
Foto: Dok. Pribadi
November lalu, atas undangan Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang merupakan mitra Save The Children, Redaktur Pelaksana femina, Yoseptin Pratiwi, mengunjungi Kabupaten Sumba Barat untuk menggali persoalan mengenai kepemilikan akta kelahiran anak-anak penganut agama lokal Marapu. Berikut ini cerita tentang kampung-kampung adat Marapu.
Mungkin berbeda dengan sebagian besar orang yang jatuh hati pada Sumba karena padang rumput luas berpayung langit biru, seperti yang digambarkan dengan sempurna di film Pendekar Tongkat Emas (2015). Saya justru terpikat Sumba karena sebuah mamoli, perhiasan berbentuk jajaran genjang dengan belahan di bagian tengah yang saya lihat pertama kali beberapa tahun lalu di suatu pameran kerajinan.
Seperti punya daya magis, benda itu menarik-narik saya untuk datang ke tempat asalnya. Berkunjung ke kampung-kampung adat, saya pun tak hanya menemukan mamoli, tetapi juga filosofi hidup penganut Marapu, agama lokal masyarakat Sumba, yang hidup selaras dengan alam sebagai wujud penghormatan kepada Sang Pencipta.
Kampung di Tengah Kota
Terbang dari Jakarta, saya harus transit di Bali, untuk meneruskan penerbangan selama 1 jam menuju Bandara Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya. Ketika pesawat mulai terbang rendah untuk persiapan mendarat, napas saya tertahan menatap hamparan laut yang terlihat kehijauan dari atas, mengelilingi Pulau Sumba.
Belum selesai dengan kekaguman itu, saya segera berkendara dengan mobil selama kurang lebih satu jam untuk mencapai Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Sepanjang perjalanan, saya berkali-kali melewati kerbau sedang berkubang lumpur di tepi jalan atau sekadar duduk malas di rerumputan. Sementara kuda-kuda Sumba yang gagah dilepas bebas di halaman rumah penduduk. Saya baru tahu, kerbau merupakan hewan yang akrab bagi masyarakat Sumba, bukan hanya kuda seperti yang saya tahu selama ini.
Waikabubak yang berarti ‘air yang membual’ (memancar keluar) adalah kota yang unik, kampung-kampung adat Marapu terletak di berbagai sudut kota itu. Sebagai informasi, Marapu merupakan kepercayaan tradisional masyarakat Sumba yang meyakini ada kekuatan tertinggi, yakni Mawolu-Marawi yang secara harfiah berarti ‘yang menciptakan’ atau ‘yang membuat’. Mawolu-Marawi juga disebut Marapu. Kedudukannya sangat tinggi, sehingga manusia perlu perantara roh leluhur bila ingin menyampaikan permohonan dan mengetahui kehendak-Nya. Karena itu, penganut Marapu sangat menghormati roh leluhur mereka.
Kampung pertama yang saya datangi keesokan pagi adalah Kampung Tarung, tak jauh dari pasar inpres Waikabubak. Hanya 10 menit bermobil dari Hotel Manandang, tempat saya menginap. Lokasi Kampung Tarung ini berdampingan dengan Kampung Waitabar dan hanya dipisah oleh satu rambu penanda saja. Di beberapa kelokan jalan menuju kampung, saya menemukan batu kubur. Rasanya saya seperti dibawa masuk ke zaman megalitikum.
Begitu sampai di depan bina tama (pintu gerbang masuk kampung), saya bisa melihat jajaran uma (rumah) adat khas Sumba yang berupa rumah panggung, dilengkapi dengan menara yang tinggi. Uma dibuat tanpa paku, bagian-bagian rumah yang terdiri atas kayu dan bambu ditautkan dengan pasak serta tali kayu (kalere) atau rotan (uwe). Atap uma terbuat dari rumput ilalang kering, yang menurut aturan adat harus diambil dari sebidang tanah tertentu.
Kampung adat memiliki rumah besar (uma kalada) yang merupakan uma yang dibangun oleh nenek moyang pendiri kampung tersebut, dan dihuni secara turun- temurun oleh generasi berikutnya. Rumah besar ini dipercaya sebagai tempat para arwah leluhur bersemayam. Di sini juga ditempatkan harta benda pusaka keluarga. Bersama uma kalada, rumah-rumah lain dibangun secara berderet-deret melingkari pelataran tempat upacara pemujaan dilakukan (natara podhu).
Saya berjalan di jalanan setapak yang dibalut batu kerikil. Untung saya mengenakan sepatu tertutup. Kalau tidak hati-hati, saya bisa menginjak kotoran hewan seperti anjing, ayam, kucing, dan anak-anak babi kecil yang berseliweran bebas, yang terkadang menabrak kaki kita. Di kubur-kubur batu megalitik (warga Marapu menguburkan jenazah keluarga mereka di batu kubur secara turun-temurun yang dibangun tepat di depan uma masing-masing keluarga) yang besar dan tampak menghitam oleh lumut, warga menjemur padi dan pakaian. Hal ini memang cukup mengganggu pemandangan dan keindahan foto, tapi begitulah kehidupan mereka berjalan.
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan membaca)

Foto: Dok. Pribadi
Pagi itu, suasana kampung sepi. Anak-anak pergi sekolah dan orang dewasa bekerja, sebagian besar di sawah. Yang masih terlihat di uma masing-masing adalah ibu-ibu sepuh --dengan rambut digelung dan bibir merah oleh sirih pinang-- yang sedang menjagai bayi-bayi. Sebagian sambil memasak, yang lain terlihat menganyam sesuatu dari pandan kering.
