
Foto: 123RF
Banyak kesempatan untuk lebih mengenali diri sendiri dan meresapi lingkungan sekitar. Tidak sedikit yang menjadikan perjalanan solo ini bagaikan ziarah batin alias mendetoks diri untuk menjadi manusia baru yang lebih baik sepulang perjalanan.
Bagaimana serunya solo traveling? Berikut cerita tiga sahabat Femina:

Lisa Gunarto, Key Account Staff, Jakarta
Mengejar Kebebasan
Mengejar Kebebasan
Perjalanan solo traveling saya justru terjadi tidak disengaja. Saat itu, tahun 2013, saya berdua teman sedang liburan ke Indonesia Timur. Namun, trip belum berakhir, teman saya jatuh sakit sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ia terpaksa harus tinggal di Flores untuk memulihkan dirinya. Sementara, sesuai rencana, seharusnya kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Rote.
Karena merasa sudah keluar biaya banyak untuk tiket pesawat dan tanggung berada di sana, akhirnya saya meneruskan perjalanan sendiri. Jujur, awalnya ada perasaan takut. Takut untuk menghadapi masalah sendirian. Tapi, akhirnya saya nekat. Setelah menempuh perjalanan 1,5 jam dengan kapal laut, saya tiba di Pulau Rote. Saya pun mencari penginapan dekat dermaga agar merasa lebih tenang bisa cepat ‘escape’ jika terjadi sesuatu.
Baru keesokan harinya saya mengitari pulau. Karena merasa asing dan tidak ada persiapan riset sama sekali, saya pun menyewa ojek seharian. Yang mengejutkan, ternyata penduduk lokal sangat terbuka dan membantu dengan tulus. Tidak ada scam-scam seperti yang banyak terjadi di tempat wisata di luar negeri. Kalaupun mereka meminta bayaran lebih, saya rasa itu masih dalam batas wajar dan bukan tujuan mereka untuk menipu.
Sejak itu saya ketagihan jalan sendiri. Bukan sekali dua kali saya merahasiakan rencana liburan saya dari teman-teman. Sebab, kalau ada yang tahu, bisa-bisa mereka ingin ikut. Kalau hanya 1-2 orang, sih, masih oke, malah bisa menghemat bujet. Tapi, biasanya yang minta ikut itu bisa sampai lebih dari 4 orang! Kalau sudah seperti itu, saya memilih mundur saja. Bukan apa-apa, nanti malah enggak bisa enjoy karena tiap kepala pasti punya keinginan berbeda. Pusing!
Bagi saya, perjalanan bukan hanya sekadar datang ke suatu tempat dan foto-foto, tetapi lebih untuk kontemplasi diri. Dengan solo traveling, saya jadi punya banyak kebebasan dalam menentukan mau pergi ke mana atau berlama-lama di suatu tempat.
Biasanya, saya suka merenung di pinggir pantai sendirian, baca buku, menikmati keindahan sekaligus refleksi diri. Ini seperti detoksifikasi yang membuat saya jadi lebih sehat secara batin. Secara mental saya juga merasa jadi lebih banyak pejalan yang memilih untuk bertualang sendiri. Dalam kesendirian mereka mendapat
Karena merasa sudah keluar biaya banyak untuk tiket pesawat dan tanggung berada di sana, akhirnya saya meneruskan perjalanan sendiri. Jujur, awalnya ada perasaan takut. Takut untuk menghadapi masalah sendirian. Tapi, akhirnya saya nekat. Setelah menempuh perjalanan 1,5 jam dengan kapal laut, saya tiba di Pulau Rote. Saya pun mencari penginapan dekat dermaga agar merasa lebih tenang bisa cepat ‘escape’ jika terjadi sesuatu.
