
Foto: Shutterstock
Satgas Penanganan COVID-19 juga menyadari bahwa terdapat sekelompok kecil masyarakat yang menyangsikan manfaat dari vaksin COVID-19. Apa yang terjadi di Indoensia juga terjadi di negara-negara lain. Hal ini bisa disebabkan pandemi COVID-19 adalah suatu hal yang baru, dan masyarakat belum siap menghadapinya.
Masyarakat juga sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa harus ada program vaksinasi. Meskipun vaksinasi adalah salah satu bentuk intervensi medis untuk melindungi masyarakat dari terpapar virus COVID-19.
"Itulah kenapa pentingnya mengedukasi masyarakat secara konsisten dan terus menerus, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Dan kami berupaya untuk membuat masyarakat memahami, bahwa untuk melindungi seluruh penduduk kita harus mencapai herd immunity," lanjut jelas Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya berita atau informasi yang tidak benar (Hoax) tentang vaksin COVID-19 yang beredar dalam pesan singkat hingga sosial media. Berikut 5 berita tentang vaksin yang ternyata hoax berikut fakta investigasinya:
Baca Selanjutnya: 1/ HOAX: Video Vaksin AstraZeneca Menggunakan Sel MRC-5


Foto Dok. covid19.go.id
1/ HOAX: Video Vaksin AstraZeneca Menggunakan Sel MRC-5
Beredar ramai di whatsapp group video dengan narasi yang menyebutkan vaksin AstraZeneca menggunakan sel MRC-5 yaitu jaringan janin aborsi. Video ini adalah kategori video hoax yang menyesatkan. Dari penelusuran tim Cek Fakta Kompas.com, klaim vaksin virus COVID-19 AstraZeneca mengandung jaringan janin manusia yang diaborsi tidak tepat. Vaksin tersebut menggunakan kloning sel TREX 293 Ginjal Embrio Manusia, bukan jaringan janin asli.
Dilansir dari AP, juru bicara AstraZeneca mengonfirmasi bahwa perusahaan tidak menggunakan sel MRC-5 dalam pengembangan vaksinnya. Vaksin AstraZeneca dan Oxford mengandalkan virus flu simpanse yang tidak berbahaya untuk membawa protein lonjakan virus corona ke dalam tubuh untuk menciptakan respons imun. AstraZeneca tidak menggunakan sel MRC-5, tetapi menggunakan sel TREX 293 Ginjal Embrio Manusia yang berasal dari garis sel manusia yang berbeda.
Menurut tim pengembangan Universitas Oxford, sel 293 Ginjal Embrio Manusia yang asli diambil dari ginjal janin yang diaborsi pada tahun 1973. Namun, sel yang digunakan sekarang adalah kloning dari sel asli dan bukan jaringan janin asli.
"Apa yang penting diketahui publik bahkan jika mereka menentang penggunaan sel janin untuk terapi, obat-obatan yang dibuat dan vaksin tidak mengandung aspek sel apa pun di dalamnya,” kata Deepak Srivastava, Presiden Gladstone Institutes dan mantan presiden International Society for Stem Cell Research. Dia menjelaskan bahwa sel-sel tersebut digunakan sebagai pabrik untuk produksi.
Dikutip dari Reuters, profesor imunologi molekuler di London Metropolitan University Gary McLean menuturkan, vaksin COVID-19 juga akan "dimurnikan" dari semua kontaminan sebelum digunakan pada manusia.
"Vaksin AstraZeneca membutuhkan vektor adenoviral untuk diproduksi di sel-sel ini dan kemudian dimurnikan sebelum diberikan kepada manusia," ujar McLean. Tidak akurat menyebut bahwa garis sel MRC-5 adalah sel yang sama dari janin yang diaborsi. MRC-5 adalah garis sel yang telah ditumbuhkan di laboratorium dari kultur sel primer yang awalnya diambil dari janin.
Baca Selanjutnya: 2/ HOAX: Jokowi Gunakan Vaksin Buatan Eropa Bukan Sinovac

