Dok. Pexels


Tahun 2020 adalah tahunnya 'perubahan'. Suka atau tidak, pandemi Covid-19 telah menguji ketahanan kita. Memaksa dunia berubah dan membuat kita harus siap menghadapi segala sesuatu yang tak pasti dan bersikap lebih adaptif.

Memasuki 2021, kita dihadapkan pada pertanyaan, akan seperti apa dunia pasca pandemi?

Ini dia beberapa perubahan yang akan terjadi di tahun 2021 menurut beberapa sumber :

1. Vaksin Bukan Berarti Kembali Normal
Kendati vaksin Covid-19 sudah mulai ada di sekitar kita dan membuat kita merasa lebih aman, bukan berarti keadaan akan kembali normal. Memang, vaksin yang kini sudah digunakan oleh sebagian orang, salah satunya adalah Presiden RI Joko Widodo, bisa membuat kita kebal terhadap penyakit ini pada periode waktu tertentu. Namun bukan berarti mengendurkan kehati-hatian terhadap ancaman yang masih melekat erat pada virus ini. 

Protokol kesehatan 3M masih tetap harus dilakukan. Menjaga jarak, mengenakan masker dan rajin mencuci tangan adalah mandatori kehidupan baru saat ini. 

"Janganlah berpikir bahwa dengan ada vaksin maka semua beres. Justru protokol kesehatan tetap harus dijaga dan dilakukan dengan lebih ketat. Apalagi ada ancaman reinfeksi. Lagipula ini vaksin baru dari penyakit yang baru juga, sehingga kita masih sama-sama belajar untuk mengetahuinya lebih dalam lagi. Kita belum tahu proteksinya berapa lama," ujar  - Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K), Satgas Waspada dan Siaga COVID-19 - PB IDI.

2. Tak Ada Lagi Sistem Kerja 9 to 5
Tahun 2020 menjadi tahunnya dunia kerja 'dipaksa' untuk keluar dari zona nyaman. Para pekerja harus bisa bekerja dari jarak jauh dan saling berkomunikasi secara virtual. Namun pertanyaannya adalah, kapan sistem kerja di kantor atau work from office akan kembali diberlakukan?

Pertanyaan ini belum bisa ditemukan jawaban pastinya, mengingat saat ini pemerintah memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan pembatasan hingga 75%. 

Namun, jika tiba nanti waktunya lebih aman bagi para pekerja untuk kembali ke kantor, akan makin banyak perusahaan yang menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel. Yaitu perusahaan akan mengizinkan karyawan bekerja tiga hari di kantor dan dua hari di rumah selama seminggu. 

Bahkan menurut Ashley Whillans, seorang profesor di Harvard Business School menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel lagi dengan memberikan kebebasan karyawannya untuk bekerja jarak jauh. Namun, penerapan ini sangat bergantung pada industri kerjanya.  

3. Peluang Wanita di Jajaran Direksi Lebih Tinggi
Wanita adalah salah satu golongan yang paling rentan terdampak pandemi, baik karena mereka kehilangan pekerjaan, ancaman kekerasan dalam rumah tangga hingga beban ganda karena harus bekerja sekaligus mengurus anak di rumah. 

Kendati demikian, ada tanda-tanda bahwa dalam jajaran tinggi perusahaan, kehadiran pemimpin wanita justru menunjukkan tren positif. Menurut laporan tahunan LinkedIn, makin banyak wanita yang mengisi posisi eksekutif selama masa pandemi. 

Bahkan, pada tahun 2020, ada lebih banyak CEO wanita di daftar Fortune 500 daripada sebelumnya. Selama pandemi, Jane Fraser menjadi CEO wanita pertama di Wall Street Bank dan Karen Lynch menjadi CEO perusahaan perawatan kesehatan terbesar di dunia, CVS Health. Hal ini pun menjadi sinyal baik bahwa menempatkan lebih banyak wanita di posisi kepemimpinan memiliki peran yang penting untuk membawa perubahan. 


Lanjut ke halaman berikutnya.