Baru keesokan harinya saya mengitari pulau. Karena merasa asing dan tidak ada persiapan riset sama sekali, saya pun menyewa ojek seharian. Yang mengejutkan, ternyata penduduk lokal sangat terbuka dan membantu dengan tulus. Tidak ada scam-scam seperti yang banyak terjadi di tempat wisata di luar negeri. Kalaupun mereka meminta bayaran lebih, saya rasa itu masih dalam batas wajar dan bukan tujuan mereka untuk menipu.
Sejak itu saya ketagihan jalan sendiri. Bukan sekali dua kali saya merahasiakan rencana liburan saya dari teman-teman. Sebab, kalau ada yang tahu, bisa-bisa mereka ingin ikut. Kalau hanya 1-2 orang, sih, masih oke, malah bisa menghemat bujet. Tapi, biasanya yang minta ikut itu bisa sampai lebih dari 4 orang! Kalau sudah seperti itu, saya memilih mundur saja. Bukan apa-apa, nanti malah enggak bisa enjoy karena tiap kepala pasti punya keinginan berbeda. Pusing!
Bagi saya, perjalanan bukan hanya sekadar datang ke suatu tempat dan foto-foto, tetapi lebih untuk kontemplasi diri. Dengan solo traveling, saya jadi punya banyak kebebasan dalam menentukan mau pergi ke mana atau berlama-lama di suatu tempat.
Biasanya, saya suka merenung di pinggir pantai sendirian, baca buku, menikmati keindahan sekaligus refleksi diri. Ini seperti detoksifikasi yang membuat saya jadi lebih sehat secara batin. Secara mental saya juga merasa jadi lebih banyak pejalan yang memilih untuk bertualang sendiri. Dalam kesendirian mereka mendapat
percaya diri dan berani. Ketika sendiri, kita jadi lebih perhatian pada sekeliling. Berinteraksi dengan penduduk lokal pun jadi lebih intens, sehingga ada banyak yang bisa didapat dari sekadar foto.
Sebetulnya, tidak perlu ada yang dikhawatirkan kalau kita pergi sendiri. Hal terpenting adalah mengenali medan. Belajar dari perjalanan pertama, saya jadi tahu bahwa riset sebelum keberangkatan itu sangat penting. Mencari informasi tentang tempat-tempat menarik mana yang ingin didatangi, transportasi, dan kisaran biayanya. Dengan begitu, saya tidak akan tertipu.
Setelah sukses jalan sendiri di Flores, saya lebih percaya diri dan lebih pintar mengatur kebutuhan perjalanan mandiri. Rasanya enggak percaya kalau solo trip bisa mengubah saya lebih percaya diri dan avonturir!
Sejauh ini saya sudah ke Pulau Miangas di Sulawesi, Samarinda dan Pontianak di Kalimantan. Untuk perjalanan ke luar negeri, saya pernah ke Thailand, Kamboja, dan Jepang. Kalau untuk perjalanan ke luar negeri, modal saya itu kartu SIM lokal dan Google Map. Ini sangat penting untuk tidak dikelabui saat naik transportasi lokal.
Sebetulnya, tidak perlu ada yang dikhawatirkan kalau kita pergi sendiri. Hal terpenting adalah mengenali medan. Belajar dari perjalanan pertama, saya jadi tahu bahwa riset sebelum keberangkatan itu sangat penting. Mencari informasi tentang tempat-tempat menarik mana yang ingin didatangi, transportasi, dan kisaran biayanya. Dengan begitu, saya tidak akan tertipu.
Setelah sukses jalan sendiri di Flores, saya lebih percaya diri dan lebih pintar mengatur kebutuhan perjalanan mandiri. Rasanya enggak percaya kalau solo trip bisa mengubah saya lebih percaya diri dan avonturir!
Sejauh ini saya sudah ke Pulau Miangas di Sulawesi, Samarinda dan Pontianak di Kalimantan. Untuk perjalanan ke luar negeri, saya pernah ke Thailand, Kamboja, dan Jepang. Kalau untuk perjalanan ke luar negeri, modal saya itu kartu SIM lokal dan Google Map. Ini sangat penting untuk tidak dikelabui saat naik transportasi lokal.

