Foto: Shutterstock

Pencinta arkeologi dan sejarah agama akan menganggap kota ini bagai surga. Terletak di Provinsi Izmir di bagian barat Turki, Selcuk telah menjadi persinggungan budaya Barat dan Timur selama ribuan tahun. Kini, sebagai destinasi wisata, kota kecil yang bisa dieksplorasi dengan berjalan kaki ini juga tidak kekurangan apa pun. Museumnya lengkap, makanannya lezat, orangnya ramah, dan cuacanya cenderung bersahabat.
 
Melihat begitu banyaknya reruntuhan kuno yang tersebar di pusat dan pinggir kota, saya, Primarita S. Smita, merasa waktu 3 hari tidak cukup untuk mengungkap keindahannya.


 
Sejarah Kristen Awal
 
Selcuk sering dianggap hanya sebagai kota singgah untuk mereka yang ingin mampir ke kota tua Efesus. Padahal, meski terletak di negara yang kini beragama dominan Islam, Selcuk dan sekitarnya justru memegang peranan penting dalam sejarah Kristen awal.
 
Berbagai simbol rahasia konon tersebar di seluruh penjuru areanya, disembunyikan dari bangsa Romawi yang waktu itu menganggap agama ini haram. Menurut legenda, Efesus awalnya dibangun oleh para wanita Amazon pada zaman Perunggu  (3.000-1.200 SM). Selama berabad-abad kemudian, Efesus terus berganti-ganti penguasa (antara lain bangsa Persia, Yunani, dan Romawi) dan sempat hancur karena bencana alam.
 
Efesus sering dikunjungi oleh umat Kristiani awal, yang mulai berjemaat dan membentuk gereja di sana sekitar tahun 50-an Masehi. Sayangnya, menurut sejarawan, kebudayaan dan peradaban Efesus justru merosot ketika agama Kristen mulai mendominasi.
 
Salah satu pendatang Efesus yang paling terkenal adalah Paulus, salah satu rasul Yesus yang konon sering berkhotbah di depan orang banyak selama 3 tahun tinggal di sana. Dalam Injil, Kitab Efesus adalah surat yang ditulis oleh Paulus kepada komunitas Kristen di Efesus. Kota ini juga terkenal berkat Gua Tujuh Orang Tidur, di mana tujuh orang kudus konon ‘tidur’ selama dua ratus tahun di sebuah gua, lalu bangkit setelah agama Kristen berkuasa.
 
Efesus juga dipercaya sebagai lokasi penulisan Kitab Yohanes. Setelah kematian Yesus, Yohanes ‘mengangkat’ Maria, ibunda Yesus, sebagai ibunya, lalu keduanya pergi ke Efesus. Maria menghabiskan masa tua di sana, sementara Yohanes mengembara ke kota-kota lainnya. Rumah yang ditinggali Maria sampai sekarang masih bisa dikunjungi turis, karena lokasinya yang hanya 15 menit berkendara dari pusat Kota Selcuk.
 


Saya dan dua teman seperjalanan tiba di Selcuk sekitar tengah hari. Hotel Bella tempat saya menginap menawarkan antar-jemput gratis ke Efesus, 10 menit berkendara dari sana. Setelah makan siang, kami bergegas pergi, mumpung cuaca cerah. Maklum, perjalanan beberapa hari sebelumnya sempat dirundung hujan akibat Medicane Zorba, atau badai Mediterania, yang waktu itu melanda Yunani dan terbawa hingga ke bagian barat Turki dalam bentuk hujan.
 
Setibanya di sana, segala bacaan dan panduan yang saya lahap sebelum berangkat liburan pun terwujud di depan mata. Sulit dipercaya, tempat ini sudah diekskavasi selama satu setengah abad dan baru 80% selesai. Terbayang kejayaannya sebagai salah satu kota terkaya di Mediterania pada masanya. Saya juga heran sekaligus kagum dengan sebagian jalan setapaknya yang terbuat dari batu marmer licin, sepintas mewah, tapi kurang efisien. Saya pun merinding membayangkan kaki-kaki yang pernah menapaki jalan itu, ribuan tahun lalu.
 