 
 
 

Dok. Pexels


4. Layanan Streaming Menggantikan Bioskop?
Industri hiburan adalah salah satu yang juga terpukul keras karena pandemi. Konser-konser ditiadakan dan banyak bioskop harus tutup untuk waktu yang lama. 

Namun di saat yang bersamaan, ini juga menjadi tahun penuh keuntungan bagi bisnis layanan streaming. Bukan tanpa sebab, salah satu cara untuk menghibur diri menikmati film tanpa harus ke bioskop adalah dengan menyaksikan film atau drama dan konten sejenis lainnya di layanan streaming yang sekarang makin banyak tersedia. 

Pada akhirnya, para sineas yang tak bisa merilis film mereka di bioskop, memilih layanan streaming untuk memamerkan karyanya. Salah satu contohnya adalah film Mulan yang dirilis di layanan streaming Disney + Hotstar. Konon, tren ini akan terus berkembang di masa depan. 

5. Sistem Belajar Virtual yang Lebih Interaktif
Dunia pendidikan menghadapi frustasi yang hebat karena pandemi. Secara tiba-tiba sistem belajar mengajar harus dilakukan jarak jauh, membuat guru sulit untuk memantau murid mereka, dan membuat para pelajar juga lebih susah memahami materi pelajaran yang diberikan melalui kelas virtual. Hal ini pun memengaruhi partisipasi aktif para murid dalam proses belajar yang menjadi sangat minim. 

Menurut Daphne Koller, profesor ilmu komputer di Stanford, perlu diciptakan sistem pengajaran interaktif yang menggunakan teknologi, demi memenuhi kebutuhan unik proses belajar mengajar di tengah pandemi ini. 

Daphne pun mengemukakan idenya yang mungkin saja bisa menjadikan kelas virtual lebih interaktif. Misalnya, membuat beberapa grup atau kelas virtual yang masing-masing hanya terdiri dari maksimal delapan siswa. Namun pengajar bisa menyampaikan langsung kepada beberapa grup tersebut sekaligus. Daphne mengaku sistem ini masih dalam pengembangan dan dianggap bisa menjadi solusi. 

6. Sistem Langganan untuk Industri Pariwisata 
Pandemi membuat industri pariwisata terpuruk jauh. Perusahaan maskapai banyak yang bangkrut, hotel banyak yang gulung tikar dan destinasi-destinasi wisata kosong melompong. Dengan keadaan yang masih penuh ketidakpastian, industri pariwisata pun dipaksa untuk keluar dari zona nyamannya dan memulai cara baru.

Yaitu langganan perjalanan atau travel subscription. Ini menjadi model bisnis baru yang banyak dipilih sejumlah perusahaan perjalanan untuk bisa bertahan di tengah pandemi. Misalnya, Tripadvisor meluncurkan layanan langganan tahunan Tripadvisor Plus untuk menawarkan akses ke daerah-daerah wisata tertentu dan fasilitas lainnya. Beberapa maskapai seperti Air Asia juga bereksperimen dengan memberlakukan langganan perjalanan Unlimited Pass, dimana mereka memberikan tarif tetap bagi pelanggan untuk perjalanan domestik. 

7. Gelombang Baru Wirausaha
Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan sulitnya mendapatkan pekerjaan di bursa kerja dampak pandemi, mendorong banyak orang menggantungkan sumber pendapatan mereka dengan menjadi wirausaha. Tak heran jika banyak bertumbuhan bisnis-bisnis baru aneka rupa. 

Terlebih lagi, bisnis-bisnis retail dan besar lainnya banyak yang tumbang, membuat tumbuhnya gelombang baru wirausaha selama pandemi ini jadi lebih variatif dan berorientasi pada produk lokal. Karena semakin banyak bisnis-bisnis baru, layanan-layanan training untuk para UKM pun jadi kian diminati. (f)



BACA JUGA :
Ramalan Zodiak 2021 Pisces Paling Beruntung
Indonesia Targetkan Populasi Usia Produktif untuk Vaksin COVID-19, Ini Alasannya
Lakukan 10 Langkah Ini untuk Kehidupan yang Lebih Bahagia di Tahun 2021