Foto: TAT dan DES
 
Setelah mencoba melukis di Elephant Parade Land, Femina melanjutkan perjalanan ke Thai Farm Cooking School yang berjarak 17 km dari pusat Kota Chiang Mai. Menuju lokasi, pemandangan khas pedesaan terpampang indah dari hijaunya persawahan hingga pinggiran irigasi.
 
Thai Farm Cooking School adalah sekolah memasak makanan khas Thailand yang didirikan oleh sepasang suami-istri, Sawat dan Nathalie, pada tahun 2000. Lokasinya berada dalam perkampungan yang dikelilingi oleh area persawahan dan pertanian. Ada beberapa dapur memasak yang terpisah satu sama lain dan dikelilingi pepohonan rindang.
 
Berbeda dari sekolah  masak lainnya, Thai Farm Cooking School adalah satu-satunya sekolah memasak yang memiliki pertanian sendiri. Memang tidak semua bahan makanan yang dimasak berasal dari pertanian mereka. Tapi, setidaknya  pengunjung bisa melihat dan memetik sayuran dan buah sendiri di kebun.
 

Foto: TAT dan DES

Sang pemilik, Sawat, memang senang bercocok tanam. Beragam jenis tanaman ia kembangkan, seperti mangga, nangka, pisang, jambu biji, belimbing, kelapa, jeruk nipis, pomelo, dan rambutan. Sawat juga menanam berbagai jenis tanaman bumbu masak dan rempah, seperti sayuran, serai, lengkuas, cabai, mentimun, ketumbar, labu, dan jahe yang tumbuh subur.
 
Biaya mengikuti kelas memasak singkat untuk kelas setengah hari sebesar 1.300 baht (sekitar Rp573.000), sudah termasuk biaya penjemputan dari hotel. Per kelas minimal 2 orang peserta. Harga yang cukup bersahabat.
 
Aturan mainnya,  tiap peserta wajib memasak sendiri. Masing-masing peserta akan mendapatkan peralatan memasak, termasuk tungku kompor gas. Berbagai jenis masakan yang diajarkan, seperti tom yam kung (tom yam with shrimps), kaeng phed gai (red curry chicken), dan phad kapro gai (fried chicken with basil leaves), bisa kita pelajari di sini. Siang itu saya membuat masakan yang cukup sederhana, yaitu kluay bot chii (kolak pisang).

Simak tip perjalanan ke Chiang Mai di halaman berikutnya:
 
 
 


Foto: TAT dan DES
 
Memasak kluay bot chii tidak terlalu sulit. Sembari mendengarkan arahan dari mentor, saya mencampur bahan-bahan, seperti santan, sari daun pandan, garam, dan pisang yang telah dipotong-potong. Semua bahan kemudian dimasak selama 15 menit. Mudah, bukan? Selesai memasak, saya menikmati masakan sendiri di teras dapur dengan hati bahagia.
 
Mau tahu tip lain untuk menikmati  Chiang Mai? Berikut sontekannya:
 
1/ Transportasi
Selain dari Bangkok, Bandar Udara Chiang Mai juga bisa ditempuh dari Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, atau dari Phuket (Thailand).
 
Selain dengan transporasi udara, Anda juga bisa menggunakan transportasi darat, seperti kereta dari Stasiun Hua Lamphong di Bangkok.
Bus berangkat  tiap jam, dari pukul 05.30 sampai 22.00, dari Stasiun Mo Chit di Bangkok ke Eastern Bus Terminal di Chiang Mai (10 jam perjalanan). Ada juga pemberangkatan dari Jalan Khao San, Bangkok.
 
2/ Makanan Khas
Salah satu makanan khas di Chiang Mai adalah kantoke, yang merupakan paket makanan khas Thai Utara. Ada beberapa restoran yang menyediakan Kantoke Dinner, seperti di Kantoke in Old Chiang Mai dan Khum Kantoke.
 
3/ Makanan Halal
Makanan halal dapat Anda temukan di beberapa tempat, seperti Ruammit Halal Restaurant, di sepanjang Hilal Town (Halal Street), dan di Anusarn Market. (f)

Baca Juga:

Melukis Patung Gajah di Elephant Parade Land, Chiang Mai
Chiang Mai Night Bazaar, Pasar yang Wajib Dikunjungi Saat Berada di Chiang Mai