Karena terletak di tengah kota, Kampung Tarung sering didatangi wisatawan. Bersamaan dengan rombongan saya pun ada beberapa turis asing maupun lokal yang berjalan pelan dengan kamera di tangan. Di salah satu beranda uma, tampak seorang ibu menggelar tenun dagangannya: ada selendang, tali ikat kepala, taplak meja, dan sarung beraneka warna. Tas kecil dari anyaman pandan disebut kaleku pamama yang merupakan tempat menyimpan sirih pinang yang disuguhkan untuk tamu atau dibawa ketika bepergian.
Karena tak sanggup menahan diri, saya pun membeli taplak meja berwarna paduan jingga dan hitam dengan motif semacam kotak-kotak. Menurut si ibu penjual, itu motif batu kubur dan mamoli, dua ragam hias yang merupakan khas kain tenun Sumba. Saya pun segera bertanya, “Apakah Ibu punya mamoli?” Dia menggeleng.
Disambut oleh rato (pemimpin spiritual) Kampung Tarung, Rato Ledo Tera, rombongan kami mengobrol mengenai adat istiadat dan kepercayaan warga Marapu. Bagaimanapun juga, mereka harus bertahan di tengah kemajuan zaman, termasuk merelakan anak-anak muda mereka merantau sebagai TKI/TKW karena ingin penghasilan yang layak.
Uniknya, selama mengobrol, kami disuguhi kopi hitam dan teh panas yang sangat manis, membuat saya sampai mengernyit saat meminumnya. Menurut informasi, banyaknya gula yang ditambahkan dalam minuman itu berkaitan dengan penghormatan kepada tamu dan pernyataan bahwa si tuan rumah tidak sedang berkekurangan.
Ketika hendak beranjak pamit, ibunda Rato keluar dari rumahnya untuk menyapa kami. Ibu sepuh itu ternyata membawa aneka gelang dan kalung manik-manik. Ia menggelar kerajinan tangan karyanya itu di tikar pandan beranda uma, dan di sanalah saya menemukan benda yang selama ini ingin saya miliki: mamoli! Terbuat dari logam perak, mamoli --yang merupakan simbol kesuburan, yang biasanya diberikan pihak pengantin pria kepada ibu pengantin wanita pada upacara perkawinan Marapu-- menjadi liontin kalung manik-manik jingga. Hanya ada satu. Akhirnya, saya mendapatkan perhiasan khas dari tempat ia harusnya berada, dan dirangkai sendiri oleh tangan ibunda seorang rato.
Dengan hati puas, saya memakai kalung yang baru saya beli dan beranjak ke Kampung Bondomaroto yang terletak sekitar 2 kilometer ke arah timur Waikabubak. Di kampung yang dihuni 32 kepala keluarga ini tersimpan begitu banyak benda sakral. Maklum, kampung ini merupakan salah satu penyelenggara utama wulla podhu (bulan suci masyarakat Marapu).
Pengalaman dari Kampung Tarung, saya pun sudah mulai terbiasa dengan pola-pola lanskap kampung adat Marapu. Kurang lebih tidak jauh berbeda dari kampung sebelumnya, tapi Bondomaroto terlihat lebih kecil luasannya. Karena hari sudah siang, di beberapa rumah saya melihat ibu-ibu sedang menenun, sebagian ditemani oleh anak-anak dan anjing jinak peliharaan mereka. Anak-anak yang sudah pulang sekolah tampak berlari-larian dan main panjat-panjatan di kubur-kubur batu megalitik.
Sebelumnya, saya sudah diingatkan bahwa di kampung ini ada semacam batu keramat bernama watu pawai, yang menjadi tempat meletakkan abu dapur simbol pengusir roh-roh jahat saat upacara toba wanno (bersih kampung). Seperti benda sakral lainnya, batu ini tidak boleh diinjak. Teringat pesan itu, saya yang ceroboh dan gampang tersandung ketika jalan, berusaha hati-hati saat di Bondomaroto. Jangan sampai menginjak batu keramat dan bisa-bisa membuat saya tidak bisa pulang. Hiii….
Rato Toda Lero yang menyambut kami di uma-nya kemudian menunjukkan lokasi batu keramat itu, yang ternyata tak jauh dari halaman rumah Rato. Di beranda rumahnya yang teduh, Rato menjamu kami makan siang berupa nasi putih, mi goreng, dan sayur daging ayam. Sayurnya berkuah bening, dibumbui secara sederhana dengan bawang putih dan jahe.
Sesuai adat, makanan yang disuguhkan harus dimakan oleh para tamu sebagai bentuk penghormatan. Begitu juga dengan sirih pinang yang diedarkan begitu tamu datang, harus dicicipi. Kalau tidak bisa memakannya, sebagai bentuk penghormatan, para tamu harus menyentuhnya. Saya pun berusaha keras untuk memakan nasi berukuran jumbo, plus mi goreng yang sudah ditata di piring. Pengalaman bersantap jadi lebih seru karena lalat-lalat gemuk dengan riang gembira beterbangan di sekitar kami, sementara di bawah rumah panggung itu merupakan kandang ternak! (f)
Baca Juga: