
Foto : Yos
Makan ramen ikan ayu yang lezat cocok untuk menimbun energi sebelum mendaki Gunung Kinka untuk berkunjung ke benteng Gifu.
Welcome to Gifu, the center of Japan. Begitu yang tertulis di pamflet pariwisata Kota Gifu. Gifu adalah prefektur yang termasuk kawasan Hokuriku bersama Toyama, Ishikawa, Fukui dan Kanazawa. Dan secara geografis, Gifu memang terletak tepat di tengah-tengah Jepang.
Gifu adalah kawasan kuno yang tentu saja memyimpan banyak kekayaan sejarah dan budaya. Ia juga dikaruniai kekayaan flora dan fauna karena tanahnya mengandung banyak air. Kawasan ini juga dialiri sungai Nagara yang menjadi tempat hidup ikan air tawar, yang terkenal adalah ikan ayu (sweetfish).
Berkunjung ke Gifu di awal musim dingin pada bulan Desember ini menjadi waktu yang tepat. Suhu memang dingin, bisa drop hingga 5 derajat celsius, tetapi di siang hari matahari masih bersinar, meski cepat pula tenggelam dan hari sudah gelap pada pukul 5 sore.
Temukan 3 hal yang bisa dieksplorasi di Gifu di halaman selanjutnya.
Selanjutnya: Menyusuri Kawasan Kawara-machi

Foto: Yos
Welcome to Gifu, the center of Japan. Begitu yang tertulis di pamflet pariwisata Kota Gifu. Gifu adalah prefektur yang termasuk kawasan Hokuriku bersama Toyama, Ishikawa, Fukui dan Kanazawa. Dan secara geografis, Gifu memang terletak tepat di tengah-tengah Jepang.
Gifu adalah kawasan kuno yang tentu saja memyimpan banyak kekayaan sejarah dan budaya. Ia juga dikaruniai kekayaan flora dan fauna karena tanahnya mengandung banyak air. Kawasan ini juga dialiri sungai Nagara yang menjadi tempat hidup ikan air tawar, yang terkenal adalah ikan ayu (sweetfish).
Berkunjung ke Gifu di awal musim dingin pada bulan Desember ini menjadi waktu yang tepat. Suhu memang dingin, bisa drop hingga 5 derajat celsius, tetapi di siang hari matahari masih bersinar, meski cepat pula tenggelam dan hari sudah gelap pada pukul 5 sore.
Temukan 3 hal yang bisa dieksplorasi di Gifu di halaman selanjutnya.
Selanjutnya: Menyusuri Kawasan Kawara-machi

Foto: Yos
1/ Menyusuri kawasan Kawara-machi
Ini adalah kawasan dengan luas sekitar satu kali satu kilometer yang terletak di tepi Sungai Nagara. Di sepanjang jalan selebar kurang lebih 2 meter yang hanya sesekali dilewati mobil, kita bisa berjalan kaki dan melihat rumah-rumah dengan arsitektur lama di sisi kanan-kiri jalan.
Di deretan rumah berwarna kelabu dan kecokalatan itu, kayu menjadi bahan yang dominan. Sebagian masih mempertahankan bangunan lama seperti bangunan bank, restoran maupun toko-toko penjual suvenir.
Di ujung jalan yang bercabang, kita akan sampai ke tepian Sungai Nagara yang lebar dan berarus deras. Sungainya bersih dan suaranya gemericik. Burung-burung commorant sesekali terbang di atas permukaannya. Di tepi, sungai yang dibatasi pagar baja, pohon-pohon sakura yang sedang meranggas berdiri tegak seperti seseorang yang setia menunggu kekasihnya pulang merantau. Diam sejenak, menikmati suara-suara alam yang masuk ke gendang telinga, membuat hati kita bisa digenangi rasa syukur.
Selanjutnya: Mencicipi Ramen Ikan Ayu