Foto Dok. covid19.go.id
2/ HOAX: Jokowi Gunakan Vaksin Buatan Eropa Bukan Sinovac
Setelah presiden Joko Widodo mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 pertamanya di Istana Negara pada Rabu (13/1/2021) berbagai tanggapan dan berita hoax bermunculan. Salah satunya unggahan di Facebook yang menyebutkan vaksin yang digunakan Jokowi bukan buatan China tapi buatan Eropa, tapi botol dan kardusnya bertuliskan Sinovac.
Unggahan tersebut berasal dari akun Facebook Albert Situmorang yang menulis “Gue bocorin vaksin yang di gunakan presiden itu bukan buatan China..tapi buatan Eropa,tapi botol dan bungkusnya kardusnya tulisan sinovac".
Seperti dikutip dari laman covid19.go.id, Juru Bicara PT Bio Farma (Persero) Bambang Heriyanto, menyatakan klaim tersebut adalah hoaks. Faktanya, Jokowi menggunakan vaksin Sinovac setelah BPOM mengeluarkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) vaksin Sinovac pada Senin (11/1/2021).
Faktanya, Jokowi sebagai orang pertama yang disuntik vaksin Corona di Indonesia telah menerima suntikan dosis pertama vaksin Sinovac di istana Kepresidenan, Jakarta dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Rabu (13/1/2021).
Pada proses vaksinasi tersebut, vaksinator terlebih dahulu menunjukkan vial dan kemasan vaksin Corona Sinovac sebelum menyuntikkan vaksin Corona pada Jokowi. Vaksin tersebut dikemas dalam kotak putih bertuliskan “SARS-CoV-2 Vaccine (Vero Cell), Inactivated”. Di bawah tulisan itu terdapat barcode dan tulisan berkelir hitam-merah “Sinovac”.
Dengan demikian, klaim Jokowi menggunakan vaksin Eropa adalah tidak benar karena tidak sesuai fakta dan termasuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Baca Selanjutnya: 3/ HOAX: Kemasan Vaksin Sinovac Tidak Pakai Ampul


Foto Dok. covid19.go.id
3/ HOAX: Kemasan Vaksin Sinovac Tidak Pakai Ampul
Akun Kimberly Rebecca pada 13 Januari 2021 mengunggah 2 foto. Foto yang pertama adalah foto ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang disuntik vaksin Sinovac. Foto kedua adalah foto kemasan vaksin Sinovac.
Dengan narasi sebagai berikut: “Kemasan vaksin Sinovac setau saya ga pake ampulan Didalam box vaksin sudah ada spuit khusus yg sdh ada vaksin nya…Jd tenaga medis tinggal tusuk aja…Jadi yang Jokowi pake apa?”.
Dilansir dari laman covid19.go.id, faktanya, kemasan vaksin Sinovac di foto yang diunggah sumber klaim adalah kemasan uji klinis. Dalam kemasan vaksin uji klinis, memang terdapat wadah vaksin sekaligus jarum suntik. Sementara dalam kemasan vaksinasi, hanya terdiri dari vial single dose atau botol dosis tunggal / sekali pakai.
Dilansir dari artikel berjudul [SALAH] “Vaksin Sinovac Covid-19 yang akan di suntikkan kepada warga hanya untuk kelinci percobaan” yang dimuat di situs turnbackhoax.id pada 6 Janauri 2020, Juru bicara vaksin Covid-19 PT Bio Farma, Bambang Herianto menyatakan bahwa vaksin dalam foto itu adalah vaksin yang dipakai dalam uji klinis fase III yang saat ini sedang dilaksanakan.
Sementara vaksin Sinovac yang digunakan untuk vaksinasi (jika telah mendapatkan UEA dari BPOM) memiliki kemasan yang berbeda, tidak ada tulisan “Only for Clinical Trial”. Dalam kemasan vaksin uji klinis, juga terdapat wadah vaksin sekaligus jarum suntik. Sementara dalam kemasan vaksinasi, hanya terdiri dari vial single dose.
Dilansir dari situs resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vial single dose (botol dosis tunggal atau sekali pakai) adalah botol obat cair yang ditujukan untuk pemberian parenteral (injeksi atau infus) yang dimaksudkan untuk digunakan pada satu pasien untuk satu kasus, prosedur, injeksi. Botol dosis tunggal atau sekali pakai diberi label seperti itu oleh pabrikan dan biasanya tidak memiliki pengawet antimikroba.
Dengan demikian klaim bahwa kemasan vaksin Sinovac tidak memakai ampulan karena di dalam box vaksin sudah ada spuit khusus yang sudah ada vaksinnya dan dikaitkan dengan vaksin yang disuntikkan ke Presiden Jokowi adalah klaim yang keliru.
Baca Selanjutnya: 4/ HOAX: Penerima Vaksin Perdana Meninggal Dunia Usai Disuntik Vaksin Pfizer


