Foto: Pexels

Sejumlah negara mulai melonggarkan lockdown seiring meredanya krisis COVID-19. Begitupun di Indonesia, pemerintah mulai wacanakan new normal demi selamatkan roda perekonomian. Nyatanya pandemi belum usai. Kurva penambahan pasien positif COVID-19 belum turun secara signifikan. Rumah masih menjadi tempat paling aman dari virus corona. Para pakar kesehatan pun masih menekankan pentingnya physical distancing dan menghindari perjalanan.

Di sisi lain, ada kalanya kita tak bisa menghindar dari keharusan bepergian di masa pandemi. Namun, kita tetap bisa mengukur risiko dari berbagai pilihan moda transportasi dalam bepergian. Sebenarnya apakan itu bepergian untuk kebutuhan sehari-hari atau bahkan berlibur, keduanya sama-sama berisiko selama vaksin COVID-19 belum ditemukan dan tersebar secara luas. Setiap pilihan moda transportasi memberi risiko penularan virus, terlebih kendaraan yang membuat kita tak bisa menjaga jarak dengan orang asing.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mengurangi risiko penularan COVID-19. Langkah ini meliputi rajin cuci tangan, jangan sentuh wajah, gunakan masker dan jangan membukanya hingga sampai tempat tujuan. Bagi lansia yang berusia 65 tahun ke atas atau penderita penyakit tertentu, hindari keluar rumah kecuali untuk kebutuhan sangat penting. Selain itu, hindarilah keramaian dan jagalah jarak dengan orang yang tidak tinggal serumah dengan kita. Dalam kondisi ideal, langkah tersebut mungkin tak sulit dilakukan. Namun hal ini sulit dilakukan di moda transportasi publik yang padat. Lalu apa yang harus dilakukan?

“Risiko bepergian bisa diukur dari seberapa besar kemungkinan Anda kontak dengan orang lain sepanjang perjalanan,” ujar Jared Baeten, wakil dekan University of Washington’s School of Public Health. Karena itu pilihan terbaik jika Anda ingin bepergian adalah dengan mobil pribadi. Pilihan ini cendrung lebih aman karena kita hanya berinteraksi dengan orang yang serumah atau yang kita kenal.

Namun bukan berarti para pengguna moda transportasi publik tak bisa bepergian. Baeten berpendapat bahwa penyelenggara sarana transportasi publik umumnya telah melakukan protokol tertentu untuk menghindari penularan COVID-19. Sehingga menciptakan situasi yang cukup aman bagi penumpang.

“Sarana transportasi publik cendrung lebih aman dari pada sebelumnya karena adanya pembersihan berkala, kewajiban menggunakan masker, dan lebih sedikit penumpang. Ini menimbulkan perbedaan besar,” ujarnya. Dalam skala lebih besar, penyelenggara transportasi jarak jauh seperti pesawat, kereta, dan bus antar kota umumnya telah menerapkan prosedur kebersihan yang konsisten dan mewajibkan setiap orang mengenakan masker.

Demi menjaga keamanan pribadi saat menggunakan transportasi publik, gunakanlah masker dan jika memungkinkan tunggulah hingga menemukan unit transportasi yang penumpangnya tak terlalu banyak.

Julian Tang, associate professor dari University of Leicester mengungkapkan pentingnya keberadaan ventilasi udara dalam sistem transportasi yang dipadati penumpang. Menurutnya ventilasi udara yang tidak mendukung dalam sebuah moda transportasi dapat mempermudah penyebaran aerosol dan penularan virus. Julian memberi contoh transportasi publik di Hong Kong dan Singapura yang menurutnya punya sirkulasi udara yang baik. “Transportasi umum di sana memiliki ventilasi dan filter udara sehingga sirkulasi berjalan baik,” ujarnya.

Baca Selanjutnya: Di Rumah Saja Tetap Lebih Baik
 
 


Foto: Pexels


Di Rumah Saja Tetap Lebih Baik

Dengan segala risiko yang ada dalam penggunaan transportasi publik, memanfaatkan kendaraan pribadi tampaknya pilihan paling praktis dan aman. Para pakar industri berpendapat dalam waktu dekat orang-orang akan lebih memilih berpelesir ke kota-kota yang jaraknya dekat dan masih bisa dijangkau dengan mobil.

Namun keamanan kendaraan pribadi juga bergantung pada sikap kita. Sebagai contoh, jika melakukan perjalanan jauh dengan mobil kemudian kita beristirahat dan makan di tempat ramai, tak membatasi diri dalam berinteraksi dengan orang asing, aktivitas ini tentu berpotensi menyebarkan COVID-19. Secara teori melakukan perjalanan dengan mobil lebih aman dibandingkan pesawat, namun sebenarnya orang-orang tetap harus memperhatikan social distancing. “Jika Anda ingin traveling, batasilah kontak dengan orang lain sepanjang perjalanan, bahkan hingga di tempat tujuan. Jadi memperkecil kemungkinan Anda menyebarkan pandemi,” ungkap Baeten.

Di luar antrean bandara yang padat dan banyaknya fasilitas umum yang harus disentuh, risiko menggunakan pesawat terbang di masa pandemi ternyata tak seburuk dugaan. “Bahkan jika di dalam pesawat ada banyak orang, dinamika aliran udara dalam pesawat dapat mencegah penyebaran virus dari seseorang yang sakit,” ujar Joseph Allen, assistant professor di Harvard T.H. Chan School of Public Health.
 
Menurut Allen jika maskapai penerbangan mewajibkan penumpang mengenakan masker dan mengatur jarak aman antar kursi penumpang, maka risiko penyebaran virus bisa dihindari. Para ahli menekankan menjaga jarak aman dengan sesama penumpang sangat penting. “Jangan membiarkan penumpang duduk berdempetan tanpa masker. Temperatur tubuh penumpang harus diperiksa sebelum boarding, duduk tersebar, dan kenakan masker,” terang Baeten.
 
Menghimbau masyarakat untuk diam di rumah dalam jangka waktu lebih panjang memang bukan hal mudah. Walaupun new normal mulai didengungkan, para ahli telah memperingatkan adanya infeksi COVID-19 gelombang kedua. Karena itu kesadaran penyelenggara dan pengguna moda transportasi untuk patuhi protokol kesehatan sangat penting. Tak hanya demi kesehatan diri-sendiri, namun juga untuk kesehatan keluarga dan anggota masyarakat. (f)
 


BACA JUGA:
Rasakan Sensasi Saat Traveling Tanpa Ke Luar Rumah
Usir Bosan Dengan Wisata Virtual ke Australia
Tamasya ke Jerman Tanpa Meninggalkan Rumah