Foto: Yos
2/ Ramen Ikan Ayu
Sungai Nagara terkenal dengan ikan ayu. Hingga ada festival menangkap ikan ayu dengan menggunakan bebek (bebek dilepas agar menangkap ikan lalu ikan diambil dari paruh bebeknya). Di sungai ini juga ada festival melihat burung commorant berburu ikan yang diselenggarakan pada bulan Mei sampai Oktober.
Saat perut lapar (tidak lapar pun juga tidak masalah) mampirlah ke resto Kawara-machi Izumiya. Ini adalah resto yang menyajikan makanan dari ikan ayu. Rekomendasinya adalah ramen ikan ayu.
Buang jauh-jauh bayangan amis ikan. Karena Anda tidak akan mendapatkannya ketika semangkuk ramen panas disajikan di depan Anda. Kuahnya dari kaldu ayam dengan cacahan daging ikan dan di atas mi ditaruhkan seekor ikan ayu asap.
Kuahnya terasa ringan, dan ketika digigit, daging ikan ayu terasa gurih di lidah. Perpaduan manis, gurih dan aroma smokey pada daging ikan yang empuk itu. Hmm...
Cara makannya, setelah mi habis, maka nasi yang juga disertakan bisa dimasukkan ke dalam kuah. Enggak apa-apalah sesekali carbo overload.
Restoran ini buka dari jam 11.30 hingga 14.00 dan 17.00 - 20.00.
Selanjutnya: Menjelajahi Gifu Castle

Foto: Yos
3/ Gifu Castle
Penyuka sejarah, termasuk sejarah Jepang, tentu mengenal Oda Nobunaga, seorang daimnyo (tuan tanah) yang kemudian menjadi pemimpin dan menyatukan Jepang pada abad ke-16. Nobu memiliki benteng di Gunung Kinka yang berada di tengah kota Gifu saat ini.
Benteng ini awalnya didirikan oleh Lord Nikaido Yukimasa dan menamainya Inabaya Castle. Tapi pada tahun 1567, Oda Nabunaga menaklukkan benteng ini dan merenovasinya. Nobunaga sekaligus mengubah nama kawasan tersebut dari Inokuchi menjadi Gifu, dan menjadikan kawasan ini sebagai batu pijakan untuk menyatukan Jepang.
Sebelum menginjak kaki di Gunung Kinka, kita akan melewati taman kota, Gifu Park. Meski tak terlalu luas, namun taman ini memiliki lanskap Japanese garden (kebun jepun) yang indah. Kebun jepun adalah lanskap taman yang memperhitungkan semua elemen alam: tanah, bebatuan, air, pepohonan hingga ikan-ikan. Saya lempar pandangan ke arah pohon-pohon mapel jepang yang daun-daun kemerahannya melayang jatuh menyentuh permukaan kolam.
Untuk menuju ke kastil yang terletak di puncak gunung tentu butuh perjuangan besar. Namun sekarang ada kereta gantung yang bisa membawa kita ke atas, Mt.Kinka Ropeway. Dengan kereta tersebut kita dibawa ke atas selama 3 menit. Dari dinding kaca, kita bisa menyaksikan kota Gifu di bawah berikut pohon-pohon yang hidup di musim dingin dengan warna-warni indah. Awas bagi yang takut ketinggian, lutut bisa gemetaran. Tapi kan hanya 3 menit ... ganbatte ne!
Turun dari kereta, kita masih perlu mendaki lagi selama kurang lebih 10 menit. Memang cukup menguras energi, makanya ketika akhirnya dinding bangunan bisa saya lihat dari sela-sela pepohohanan saya bersorak senang.
Di bangunan berlantai 3 ini, yang ternyata merupakan bangunan yang sudah direnovasi pada tahun 1956, kita bisa melihat koleksi Oda Nobu, dari sandaran pedang (katana), berbagai senjata pedang, body armor, tutup kepala hingga foto dan kimono istri Nobu.
Puas melihat-lihat hingga lantai paling atas, Anda bisa keluar ke beranda untuk melihat lanskap kota dari ketinggian. Rasanya kita tak perlu berkata-kata lagi untuk melukiskan keindahannya. (f)
Baca juga:
Dari Paris Hingga St. Petersburg, Inilah 5 Kota yang Paling Banyak Muncul di Instagram
20 Sudut Destinasi Traveling di Jepang
Ini adalah kawasan dengan luas sekitar satu kali satu kilometer yang terletak di tepi Sungai Nagara. Di sepanjang jalan selebar kurang lebih 2 meter yang hanya sesekali dilewati mobil, kita bisa berjalan kaki dan melihat rumah-rumah dengan arsitektur lama di sisi kanan-kiri jalan.
Di deretan rumah berwarna kelabu dan kecokalatan itu, kayu menjadi bahan yang dominan. Sebagian masih mempertahankan bangunan lama seperti bangunan bank, restoran maupun toko-toko penjual suvenir.
Di ujung jalan yang bercabang, kita akan sampai ke tepian Sungai Nagara yang lebar dan berarus deras. Sungainya bersih dan suaranya gemericik. Burung-burung commorant sesekali terbang di atas permukaannya. Di tepi, sungai yang dibatasi pagar baja, pohon-pohon sakura yang sedang meranggas berdiri tegak seperti seseorang yang setia menunggu kekasihnya pulang merantau. Diam sejenak, menikmati suara-suara alam yang masuk ke gendang telinga, membuat hati kita bisa digenangi rasa syukur.
Selanjutnya: Mencicipi Ramen Ikan Ayu

Foto: Yos
Sungai Nagara terkenal dengan ikan ayu. Hingga ada festival menangkap ikan ayu dengan menggunakan bebek (bebek dilepas agar menangkap ikan lalu ikan diambil dari paruh bebeknya). Di sungai ini juga ada festival melihat burung commorant berburu ikan yang diselenggarakan pada bulan Mei sampai Oktober.
Saat perut lapar (tidak lapar pun juga tidak masalah) mampirlah ke resto Kawara-machi Izumiya. Ini adalah resto yang menyajikan makanan dari ikan ayu. Rekomendasinya adalah ramen ikan ayu.
Buang jauh-jauh bayangan amis ikan. Karena Anda tidak akan mendapatkannya ketika semangkuk ramen panas disajikan di depan Anda. Kuahnya dari kaldu ayam dengan cacahan daging ikan dan di atas mi ditaruhkan seekor ikan ayu asap.
Kuahnya terasa ringan, dan ketika digigit, daging ikan ayu terasa gurih di lidah. Perpaduan manis, gurih dan aroma smokey pada daging ikan yang empuk itu. Hmm...
Cara makannya, setelah mi habis, maka nasi yang juga disertakan bisa dimasukkan ke dalam kuah. Enggak apa-apalah sesekali carbo overload.
Restoran ini buka dari jam 11.30 hingga 14.00 dan 17.00 - 20.00.
Selanjutnya: Menjelajahi Gifu Castle

Foto: Yos
3/ Gifu Castle
Penyuka sejarah, termasuk sejarah Jepang, tentu mengenal Oda Nobunaga, seorang daimnyo (tuan tanah) yang kemudian menjadi pemimpin dan menyatukan Jepang pada abad ke-16. Nobu memiliki benteng di Gunung Kinka yang berada di tengah kota Gifu saat ini.
Benteng ini awalnya didirikan oleh Lord Nikaido Yukimasa dan menamainya Inabaya Castle. Tapi pada tahun 1567, Oda Nabunaga menaklukkan benteng ini dan merenovasinya. Nobunaga sekaligus mengubah nama kawasan tersebut dari Inokuchi menjadi Gifu, dan menjadikan kawasan ini sebagai batu pijakan untuk menyatukan Jepang.
Sebelum menginjak kaki di Gunung Kinka, kita akan melewati taman kota, Gifu Park. Meski tak terlalu luas, namun taman ini memiliki lanskap Japanese garden (kebun jepun) yang indah. Kebun jepun adalah lanskap taman yang memperhitungkan semua elemen alam: tanah, bebatuan, air, pepohonan hingga ikan-ikan. Saya lempar pandangan ke arah pohon-pohon mapel jepang yang daun-daun kemerahannya melayang jatuh menyentuh permukaan kolam.
Untuk menuju ke kastil yang terletak di puncak gunung tentu butuh perjuangan besar. Namun sekarang ada kereta gantung yang bisa membawa kita ke atas, Mt.Kinka Ropeway. Dengan kereta tersebut kita dibawa ke atas selama 3 menit. Dari dinding kaca, kita bisa menyaksikan kota Gifu di bawah berikut pohon-pohon yang hidup di musim dingin dengan warna-warni indah. Awas bagi yang takut ketinggian, lutut bisa gemetaran. Tapi kan hanya 3 menit ... ganbatte ne!
Turun dari kereta, kita masih perlu mendaki lagi selama kurang lebih 10 menit. Memang cukup menguras energi, makanya ketika akhirnya dinding bangunan bisa saya lihat dari sela-sela pepohohanan saya bersorak senang.
Di bangunan berlantai 3 ini, yang ternyata merupakan bangunan yang sudah direnovasi pada tahun 1956, kita bisa melihat koleksi Oda Nobu, dari sandaran pedang (katana), berbagai senjata pedang, body armor, tutup kepala hingga foto dan kimono istri Nobu.
Puas melihat-lihat hingga lantai paling atas, Anda bisa keluar ke beranda untuk melihat lanskap kota dari ketinggian. Rasanya kita tak perlu berkata-kata lagi untuk melukiskan keindahannya. (f)
Baca juga:
Dari Paris Hingga St. Petersburg, Inilah 5 Kota yang Paling Banyak Muncul di Instagram
20 Sudut Destinasi Traveling di Jepang