Ascorlina Windyastuti, Corporate Secretary, Jakarta
Menghormati Kultur Setempat
Sejak SMA saya sudah suka naik gunung. Hampir seluruh gunung tinggi di Pulau Jawa, Gunung Kerinci di Sumatra, dan Gunung Rinjani di Lombok telah saya daki. Hobi ini masih berlanjut hingga sekarang. Sayangnya, tidak banyak wanita yang berminat, jika diajak naik gunung. Kalaupun ada yang tertarik, jadwalnya suka enggak pas. Mau tidak mau akhirnya saya memang harus jalan sendiri.
Perjalanan yang cukup berkesan buat saya ketika menjelajah Pakistan seorang diri. Bisa dibilang, ini perjalanan nekat. Belum banyak orang Indonesia yang memilih Pakistan sebagai destinasi liburan, apalagi pergi sendiri. Masalah Pakistan yang banyak diberitakan media, sering terjadi konflik dan pertikaian senjata, mungkin jadi pertimbangan banyak traveler untuk ke sana.
Saya sudah sejak lama terpukau pada alam yang indah di Pakistan. Tapi, jujur saja, awalnya saya takut pergi ke sana. Karenanya, saya banyak mencari kenalan orang lokal lewat Facebook sebelum berangkat. Dari merekalah saya mendapatkan banyak support moral dan bahkan menjamin keamanan saya selama di sana. Negara Pakistan memang mewajibkan invitation letter dari orang lokal yang akan menjamin keamanan turis selama di sana.
Setelah mendapat teman penjamin dan siap berangkat, ternyata teman saya itu tidak bisa mendampingi karena harus business trip ke Jerman. Alhasil, saya minta dia untuk mencarikan temannya yang bisa menemani saya selama di sana. Di Pakistan, wanita tidak boleh jalan berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya. Jadi, teman pria ini harus selalu mengajak teman wanita lain. Kami bertiga selama 10 hari mengeksplorasi Lahore, Islamabad, dan kota-kota lainnya di 3 provinsi. Seru!
Ternyata, Pakistan tidak seseram yang diberitakan. Sebelum berangkat saya sudah cari-cari tahu tentang adat kebiasaan di sana lewat teman-teman Facebook saya yang penduduk lokal. Dari mereka, saya tahu bahwa wanita seharusnya berpakaian tertutup dan tidak keluar malam sendirian.
Wanita Pakistan juga tidak suka diambil fotonya diam-diam. Mereka bisa marah. Ini juga saya ketahui dari teman-teman saya. Alhasil, saya selalu meminta izin dulu tiap akan mengambil foto seseorang untuk menghormati budaya mereka. Selama perjalanan, saya selalu diantar/didampingi orang lokal, jadi saya lebih relaks. Tidak perlu khawatir tersesat ataupun terbentur kendala bahasa.
Negara lain yang pernah saya jelajahi sendiri yaitu Singapura, Malaysia, Nepal, Jepang, dan Tiongkok. Lucunya, saya bisa kembali lagi ke negara yang pernah saya datangi sendiri justru untuk mengantar teman, setelah mereka tertarik mendengar petualangan saya.
Perjalanan yang cukup berkesan buat saya ketika menjelajah Pakistan seorang diri. Bisa dibilang, ini perjalanan nekat. Belum banyak orang Indonesia yang memilih Pakistan sebagai destinasi liburan, apalagi pergi sendiri. Masalah Pakistan yang banyak diberitakan media, sering terjadi konflik dan pertikaian senjata, mungkin jadi pertimbangan banyak traveler untuk ke sana.