Kami berjalan beberapa ratus meter lagi ke dalam area Efesus, melewati bongkahan bermacam gerbang dan pilar, aneka batu dan puing bertulisan Romawi, serta reruntuhan Kuil Hadrian dengan ukiran mendetail. Saya terperangah ketika menemukan Perpustakaan Celsus di depan mata. Yang tersisa memang hanya tinggal kolom-kolom fasadnya. Patungpatung di depannya pun sudah berupa replika.
 
Sejak dibangun tahun 262 Masehi, entah berapa bencana, kebakaran, renovasi, dan preservasi yang sudah dilaluinya. Tapi, saksi bisu sejarah ribuan tahun ini masih berdiri tegak menakjubkan.
 
 


 
Slow Travel Sempurna
 
Tadinya kami mengalokasikan 3 malam di Selcuk dengan niat leyeh-leyeh setelah dari Efesus. Ternyata, kota kecil bernama asli Ayasuluk ini punya begitu banyak hal menarik yang sayang dilewatkan. Dari balkon kamar hotel yang terletak di pojok jalan dan dirambati tanaman hijau lebat, kami bisa duduk sambil memandang Basilika Santo Yohanes dan Benteng Ayasuluk di seberang jalan yang sejak pagi sudah ramai turis.
 
Kami pun memutuskan untuk bangun agak siang dan berkunjung saat turis sudah agak berkurang. Dengan langit separuh cerah, separuh mendung, dan angin yang bertiup sepoi-sepoi, area reruntuhan Basilika Santo Yohanes terasa teduh dan sejuk.
 
Berkat lokasinya yang strategis dan cukup tinggi, area basilica menyuguhkan pemandangan kota yang indah  dari kejauhan. Satu sisinya menghadap bagian Kota Selcuk yang modern, sementara sisi lainnya menghadap ladang hijau dan Masjid Isa Bey yang berarsitektur khas Anatolia. Basilika ini dibangun oleh Kaisar Yustinianus I pada abad ke-6 di atas tempat yang dipercaya sebagai makam Santo Yohanes. Waktu itu, Sang Kaisar terinspirasi untuk mendedikasikan sebuah basilika setelah menemukan makam dari abad ke-4 yang menurut legenda berisi aneka relik peninggalan Santo Yohanes. Di sana saya menemukan pilar-pilar di bawah kubah, dihiasi simbol Kristiani, dan sebuah wadah air untuk pembaptisan. Bahkan, setelah digali selama satu setengah abad, seakan masih ada begitu banyak rahasia yang belum terungkap di sini.
 
Hari makin sore dan langit makin gelap. Kami menuju benteng di belakang basilika dan bisa diakses dengan tiket yang sama. Berbeda dari kastil-kastil Eropa yang lebih populer dan modern, Kastil Ayasuluk dibuat dari bebatuan. Karena licin, saya perlu sedikit usaha dan hati-hati untuk mendaki sampai ke atas. Setelah 25 tahun, penggalian benteng berakhir tahun 1998.
 
Beberapa temuannya membuktikan bahwa benteng ini sudah ada sejak zaman Neolitikum dan bertahan melewati era Byzantium, Selcuk, dan Ottoman. Masih ingin ‘menggali’ kota ini lebih dalam, keesokan harinya kami berkunjung ke Museum  arkeologi Efesus yang berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari hotel. Meski tidak terlalu besar, museum yang sudah direnovasi ini tampak modern dan memiliki koleksi yang luar biasa dari area-area penggalian di sekitarnya.
 
Yang menjadi highlight adalah patung Dewi Artemis dari Kuil Artemis yang masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Diletakkan di sebuah ruangan bertembok hitam dengan pencahayaan dramatis, ‘perjumpaan’ saya dengan dewi pembawa dan penghalau penyakit perempuan ini terasa begitu mistis.
 
