Foto:Freepik
 
Sudah tujuh bulan sejak kasus Covid-19 pertama kali mucul di Indonesia. Pembatasan Sosisal Berskala Besar sudah dua kali dilakukan di Jakarta. tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran virus ini terus dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19.

Dengan segala macam permasalahan yang mucul akibat pandemi ini, ada kabar baik yang berhambus.
 
1/Peningkatan Jumlah Pasien Sembuh Covid
Penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan hingga hari ini Senin 12 Oktober 2020.
Berdasarkan data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEC), kasus aktif COVID-19 per hari ini berada pada angka 19,97 persen. Hal itu jauh lebih baik apabila dibandingkan pada periode sebelumnya yakni 22,1 persen.

Kemudian tingkat rata-rata kesembuhan atau recovery rate sudah mencapai angka 76,48%.  Angka ini lebih tinggi dari rata-rata dunia yakni 75,0%. Faktor yang mempengaruhi angka kesembuhan tersebut adalah adanya penurunan kasus aktif di beberapa provinsi di Indonesia.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan kasus aktif atau pasien yang masih menjalani perawatan, cenderung mengalami penurunan cukup signifikan. "Jika melihat kasus kumulatif, angkanya memang terus meningkat. Yang perlu menjadi perhatian adalah kasus aktif, karena kasus aktif di Indonesia cenderung mengalami penurunan setiap minggunya," ujarnya

Untuk total kasus aktif saat ini berjumlah 66.262 orang, sebanyak 3.492 orang diantaranya telah selesai menjalani isolasi. Jumlah pasien sembuh dari Covid-19 sejauh ini sebanyak 258.519 kasus.

Selain itu pada sisi penanganan kematian pasien Covid-19, pekan ini secara nasional jumlah kematian mengalami penurunan sebesar 7,7% dibandingkan pekan sebelumnya. Dibandingkan sejak awal pandemi pada Maret lalu, pemerintah berhasil menekan kematian hingga 3,55%.  
 Baca jelanjutnya: Angka Kematian Kenurun
 

Foto: Freepik
 
2/Angka Kematian Menurun
Secara persentase kematian tertinggi berada di Jawa Timur (7,31%), Jawa Tengah (6,08%), Nusa Tenggara Barat (5,94%), Sumatera Selatan (5,63%) dan Bengkulu (5,08%). Lalu penyumbang angka kematian tertinggi per 4 Oktober 2020 dari Kalimantan Timur (35), Jawa Barat (25), Sumatera Barat (20), Aceh (17) dan Papua (15).

Kabar baiknya, kata Wiku, dari 514 kabupaten/kota, sebanyak 374 (72,76%) kabupaten/kota berhasil menekan angka kematian dibawah 10 orang. Satgas Penanganan Covid-19 sangat mengapresiasi keberhasilan ini. Namun Wiku tetap berpesan bahwa satu kematian pun adalah nyawa, sehingga hal ini tidak bisa ditoleransi. Untuk itu ia juga berpesan untuk menekan angka kematian dengan segera dan seaksimal mungkin.

Meski demikian, ada 22 kabupaten/kota yang mendapat perhatian serius karena memiliki angka kematian diatas 100 orang. Kematian paling banyak terjadi pada penduduk usia 60 tahun keatas (14,67%), usia 45 - 59 tahun (6,11%).
 
Daerah-daerah tersebut diantaranya Kota Surabaya, Kota Semarang, Sidoarjo, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Kota Makassar, Kota Medan, Gresik, Kota Balikpapan, Kota Palembang, Kota Malang, Kota Banjarmasin, Demak, Pasuruan, Kota Mataram, Kota Manado, Kota Samarinda, Kudus dan Kota Pekanbaru. 
Baca selanjutnya: Masyarakat Lebih Sadar Menjaga Protokol Kesehatan
 

Foto: Freepik
 
3/Masyarakat Lebih Sadar Menjaga Protokol Kesehatan
Berdasarkan survei pemerintah dan pihak internasional, ditemukan hasil bahwa perilaku masyarakat semakin disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan.
Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) hingga September 2020, menunjukkan 90 ribu lebih responden sudah memakai masker. Rincian hasil survey adalah:
  • 91,98% telah memakai masker.
  • 77,71% masyarakat menggunakan hand sanitizer atau disinfektan.
  • 75,38% masyrakat mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik.
  • 81,85% masyarakat menghindari jabat tangan.
  • 76,69% masyarakat menghindari kerumunan.
  • 73,54% masyarakat menjaga jarak minimal 1 meter.
 