Saya sudah sejak lama terpukau pada alam yang indah di Pakistan. Tapi, jujur saja, awalnya saya takut pergi ke sana. Karenanya, saya banyak mencari kenalan orang lokal lewat Facebook sebelum berangkat. Dari merekalah saya mendapatkan banyak support moral dan bahkan menjamin keamanan saya selama di sana. Negara Pakistan memang mewajibkan invitation letter dari orang lokal yang akan menjamin keamanan turis selama di sana.
Setelah mendapat teman penjamin dan siap berangkat, ternyata teman saya itu tidak bisa mendampingi karena harus business trip ke Jerman. Alhasil, saya minta dia untuk mencarikan temannya yang bisa menemani saya selama di sana. Di Pakistan, wanita tidak boleh jalan berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya. Jadi, teman pria ini harus selalu mengajak teman wanita lain. Kami bertiga selama 10 hari mengeksplorasi Lahore, Islamabad, dan kota-kota lainnya di 3 provinsi. Seru!
Ternyata, Pakistan tidak seseram yang diberitakan. Sebelum berangkat saya sudah cari-cari tahu tentang adat kebiasaan di sana lewat teman-teman Facebook saya yang penduduk lokal. Dari mereka, saya tahu bahwa wanita seharusnya berpakaian tertutup dan tidak keluar malam sendirian.
Wanita Pakistan juga tidak suka diambil fotonya diam-diam. Mereka bisa marah. Ini juga saya ketahui dari teman-teman saya. Alhasil, saya selalu meminta izin dulu tiap akan mengambil foto seseorang untuk menghormati budaya mereka. Selama perjalanan, saya selalu diantar/didampingi orang lokal, jadi saya lebih relaks. Tidak perlu khawatir tersesat ataupun terbentur kendala bahasa.
Negara lain yang pernah saya jelajahi sendiri yaitu Singapura, Malaysia, Nepal, Jepang, dan Tiongkok. Lucunya, saya bisa kembali lagi ke negara yang pernah saya datangi sendiri justru untuk mengantar teman, setelah mereka tertarik mendengar petualangan saya.
Saya punya pengalaman spiritual ketika berada di Everest Base Camp. Berada di ketinggian dan dalam kesunyian, saya merasa jadi dekat dengan Sang Pencipta. Saya sempatkan untuk bermeditasi selama 10 menit dan dilanjutkan dengan berdoa. Ini yang saya sukai, jika jalan sendiri. Tidak ada yang mengganggu dan saya juga tak perlu berkompromi ingin berapa lama di suatu tempat atau pergi ke mana saja.

SalliSabarrang, Marketing Communication, Jakarta
Menghibur & Menguji Kemampuan Diri Sendiri
Jalan-jalan sudah mulai saya kenal sejak masih SD. Ayah saya yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah kerap berpindah tempat tugas. Pulang ke kampung halaman nenek saya yang berada di Bulukumba, Sulawesi Selatan, sudah menjadi agenda rutin kami tiap liburan tiba.
Pulang kampung ke Bulukumba ini secara tidak langsung menumbuhkan kecintaan saya pada traveling. Tidak seramai Kota Makassar tempat kami tinggal, walau jaraknya hanya sekitar 4 jam perjalanan darat. Namun, tetap saja memberikan pengalaman yang tidak biasa seperti di kota.
Pulang kampung ke Bulukumba ini secara tidak langsung menumbuhkan kecintaan saya pada traveling. Tidak seramai Kota Makassar tempat kami tinggal, walau jaraknya hanya sekitar 4 jam perjalanan darat. Namun, tetap saja memberikan pengalaman yang tidak biasa seperti di kota.
Kecintaan saya pada traveling ini makin kuat ketika saya pindah dan kuliah di Bandung, Jawa Barat. Bersama teman-teman, kami pernah beberapa kali mengunjungi destinasi wisata di Indonesia, salah satunya Bali.
