![]()
Foto: Pixabay
Di tengah perjuangan kita melawan Covid-19 dan selama virus baru ini banyak yang masih perlu kita ketahui, menerapkan protokol kesehatan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak adalah cara terbaik untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.
Namun untuk menekan angka penyebaran COVID-19 perlu dukungan semua lapisan masyarakat. Bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan telah dilakukan dalam berbagai cara dan kesempatan.
Hasilnya, data BPS menyebutkan 90% masyarakat Indonesia telah mengetahui tentang pentingnya penggunaan masker untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 yang dapat disebarkan melalui droplet ini. Namun, mengapa angka positif COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah?
Menurut Doni Monardo, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19/Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dalam sesi talkshow spesial “Media Bertanya Doni Monardo Menjawab” pada Jumat (9/10) di Graha BNPB, walaupun masyarakt sudah terbiasa menggunakan masker, namun masih banyak yang tidak tahu bagaimana cara menggunakan masker yang tepat.
Doni pun kembali mengingatkan bahwa menggunakan masker saja tidak cukup, tapi gunakan masker dengan cara yang tepat yang dapat menutup hidung dan mulut dengan baik dan melindungi dari droplet. Pilih masker medis atau masker kain yang memiliki 3 lapisan. Selain itu, rutin mengganti masker juga perlu agar kebersihannya tetap terjaga.
Ahli epidemologi sekaligus Ketua Bidang Data & IT Satgas Penangan COVID-19, Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, DIC, PhD dalam acara live Instagram bersama @feminamagazine yang berlangsung pada Kamis (8/10) menjelaskan bagaimana protokol mengenakan masker agar hasilnya efektif:
- Selalu kenakan masker saat beraktivitas di luar rumah
- Pastikan masker yang dikenakan bersih dan memiliki kualitas yang baik
- Saat mengenakan masker jangan dibolak-balik. Gunakan hanya satu sisi untuk bagian dalam
- Saat membuka masker, pastikan tangan dalam keadaan bersih. Dan buka dengan cara memegang bagian tali masker
- Setelah dibuka, letakkan masker yang dipakai di tempat yang bersih. Lipa dibagian sisi dalamnya, agar ketika dipakai kembali tetap bersih tidak terkontaminasi benda lainnya.

Foto: Pixabay
Pasien dengan Komorbid Bisa Sembuh
Selain penggunaan masker yang belum tepat, salah satu yang juga mendorong tetap terjadinya penularan COVID-19 adalah masih lemahnya penerapan protokol jaga jarak. Menurut Doni, hampir 90% pasien yang ada di Wisma Atlet adalah pengguna masker. Namun mereka masih terpapar COVID-19. Mengapa?
Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa meski telah menggunakan masker, namun mereka tidak dengan ketat melakukan protokol jaga jarak. “Rata-rata mereka terpapar saat melakukan kegiatan makan. Saat makan, kita melepas masker, namun jaraknya tidak diatur, tidak ada yang mengingatkan. Jadi, sosialisasi jaga jarak ini yang perlu ditingkatkan lagi,” ungkap Doni.
Doni kembali mengingatkan tentang masalah disiplin yang menjadi kunci utama untuk bisa selamat. “Kita disiplin saja belum tentu berhasil terhindar. Karena virus ini menyerang kita 24 jam tanoa henti. Kita lalai bisa langsung terpapar. Dari tangan yang tanpa sengaja terpapar COVID19 menyentuh masker, wajah, mata, hidung, lalu kita bisa positif COVID19. Mematuhi protokol kesehatan adalah hal yang tidak boleh ditawar-tawar kita harus mampu mengadaptasi,” ungkap Doni.
Dalam kesempatan yang sama, Doni juga mengajak pasien risiko tinggi, yaitu pasien dengan komorbid untuk terus menerapkan protokol 3M dengan lebih ketat. Karena seperti diketahui angka kematian pasien positif COVID19 dengan komorbid ini cukup tinggi.
Meski begitu, menurut Doni, pasien dengan komorbid yang positif COVID-19 memiliki peluang untuk sembuh, selama bisa mendeteksi kesehatannya sejak dini. “Jadi kalau memang kita komorbid, merasakan gejala-gejalanya, walaupun ringan, segera periksa ke dokter. Kalau sudah positif, segera ditangani sejak dini,” katanya.
Data menyebutkan pasien komorbid positif COVID-19 dengan risiko ringan bisa sembuh 100%. Pasien dengan risiko rendah tingkat kematiannya mencapai 8% dan pada risiko kritis, tingkat kematiannya mencapai 67%. “Jadi harus sejak dini ditangani. Jangans ampai masuk ke fase sedang atau berat. Proses dari gejala ringan ke sedang bisa sampai seminggu. Tapi dari sedang ke berat, hanya butuh hitungan jam,” jelas Doni.
Jika kita mengetahui memiliki komorbid seperti diabetes, jantung hipertensi, jangan ambil risiko. Jangan beraktivitas di ruang publik, masker jangan dilepas, gunakan dengan baik, dan pilih masker yang baik. (f)

Baca Juga:
Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan
Tren Penularan COVID-19 Terjadi dari Orang Terdekat, Lakukan Langkah Pencegahan
BPS : Wanita Lebih Patuh Protokol Kesehatan Dibanding Pria