Survei yang dilakukan oleh Universitas John Hopkins menyatakan 80 persen dari 6 ribu responden di Indonesia sudah menerapkan pakai masker dan cuci tangan. Tetapi ternyata, kurang dari 80% yang menjaga jarak.

Walaupun hasil survei menggambarkan banyak masyarakat yang sudah tahu #3M (Menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan), namun masih ada masyarakat yang belum memahami manfaatnya. Masih ada yang mempraktekkannya dengan kurang tepat. Karenanya Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr. Reisa Brotoasmoro terus menginatkan agar jangan kendur dalam menjaga 3M protokol kesehatan, karena 3M mampu menurunkan risiko penularan hampir ke nol persen.
Baca selanjutnya: Beberapa Provinsi dan Kota Lepas Dari Zona Merah
 

Foto: Freepik
 
4/Beberapa Provinsi dan Kota Lepas Dari Zona Merah
Keberhasilan pengendalian Covid-19 sudah dicontohkan sejumlah provinsi dan kabupaten/kota yang bergeser dari zona merah ke zona kuning dan zona oranye. Hasil yang baik ini menandakan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah berupa 3T yaitu testing, tracing dan treatment efektif dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Bahkan berdasarkan survei pemerintah dan pihak internasional terhadap perilaku masyarakat semakin disiplin mematuhi protokol kesehatan.

"Kesuksesan mereka merupakan hasil kombinasi 3T dan 3M. Kolaborasi yang baik antara pemerintah daerah dan masyarakatnya," dr Reisa Brotoasmoro menjelaskan.

Saat ini, dari dari 496 kabupaten/kota di Indonesia, 54 kabupaten/kota berada dalam zona merah/risiko tinggi dengan kodisi penyebaran virus tidak terkendali. 307 kabupaten/kota berada dalam risiko sedang atau zona oranye. 121 kabupaten ada di zona kuning atau risiko rendah, dan 32 kabupaten/kota tidak terdampak.
Baca selanjutnya: Indonesia Top 5 Terbaik Dalam Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Secara Bersamaan
 

Foto: Freepik
 
5/ Indonesia Top 5 Terbaik Dalam Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Secara Bersamaan
Dalam siaran pers yang dilakukan BNPB kemarin (12/10/2020), Ketua Komite Pemulihan Ekonomi Nasional PCPEN Airlangga Hartarto yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara yang masuk dalam lima besar atau top 5 terbaik dalam penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi secara bersamaan.

Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki dampak kontraksi ekonomi yang relatif lebih rendah dibanding negara lain. “Jadi kita ini termasuk Top 5, di bawah Korea Selatan, Lituania, dan Taiwan,  yang bisa menangani secara berimbang antara COVID-19 maupun pelunakan atau penurunan kontraksi ekonomi,” jelas Airlangga.

Dengan melihat adanya perkembangan penanganan COVID-19 dan pengendalian ekonomi tersebut, Airlangga yakin dan berharap outlook pertumbuhan ekonomi 2020 dapat mencapai minus 1 hingga plus 0,6. “Tentu kita berharap di akhir tahun ini bisa -1 sampai +0,6,” kata Airlangga.
Baca juga:
 Tes Swab Bagi Kontak Erat Pasien COVID-19 Gratis di Puskesmas
90% Masyarakat Sadar Menggunakan Masker, Namun Belum Memakainya dengan Benar
Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan