Tanah Flores, tempat mayoritas umat Katolik tinggal, cocok bagi para pejalan spiritual untuk memuaskan dahaga spiritualitas. Di Maumere, para wisatawan reliji bisa berziarah ke Patung Bunda Maria Bukit Nilo, seminari Ledalero dan Seminari Ritapiret hingga menengok kamar yang pernah digunakan Paus Yohanes Paulus II ketika mengunjungi Indonesia pada tahun 1989. Perjalanan yang memberikan pengalaman baru dalam memperkaya peziarahan batin.

Seminari Ritapiret yang hijau dan nyaman/ Foto-foto: BernadaRurit
Ritapiret: ‘Vatican Semalam’
Seminari Ritapiret adalah tempat menimba ilmu para calon imam menempa kehidupan rohaninya di Seminari Ritapiret. Seminari ini terletak di Nita, Kabupaten Sikka, hanya selemparan batu dengan Kecamatan Maumere.
Wilayah Nita bak ‘perkampungan para biarawan biarawati’. Kampung ini, para pastor, bruder, dan suster tinggal ini berdekatan satu sama lain. Sedikitnya ada 17 rumah biara di Nita. Kawasan ini juara nasional sebagai desa dengan transparansi keuangan yang tertib dalam pembukuan.
Berbeda dari rumah biara lainnya, Ritapiret punya keistimewaan khusus. Bangunannya dilindungi dan masuk cagar budaya pemerintah untuk kawasan Maumere. Keistimewaan lainnya, ada kamar tempat menginap Paus Yohanes Paulus IIsaat berkunjung pada tahun 1989 ini ramai pengunjung.
Wilayah Nita bak ‘perkampungan para biarawan biarawati’. Kampung ini, para pastor, bruder, dan suster tinggal ini berdekatan satu sama lain. Sedikitnya ada 17 rumah biara di Nita. Kawasan ini juara nasional sebagai desa dengan transparansi keuangan yang tertib dalam pembukuan.
Berbeda dari rumah biara lainnya, Ritapiret punya keistimewaan khusus. Bangunannya dilindungi dan masuk cagar budaya pemerintah untuk kawasan Maumere. Keistimewaan lainnya, ada kamar tempat menginap Paus Yohanes Paulus IIsaat berkunjung pada tahun 1989 ini ramai pengunjung.

Di kamar inilah dulu Paus Yohanes Paulus 2 menginap.
Mereka mendaraskan doa di kamar ini, di antaranya ingin memiliki anak dan sembuh dari sakit. Paus Yohanes Paulus II telah mendapatkan gelar Santo dari Vatican, Roma. Belakangan, warga Maumere kerap menjadikan Seminari Ritapiret sebagai tempat untuk foto pre wedding maupun reuni. Seminari Ritapiret kini sudah menjadi 'milik' seluruh umat di kawasan itu.
Memasuki Seminari Ritapiret, seperti memasuki sesuatu yang agung, indah, dan keramat, sesuai namanya: Piret. Praeses (Ketua) Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret Maumere, Philipus Ola Daen Pr, menjelaskan, Ritapiret didirikan pada 8 September 1955. Nama Ritapiret diambil dari bahasa Sika. Rita adalah nama satu jenis pohon, dan piret artinya sakral, keramat. “Karena tempat ini dulu menjadi tempat keramat bagi orang-orang yang ada di sekitar sini,” katanya.

Bangunan seminari yang mendapatkan status cagar budaya.
Misionaris Ordo SVD (Serikat Sabda Allah) kemudian membeli tempat ini untuk membangun seminari. Nama Ritapiret tetap disematkan. Lahan seminari ini seluas 6 hektare. Semua bangunan terpadu dan dipersiapkan dengan matang, menjadi satu kesatuan. Mulai dari ruang tamu, tempat pastor menginap, ruang doa, ruang makan, juga ruang rekreasi yang didesain dengan apik. Ritapiret seperti alunan musik yang indah.
Pernah diinapi oleh pemimpin gereja Katolik sedunia, Paus Yohanes Paulus II, Ritapiret mendapat julukan ‘Vatican Semalam’. Ritapiret pun akhirnya menjadi tempat bersejarah.

Gereja Kayu Cikal Bakal Sebaran Umat Katolik
Sekitar satu jam perjalanan dari Seminari Ritapiret, ada Gereja Kayu Sikka yang usianya sudah mencapai 118 tahun, namun tetap kokoh dan terawat baik. Berbahan kayu jati yang didatangkan dari Pulau Jawa, gereja ini terbukti ampuh dari bencana alam ketika gempa melanda Pulau Babi, Maumere, pada 12 Desember 1992. Gereja kayu ini masih utuh, kokoh berdiri, tak mengalami kerusakan apa pun.
“Dentangnya saja yang bersuara hingga tiga kali, tanda kerasnya gempa,” kata Ketua Dewan Paroki sekaligus ‘kuncen’ Gereja Sikka, Gregorius Tamela, ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Sejatinya, kalau melihat gereja tampak luar, biasa-biasa saja arsitekturnya. Tapi, begitu masuk ke dalam, gereja ini memperlihatkan keunikan yang khas. Bangunan gereja ini dirancang oleh arsitek Pater Antonius Dijkmans S.J., yang juga arsitek gereja Katedral Jakarta.
Gereja Sikka yang bernama Santo Ignasius Loyola ini dibangun tahun 1893 dan diresmikan oleh Pater J. Engbers S.J. pada 24 Desember 1899, dan oleh Raja Sikka, Yoseph Mbako IIXimenes da Silva.
“Dentangnya saja yang bersuara hingga tiga kali, tanda kerasnya gempa,” kata Ketua Dewan Paroki sekaligus ‘kuncen’ Gereja Sikka, Gregorius Tamela, ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Sejatinya, kalau melihat gereja tampak luar, biasa-biasa saja arsitekturnya. Tapi, begitu masuk ke dalam, gereja ini memperlihatkan keunikan yang khas. Bangunan gereja ini dirancang oleh arsitek Pater Antonius Dijkmans S.J., yang juga arsitek gereja Katedral Jakarta.
Gereja Sikka yang bernama Santo Ignasius Loyola ini dibangun tahun 1893 dan diresmikan oleh Pater J. Engbers S.J. pada 24 Desember 1899, dan oleh Raja Sikka, Yoseph Mbako IIXimenes da Silva.

Saat melangkah ke dalam, mata saya tertumbuk pada tulisan di pintu masuk gereja: ‘Sawe-Sawe Potat Dese, Poi Tuhan Gera Hude’.
"Artinya adalah ‘Semuanya akan hilang. Hanya Tuhan yang kekal’. Ini pencarian Raja Sikka, Mo’ang Lesu, sebelum menjadi umat Katolik. Sebelum ditahbiskan menjadi raja, ia berkelana untuk satu pertanyaan: “Di mana sebuah tempat bagi manusia yang luput dari kematian?”," tutur Gregorius Tamela.
Menurut Gregorius, Mo'ang menanyai tiap orang yang ia temui dan tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Suatu hari, di sebuah pelabuhan, ketika sebuah kapal bersandar, Raja Sikka bertemu seorang ABK (anak buah kapal).
“Apakah di daerah lain atau wilayahmu manusia tidak bisa mati?” tanya Raja, yang saat itu belum dinobatkan menjadi raja. Anak buah kapal menjawab, “Semua orang akan mati. Tapi, ada tempat di mana ada kehidupan setelah kematian. Mari ikut saya ke Malaka.”
Di Selat Malaka, ia dipertemukan dengan Gubernur Jenderal Portugis dan misionaris asal Portugal. Ia mendapat penjelasan kehidupan setelah mati yang ada dalam kepercayaan Katolik. Ia pun bersedia dibaptis dan mendapat nama permandian Don Aleksius, yang kemudian terkenal dengan nama Don Alexu Ximenes da Silva.
Don Alexu pulang ke kampung halamannya, dengan seorang guru agama. Ia mendapat Senhor (salib), berikut patung Meniho (kanak-kanak Yesus) serta patung orang-orang suci lainnya. Benda-benda yang sudah berusia 400 tahun ini masih tersimpan rapi di kapel sebelah gereja dan tiap tahun diarak dalam perayaan Paskah.
Setelah dinobatkan menjadi raja, seluruh penduduk Sikka pun mengikuti agama Sang Raja. Tak hanya Sikka, ajaran Katolik kemudian menyebar ke Maumere dan sekitarnya.

Di Seminari Ledalero, kita bisa ikut misa bersama ratusan frater (calon imam). Sungguh tempat yang syahdu untuk memuji Tuhan
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero
Ingin merasakan misa bersama dengan ratusan calon imam berjubah putih dipimpin oleh para imam selebran yang jumlahnya puluhan orang? Datanglah ke Seminari Ledalero. Suara yang indah karena petugas koor adalah para frater, diiringi gitar dan gendang, misa terasa syahdu. Tuhan seakan-akan tengah berbicara begitu intim dengan kita.
Seminari milik kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) ini salah satu penghasil imam terbesar di dunia. Kongregasi imam misionaris Indonesia ini menyebar ke seluruh dunia melayani umat Katolik. Saat ini ada 264 calon imam yang mendapat gemblengan di seminari dari para pastor yang sudah terkenal intelektualitasnya.
Ledalero artinya bukit sandar matahari. Letaknya di atas bukit, tak jauh dari Kota Maumere, dengan jarak tempuh sekitar 20 menit saja. Dengan luas 10 hektare, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero berdiri pada 20 Mei 1937. Saat ini, Seminari dan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik St. Paulus Ledalero (STFK Ledalero) adalah pencetak pastor-pastor paling produktif di Indonesia.
Seminari milik kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) ini salah satu penghasil imam terbesar di dunia. Kongregasi imam misionaris Indonesia ini menyebar ke seluruh dunia melayani umat Katolik. Saat ini ada 264 calon imam yang mendapat gemblengan di seminari dari para pastor yang sudah terkenal intelektualitasnya.
Ledalero artinya bukit sandar matahari. Letaknya di atas bukit, tak jauh dari Kota Maumere, dengan jarak tempuh sekitar 20 menit saja. Dengan luas 10 hektare, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero berdiri pada 20 Mei 1937. Saat ini, Seminari dan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik St. Paulus Ledalero (STFK Ledalero) adalah pencetak pastor-pastor paling produktif di Indonesia.

Di seminari ini, tempat kawah candradimuka para frater untuk studi sebelum mereka menyandang gelar imam. Mereka digembleng selama beberapa tahun dalam persiapan mereka menjadi imam yang akan memimpin umat. Di SVD dunia, bila sebelumnya didominasi oleh pastor dari Eropa, kini 26 persen berasal dari Indonesia, hasil dari pendidikan STFK Ledalero. Yang terbaru, Indonesia telah mencatatkan sejarah, Superior General SVD sedunia berasal dari Flores, NTT. Pater Paulus Budi Kleden SVD terpilih sebagai pucuk pimpinan tertinggi SVD yang berpusat di Roma, Italia.
Pemilihan Pater Budi Kleden itu mengukuhkan bahwa STFK Ledalero mampu mencetak intelektualnya dalam kancah internasional. Para intelektual Ledalero juga menjalin relasi yang baik dengan umat non-Katolik. Tercatat mantan Presiden Abdurrahman Wahid pernah menginap semalam di Ledalero. Juga almarhum Jenderal Ahmad Yani, mengunjungi Ledalero sebelum meninggal pada tragedi 1965. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Paus Yohanes Paulus II juga menyempatkan datang ke Ledalero untuk pertemuan dengan para imam di Flores.
Bila penasaran akan sesuatu jangan segan bertanya pada para pastor dan frater, karena mereka akan menjawab dengan sangat ramah.

Patung Bunda Segala Masa di Maumere.
Museum Blikon Bluwet
Tak jauh dari kapel seminari, ada Museum Blikon Bluwet. Begitu melewati gerbang masuk, kita akan menemukan museum ini dengan mudah. Banyak koleksi purbakala ditemukan di sini, di antaranya fosil manusia purba, alat kebudayaan neolitikum, dan fosil gading gajah stegodon flores. Di museum ini juga ada koleksi kerangka manusia ras negrito.
PatungMaria Bunda Segala Bangsa
Patung Bunda Maria setinggi 28 meter ini terletak 16 km dari Kota Maumere, berdiri di atas fondasi setinggi 18 meter. Berat patung Bunda Maria ini 6 ton, berwarna putih. Patung menghadap Kota Maumere dan Laut Flores. Pada Mei dan Oktober, warga Katolik Maumere dan kota-kota di sekitarnya berziarah dan berdoa rosario. (f)
Bernada Rurit (kontributor)
Tak jauh dari kapel seminari, ada Museum Blikon Bluwet. Begitu melewati gerbang masuk, kita akan menemukan museum ini dengan mudah. Banyak koleksi purbakala ditemukan di sini, di antaranya fosil manusia purba, alat kebudayaan neolitikum, dan fosil gading gajah stegodon flores. Di museum ini juga ada koleksi kerangka manusia ras negrito.
PatungMaria Bunda Segala Bangsa
Patung Bunda Maria setinggi 28 meter ini terletak 16 km dari Kota Maumere, berdiri di atas fondasi setinggi 18 meter. Berat patung Bunda Maria ini 6 ton, berwarna putih. Patung menghadap Kota Maumere dan Laut Flores. Pada Mei dan Oktober, warga Katolik Maumere dan kota-kota di sekitarnya berziarah dan berdoa rosario. (f)
Bernada Rurit (kontributor)
Baca Juga:
Mengenal Lebih Dalam Suku Kyrgyz di Kyrgyztan
5 Hal Wajib Coba Saat Di Jember
5 Keunikan di Kyrgyzstan