Dok. Femina Media / Citra Narada Putri


Sebagai negara sekuler dengan warga negara mayoritas muslim, jejak sejarah Islam tak bisa dipisahkan dari Turki, termasuk juga dengan Kota Bursa. Jejak tersebut mudah dikenali dengan hadirnya masjid-masjid besar bersejarah yang tersebar di seantero kota.

Salah satunya Masjid Hijau atau yang dalam bahasa lokal disebut Yesil Cami’i. Cami’i diartikan masjid, sementara yesil artinya hijau.
 
Kendati namanya Masjid Hijau, rumah ibadah ini tak serta-merta berwarna hijau. Berada di dalamnya, saya tertegun dengan interiornya yang didominasi oleh sentuhan warna toska, perpaduan warna hijau dan biru.



Dok. Femina Media / Citra Narada Putri


Cantik! Itulah kata pertama yang tebersit dalam benak saya ketika melihat interior salah satu masjid tertua di Turki ini.
 
Masjid Hijau yang dibangun oleh arsitek Haci Ivaz Pasha atas perintah Sultan Celebih Mehmet I pada tahun 1419 ini memiliki dekorasi kubah yang tampak rumit, tapi menawan. Penggunaan kubah besar dan menara yang tinggi mewakili peralihan seni arsitektur era Seljuk ke Usmaniyah.
 
Saya kepincut oleh keindahan seni keramik yang menghiasi dinding dan bagian dalam kubah. Konon, semua keramik tersebut buatan tangan. Seorang mandor di masa itu, Ali bin Ilyas Ali, membawa perajin keramik terbaik dan terkenal
di eranya yang disebut Masters of Tabriz untuk membuat keramik khusus untuk Masjid Hijau.

Sementara Mehmet el-Mecnun berperan sebagai seniman yang mendekorasi keramik masjid hingga bernilai seni tinggi. Kerumitan dan keindahan gaya interior Masjid Hijau memengaruhi perkembangan estetika masjid yang
diterapkan hingga era modern kini.

(lanjut ke halaman berikutnya)


BACA JUGA :
Slow Travel di Selcuk, Turki
Uniknya Ngopi di Sirince, Turki
Ide Liburan Akhir Tahun: 5 Kota yang Paling Banyak Muncul di Instagram


 
 


 

Dok. Femina Media / Citra Narada Putri
 
 
Mampu bertahan selama berabad-abad, masjid yang berada di bukit Kota Bursa ini telah melewati berbagai masa renovasi. Renovasi pertama dilakukan oleh arsitek sekaligus seniman asal Prancis, Léon Parvillée, tahun 1855, akibat terkena
dampak gempa besar di Bursa.

Renovasi berikutnya terjadi tahun 1941, dan yang terakhir terjadi di tahun 2010. Meski begitu, renovasi yang dilakukan tidak menghilangkan ciri khas dan peninggalan budaya Masjid Hijau.
 
Meski masih aktif digunakan sebagai rumah ibadah bagi umat muslim, masjid ini juga membuka pintunya lebar-lebar kepada siapa pun yang ingin datang melihat keindahan dan mengenal sejarahnya. Tidak hanya turis muslim, tapi juga turis
nonmuslim yang datang untuk melihat interior Masjid Hijau.

Mereka yang beribadah pun bisa tetap khusyuk karena salah satu syarat untuk masuk adalah bersikap tenang dan tidak berisik. Wajah toleransi yang menyejukkan hati di dalam Masjid Hijau. (f)

BACA JUGA :
Slow Travel di Selcuk, Turki
Uniknya Ngopi di Sirince, Turki
Ide Liburan Akhir Tahun: 5 Kota yang Paling Banyak Muncul di Instagram