Foto: 123RF, Dok. Pribadi

Hanya dengan berbekal sedikit informasi dan keingintahuan yang sangat besar, saya Sylvia Mira, memutuskan untuk berpetualang menuju ke negara Aung San Suu Kyi ini. “Don’t expect to much, just enjoy the trip,” begitu pesan seorang teman.
 
Setelah bertualang di kota Yangon yang terletak di bagian Selatan negara Myanmar, perjalanan saya berlanjut ke kota Mandalay. Kota di sebelah utara Yangon ini menginspirasi cerpenis Inggris, Rudyard Kipling, menulis puisi berjudul The Road To Mandalay. Puisi yang juga menginspirasi saya untuk datang ke kota ini. Kota yang ia sebut sebagai kota terunik yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain.
 
Mahaghandaron Monastery
, tempat tinggal lebih dari 1000 biksu usia 6 hingga 60 tahun ini menjadi pemberhentian pertama saya di kota Mandalay. Suasana sunyi menyambut saya sesaat memasuki area biara yang sangat terkenal dengan proses ‘jam makannya’ ini.
 
Pukul 10, secara serempak para biksu/biksuni keluar dari berbagai penjuru monastery yang berbentuk seperti asrama ini. Dalam diam dan hening, mereka membentuk dua baris rapih. Seperti tak peduli dengan pengunjung yang berdiri di sisi kiri dan kanan barisan mereka.
 
Tepat pukul 10.30, ketika gong mulai dibunyikan, satu per satu biksu berjalan masuk ke dalam bangsal besar berisi meja dan bangku panjang, tempat mereka makan. Pengunjung dilarang masuk, hanya diperkenankan untuk mengintip dari balik pagar setinggi 1.5 meter agar tidak menggangu mereka makan.
 
Proses makan berjalan cepat, hanya sekitar 15-20 menit, kemudian dalam kebisuan yang sama mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk beraktivitas. Setelah itu, kami semua meninggalkan Mahaghandaron Monastery, karena memang kegiatan makan bersama inilah yang menjadi tujuan para wisatawan datang ke tempat tersebut.
 
 


Mandalay Hill - Tempat Ziarah Terpenting di Myanmar
 
Saya melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, salah satu tempat ziarah paling penting di Myanmar, sejak Raja Mindon (Raja Burma tahun 1853-1878) menginjakkan kakinya di Mandalay pada abad ke 19. Sesuai dengan namanya, tempat ini berdiri di atas ketinggian 240 m di atas kota Mandalay.
 
Masyarakat setempat percaya, mendaki setiap anak tangga yang berjumlah 1729, dari bawah menuju pagoda Su Taung Pyai di puncaknya, tanpa alas kaki, akan mendatangkan pahala berlimpah. Lantaran enggan berkeringat di tengah teriknya matahari, saya memilih berkendara sekitar 15 menit menuju pagoda.
 
Antrean panjang dan rasa deg-degan saat harus naik eskalator tanpa menggunakan alas kaki, akhirnya terbayar dengan pemandangan indah, bangunan pagoda yang menyerupai istana dengan warna keemasan serta pemandangan kota Mandalay dari ketinggian.

 
 


 
Jembatan U-Bein, Jembatan Kayu Tertua dan Terpanjang di Dunia

Kunjungi pula jembatan U-Bein. Jembatan kayu tertua dan terpanjang di dunia ini membentang sepanjang 1,2 km di atas danau Taungthaman.
 
Dibangun pada pertengahan tahun 1800 oleh penguasa wilayah U-Bein, jembatan ini terbuat dari susunan kayu jati yang berasal dari tiang-tiang bekas istana lama Amarapura. Datanglah sore hari ketika cuaca tidak lagi terik, duduk-duduk di tepi danau di bawah jembatan sambil menikmati lalu lalang orang di jembatan. Sewa perahu untuk berkeliling danau hingga matahari terbenam. (f)
 
Baca juga:
Jalan-Jalan Myanmar: Bagan, Kota Seribu Pagoda
Jalan-Jalan Myanmar: Menelusuri Jejak Sejarah di Kota Kuno Inwa
Jalan-Jalan Yangon: Mengejar Pengalaman Spiritual di Shwedagon, Pagoda Tertua di Myanmar

Sylvia Mira - Kontributor