu yang tidak ada pada COVID-19, pendarahan spontan, mimisan, gusi berdarah, atau timbul bintik-bintik merah di kulit, itu bisa terjadi," tuturnya.

Di samping itu, penderita DBD biasanya mengalami panas mendadak, kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah, dan dapat disertai pendarahan.

dr. Mulya menjelaskan apabila panas yang dialami penderita DBD tak kunjung turun hingga hari ketiga, ia harus meminum air. Panas tinggi menunjukkan infeksi virus di dalam tubuh penderita. "Nah, kalau demam 2 sampai 3 hari tidak membaik, segera ke rumah sakit," kata dr. Mulya.(f)

 

BACA JUGA:
Twitter Luncurkan Notifikasi Khusus Kekerasan Berbasis Gender
Sambut Hari Keluarga Nasional, Facebook Luncurkan Grup Pengasuhan Anak
Jawaban Mendikbud Nadiem Makarim Seputar Sekolah Selama Pandemi COVID-19