Saya memang bukan tipe orang yang menyukai traveling ramai-ramai. Salah satu alasannya, tidak mau ribet dengan sikap sebagian teman-teman yang terkadang mengacaukan agenda liburan dan akhirnya tidak seru dan kurang menikmati. Belum lagi ketika mengatur rencana perjalanan, seperti memilih penginapan dan lainnya, pasti sangat repot, karena harus disepakati.
Pernah suatu kali, saya dan empat teman kuliah melakukan perjalanan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah seorang teman saya ternyata tidak suka cuaca panas. Ketika yang lain seru-seruan di malam hari sebelum istirahat, dia lebih memilih di kamar hotel saja. Setelah itu, sekitar tahun 2012, saya pun merasa bahwa solo trip itu lebih bagus.
Saya senang traveling yang sifatnya adventure di tempat-tempat atau negara yang unik, tidak terlalu populer bagi wisatawan, serta tempat yang memungkinkan saya mengeksplorasi kearifan lokal. Negara-negara yang pernah saya kunjungi adalah Mongolia, Rusia, Kenya, Ethiopia, India, dan Nepal.
Saya suka tracking, climbing, dan road trip. Saya pernah ke Gurun Gobi dan menginap di tempat tinggal suku yang hidup nomaden di Mongolia. Tahun 2017 lalu, saya juga pernah ke Ethiopia, mengunjungi salah satu gereja yang berada di tebing, yang untuk menuju ke sana harus mendaki tebing dengan kemiringan hampir lebih dari 90 derajat tanpa alat keselamatan.
Melakukan perjalanan seorang diri membuat saya merasa lebih merdeka. Bebas memilih ke mana saja saya pergi dan kegiatan apa saja yang saya inginkan. Saya juga bisa berinteraksi dengan orang-orang baru, baik orang lokal maupun traveler dari negara lain. Memang terkesan egois, tapi solo trip mengajarkan saya banyak hal, seperti kemandirian, keberanian, dan survive dalam keadaan buruk sekalipun.
Selama solo trip, saya belajar bersyukur, bahwa ada yang hidupnya lebih sulit dibandingkan dengan kesulitan dan keruwetan di Jakarta. Ethiopia termasuk wilayah paling kering di dunia. Dengan suhu udara mencapai 42 derajat Celsius di malam hari. Untuk mendapatkan air minum saja harus berjalan kaki berkilo-kilo meter.
Bagi saya, traveling merupakan sarana untuk menghibur diri. Juga refresh hidup, setelah hampir tiap hari menghadapi kemacetan Kota Jakarta. Apalagi dengan solo trip, saya memiliki kesempatan untuk menenangkan pikiran. Ada kalanya kita ingin bebas dari gangguan orang lain, bahkan teman sekalipun.
Saya menganggap solo trip adalah sarana untuk menguji kemampuan dalam menghadapi berbagai keadaan, baik cuaca, bahaya, maupun budaya masyarakat setempat yang jauh berbeda dengan saya.
Begitu menyenangkan ketika saya menginap di tempat penduduk yang tidak paham bahasa Inggris. Saya mampu menyesuaikan diri, walau berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Ternyata, dengan memakai bahasa isyarat pun, kita bisa saling memahami.
Traveling memberikan saya energi baru. Bahkan, ketika memikirkan suatu negara dan merencanakan untuk berkunjung ke sana saja, saya sudah merasa senang dan memiliki semangat yang luar biasa.
Saya traveling di dalam negeri sekitar tiga kali dalam setahun, sedangkan ke luar negeri saya lakukan minimal sekali dalam satu tahun dengan durasi sekitar 2-3 minggu. Untuk menemukan rumah-rumah penduduk yang bisa ditumpangi, saya biasanya mencari referensi di TripAdvisor forum. (f)
Baca Juga:
Destinasi Kuliner: Surga Ikan Bakar di Kota Ambon
5 Alasan Berlibur Lebih Lama di Sanur!
Kearifan Lokal di Balkondes, Desa Wisata Binaan BUMN di Kawasan Candi Borobudur