Foto : 123RFKota Thimphu dicapai 1,5 jam bermobil dari Paro, gerbang masuk Bhutan, tempat bandara internasional berada.
Distrik Thimphu (Dzongkha, dalam bahasa setempat) adalah ibu kota Kerajaan Bhutan sejak tahun 1961 dan berlokasi di sebuah lembah di ketinggian sekitar 2.350 meter di atas permukaan laut. Kota ini terletak di bagian barat Bhutan dan dikelilingi perbukitan, yang semuanya termasuk ke dalam Distrik Thimphu. Kota ini terbelah menjadi dua, utara dan selatan, oleh Sungai Wang Chu.
Sebagai ibu kota negara, Thimphu begitu merefleksikan budaya Bhutan. Sangat tepat untuk pendatang seperti kami. Kehidupan Buddhis yang kental, ritual para pendeta di berbagai wihara yang dapat dilihat langsung oleh pendatang, musik, tarian, literatur, dan bagaimana mereka mengenakan busana nasional yang indah dalam keseharian.
Banyak atraksi dan aktivitas yang dapat dilakukan di Thimphu, seperti mengunjungi The National Textile Museum, The Folk Heritage Museum, dan pasar Changlingmethang. Misalnya, mengunjungi Buddha Point atau dikenal juga dengan nama Kuenselphodrang, tempat umat Buddha berdoa di hadapan sebuah patung Buddha raksasa terbuat dari perunggu setinggi 51,5 meter. Mereka bersujud memanjatkan doa keselamatan atau mungkin permintaan dengan khidmat. Damai.
Mengunjungi pusat Kota Thimphu, Anda akan menyadari bahwa negeri ini memang sangat sederhana. Tidak ada gedung-gedung tinggi, apalagi gedung pencakar langit modern. Padahal, Thimphu adalah ibu kota negara. Bahkan, tidak ada lampu lalu lintas di negeri ini.
Distrik Thimphu (Dzongkha, dalam bahasa setempat) adalah ibu kota Kerajaan Bhutan sejak tahun 1961 dan berlokasi di sebuah lembah di ketinggian sekitar 2.350 meter di atas permukaan laut. Kota ini terletak di bagian barat Bhutan dan dikelilingi perbukitan, yang semuanya termasuk ke dalam Distrik Thimphu. Kota ini terbelah menjadi dua, utara dan selatan, oleh Sungai Wang Chu.
Sebagai ibu kota negara, Thimphu begitu merefleksikan budaya Bhutan. Sangat tepat untuk pendatang seperti kami. Kehidupan Buddhis yang kental, ritual para pendeta di berbagai wihara yang dapat dilihat langsung oleh pendatang, musik, tarian, literatur, dan bagaimana mereka mengenakan busana nasional yang indah dalam keseharian.
Banyak atraksi dan aktivitas yang dapat dilakukan di Thimphu, seperti mengunjungi The National Textile Museum, The Folk Heritage Museum, dan pasar Changlingmethang. Misalnya, mengunjungi Buddha Point atau dikenal juga dengan nama Kuenselphodrang, tempat umat Buddha berdoa di hadapan sebuah patung Buddha raksasa terbuat dari perunggu setinggi 51,5 meter. Mereka bersujud memanjatkan doa keselamatan atau mungkin permintaan dengan khidmat. Damai.
Mengunjungi pusat Kota Thimphu, Anda akan menyadari bahwa negeri ini memang sangat sederhana. Tidak ada gedung-gedung tinggi, apalagi gedung pencakar langit modern. Padahal, Thimphu adalah ibu kota negara. Bahkan, tidak ada lampu lalu lintas di negeri ini.

Apakah Bhutan terbelakang? Tidak. Kendati secara ekonomi Bhutan termasuk kategori negeri terkecil di dunia, warga Bhutan umumnya terdidik dan sangat terinformasi pada situasi dunia saat ini. Yang membedakan negeri ini dengan negeri lain di Asia adalah kebudayaan kuno dan gaya hidup modern yang menyatu harmoni dalam kesederhanaan. Mungkin ini yang membuat mereka tampak bahagia.
Salah satu tempat yang menarik dikunjungi adalah Tashi Chho Dzong. Dzong adalah sebutan untuk gedung besar dengan alun-alun luas tempat berlangsungnya acara kenegaraan dan upacara keagamaan.
Kompleks pemerintahan ini dibuka untuk umum pada masa festival dan menjadi kediaman raja dan ratu Bhutan.
Tiap akhir September hingga awal Oktober, di sini berlangsung Thimphu Festival atau dikenal juga sebagai Thimphu Dzong. Festival ini merupakan perayaan tahunan. Semua warga, tua muda, berkumpul di alun- alun Dzong, menikmati tari-tarian sakral yang dibawakan oleh para biarawan, yang bertujuan untuk membersihkan manusia dari dosa.

“Di alun-alun, saya duduk bersama seorang nenek yang membawa dua cucunya yang masih kecil. Nenek dan orang-orang yang duduk bersama saya sangat ramah dan murah hati. Mereka mengajak saya duduk di tikar yang mereka bawa dan menawarkan setengah memaksa ikut menikmati apel yang dibawa sebagai bekal,” ujar Becky.
Lebih dari dua jam duduk bersama mereka, tanpa mengerti sepatah kata pun yang mereka ucapkan, ia sungguh merasakan bahwa orang-orang ini begitu tulus dan bersukacita.
“Saya tidak melihat sisa sampah berserakan usai festival besar itu digelar. Tiap keluarga bertanggung jawab mengumpulkan sampah mereka sendiri dan membuangnya di tempat yang disediakan, atau dibawa pulang. Mereka sangat sederhana, tapi memiliki kesadaran tinggi untuk tidak membuang sampah sembarangan. Saya begitu terkesan.” (f)
Becky Tumewu
Lebih dari dua jam duduk bersama mereka, tanpa mengerti sepatah kata pun yang mereka ucapkan, ia sungguh merasakan bahwa orang-orang ini begitu tulus dan bersukacita.
“Saya tidak melihat sisa sampah berserakan usai festival besar itu digelar. Tiap keluarga bertanggung jawab mengumpulkan sampah mereka sendiri dan membuangnya di tempat yang disediakan, atau dibawa pulang. Mereka sangat sederhana, tapi memiliki kesadaran tinggi untuk tidak membuang sampah sembarangan. Saya begitu terkesan.” (f)
Becky Tumewu