Foto Dok. covid19.go.id
4/ HOAX: Penerima Vaksin Perdana Meninggal Dunia Usai Disuntik Vaksin Pfizer
Beredar postingan di Facebook dengan narasi: “Inalilahi penerima vaksin perdana kini telah meninggal dunia” dengan menyertakan link menuju artikel yang berjudul “Innalilahi, Penerima Vaksin Perdana Meninggal Dunia Usai Disuntik Pfizer”. Postingan yang diunggah oleh akun bernama Tra mendapat likes sebanyak 295 dan telah dibagikan sebanyak 820 kali.
Seperti dilansir dari COVID19.go.id, setelah dilakukan penelusuran terhadap fakta yang terjadi, pernyataan bahwa penerima vaksin perdana meninggal dunia setelah disuntik vaksin Pfizer adalah tidak benar. Penelusuran menggunakan mesin pencarian Google, ditemukan bahwa penerima vaksin Pfizer pertama kali adalah Margaret Keenan. Wanita lansia yang berasal dari Inggris tersebut menerima vaksin Pfizer di usianya yang seminggu lagi menginjak 91 tahun, bertempat di University Hospital, Coventry, Inggris, pada 08 Desember 2020 lalu.
Meski begitu, Margaret Keenan sebagai penerima vaksin Pfizer pertama di dunia, tidak meninggal dunia. Justru ia pun mendapatkan suntikan vaksin Pfizer untuk kedua kalinya, pada 29 Desember 2020. Margaret telah mendapatkan vaksin keduanya setelah jeda 21 hari setelah suntikan vaksin perdana. Pihak rumah sakit yang menangani Margaret mengatakan bahwa ia pun dalam kondisi baik setelah menerima vaksin keduanya.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan, Margaret Keenan sebagai seorang yang menerima vaksin Pfizer pertama, masih hidup. Sehingga klaim penerima vaksin Pfizer perdana meninggal dunia adalah hoax dan termasuk kategori konten menyesatkan.
Baca Selanjutnya: 5/ HOAX: Vaksin COVID-19 Dapat Memperbesar Alat Kelamin Pria


Foto Dok. covid19.go.id
5/ HOAX: Vaksin COVID-19 Dapat Memperbesar Alat Kelamin Pria
Awal tahun ini beredar di media sosial potongan surat kabar yang memuat informasi bahwa vaksin Sinovac memberi efek samping pembesaran alat kelamin. Postingan ini berawal dari akun Agus Papaa Jenggott pada 7 Januari 2021 yang mengunggah sebuah gambar potongan koran berisi narasi sebagai berikut: “Dalam sebuah jurnal terbitan Inggris misalnya, vaksin Sinovac disebutkan memberi efek samping pembesaran alat kelamin. Lelaki yang sudah disuntik vaksin buatan China tersebut disebutkan alat vitalnya memanjang sampai 3 inchi.”
Faktanya informasi tersebut adalah informasi palsu. Jubir vaksinasi COVID-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia, menegaskan informasi tersebut hoaks. Jurnal yang disebutkan di klaim adalah studi yang telah diedit judulnya.
Studi asli yang diterbitkan pada The New England Journal of Medicine berjudul Phase 1-2 Trial of a SARS-CoV-2 Recombinant Spike Protein Nanoparticle Vaccine telah diedit menjadi SARS-CoV-2 Recombinant COVID-19 Vaccine has shown to increase penis length by 3 inches in some individuals.
Dilansir dari detikcom, Lucia menegaskan informasi tersebut hoax atau menyesatkan. “Hoax lah… mana ada jurnal ilmiah pakai bahasa seperti itu. Lagian vaksin kita kan bukan rekombinan,” katanya saat dihubungi detikcom, Kamis (7/1/2021).
Sementara itu, dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan situs pengecekan fakta Snopes, hasil penelusuran di situs NEJM juga tidak ditemukan jurnal berjudul SARS-CoV-2 Recombinant COVID-19 Vaccine has shown to increase penis lenght by 3 inches in some individuals.
Salah satu bukti bahwa studi itu telah diedit terlihat dari adanya kesamaan metode yang digunakan dalam jurnal palsu tersebut. Hasil penelusuran di situs NEJM juga tidak ditemukan jurnal berjudul SARS-CoV-2 Recombinant COVID-19 Vaccine has shown to increase penis lenght by 3 inches in some individuals.
“Studi itu tipuan. Kesalahan ejaan dan tata bahasa dan jelas bahasa non-akademis yang terkandung dalam artikel dengan mudah menunjukkan bahwa itu dimaksudkan untuk menjadi humor, tetapi bukti pasti dapat ditemukan dalam fakta bahwa artikel tersebut menyalin dan menempel seluruh bagian dari studi nyata, yang sebenarnya diterbitkan di New England Journal of Medicine pada 10 Desember 2020,” kutip Snopes. (f)

Baca Juga:
Vaksinasi untuk Capai Herd Immunity
Siapa Saja Yang Tidak Bisa Menerima Vaksin COVID-19 Buatan Sinovac?
BPOM Sebut Efikasi Vaksin Sinovac 65,3 Persen, Apa Artinya?