Di sana saya juga menemukan patung-patung kepala dari dewa-dewi Yunani dan tokoh-tokoh Romawi dari awal Masehi, yang beberapa di antaranya berukuran raksasa. Museum yang memiliki 9 ruangan galeri ini juga menyimpan aneka aksesori wanita dan barang-barang dari kuburan gladiator.
 
 

Foto: Dok. Primarita
 
Kucing Bermata Cokelat Biru
 
Puas mengamati benda-benda bersejarah, kami pun mencari peradaban Selcuk yang lebih modern. Persis di seberang jalan hotel terdapat daerah komersial dengan berbagai restoran, kedai, supermarket, bank, dan took suvenir. Setelah beberapa hari makan seafood pinggir pantai di Bodrum, kali ini saya ngidam shish kebab sapi atau kambing. Kami agak malas mencari rekomendasi di internet, dan memutuskan langsung pergi untuk melihat-lihat suasana dan menuruti kata hati.
 
Ternyata, hati membawa kami ke Tat Restaurant & Cafe, karena meja-meja di terasnya terlihat cantik dan suasananya terlihat menyenangkan. Seorang pria berambut putih menyambut kami
dengan semringah. Setelah mengobrol dengan bapak pemilik restoran yang bernama Murat itu, kami pun menyantap seporsi shish kebab kambing yang empuk dan kefta sapi yang sedap, dengan segelas teh apel hangat dan yang selalu wajib ada di meja, hummus dengan minyak zaitun untuk cocolan roti.
 
Selesai makan, Murat menghampiri meja dan meminta kami untuk menjulurkan kedua tangan, lalu ia menuangkan pomegranate cologne dari sebuah botol beling. “Supaya tangan kalian tetap wangi,” katanya. Belakangan kami menemukan kolonye serupa dengan aneka wangi buah, yang rupanya memang menjadi favorit orang lokal.
 
Meskipun hujan turun sepanjang hari, jalan-jalan di Selcuk masih tetap menyenangkan buat saya, mungkin karena suasananya yang tidak hiruk pikuk seperti Istanbul. Ketika sedang berjalan sambil menurunkan makanan, seorang pria di depan toko memanggil kami. Biasanya kami hanya tersenyum, dan mengatakan, “No  thank you,” dan buru-buru berlalu. Tapi entah kenapa, kali ini kami memutuskan untuk masuk ke dalam tokonya, yang ternyata penuh dengan pernak-pernik buatan lokal, mulai dari aksesori, karpet, perhiasan, hingga lampu-lampu gantung warna-warni.
 
Ali, sang pemilik toko, bercerita dengan semangat bahwa dia baru saja membuat dua turis Kanada terpukau. Ia pun meminta kami untuk menginspeksi sebuah cincin dengan batu hijau, lalu meminta kami untuk menggenggam cincin tersebut dan kami diajak keluar toko. “Coba berdiri di bawah sinar matahari, dan buka tanganmu,” katanya. Wah, batunya berubah warna jadi pink! Rupanya, cincin itu berbatu zultanite, batu dari Pegunungan Ilbir, satu-satunya di dunia (Ali menunjukkan buktinya dari Google, seandainya kami tidak percaya). Keunikan batu yang bisa berubah warna di bawah sumber cahaya yang berbeda ini rupanya memang jadi kebanggaan orang Turki, termasuk Ali.
 
Setelah memilih beberapa anting kecil, sambil menyeruput teh apel hangat dan melihat-lihat toko, saya menemukan seekor kucing putih sedang bermalas-malasan. Ali bercerita, kucing itu, seperti dirinya, berasal dari Kota Van. Semua kucing dari Van memiliki warna mata yang berbeda kiri kanan. Benar saja, si kucing bernama Pamuk (yang artinya kapas) ini bermata cokelat dan biru! Saya tidak menyangka took kecil ini punya banyak keajaiban.
 
“Terima kasih sudah bersedia mendengarkan cerita saya, semoga kalian senang di Turki dan perjalanan kalian selanjutnya menyenangkan,”kata Ali, sambil melambai. (f)
 
Baca Juga:

Wisata Religi Ke Flores

Mari Ke Flores

Mengenal Lebih Dalam Suku Kyrgyz di Kyrgyztan