Kofta di NaguibMahfoudz Kairo, Mesir
Mesir memiliki sastrawan peraih nobel, yaitu Naguib Mahfoudz. Karena itu, ketika berkunjung ke Kairo, saya sangat ingin pergi ke Naguib Mahfoudz Café, yang terletak di tengah-tengah pasar kuno, El Khalili, yang lokasinya tak jauh dari Masjid Al Azhar yang terkenal itu. Semasa hidup, Mahfoudz sering datang ke kafe ini.
Ketika masuk ke kafe, saya segera paham bahwa kafe ini memang menjadi tujuan banyak turis yang datang ke Kairo. Meja-meja penuh pengunjung, dan pelayan mondar-mandir membawakan pesanan di tengah musik khas Arab yang diputar.
Dilihat dari daftar menunya, kafe ini menyediakan aneka makanan khas Arab. Saya pun memilih kofta (bola-bola daging) berbumbu rempah dan roti isy, yaitu roti tawar bundar putih yang bagian dalamnya bolong, yang menjadi makanan pokok orang mesir.
Ketika saya gigit...hmmm…bulatan daging itu, rasanya sangat legit. Apalagi ditemani roti isy yang nikmati dicocol saus daging. Lengkap, sambil membayangkan hiruk pikuk kehidupan di Lorong Midah, novel Mahfoudz yang memikat. (Yoseptin Pratiwi, Redaktur Pelaksana)
Kepiting Musim Dingin Fukui, Jepang
Sengaja mengenakan kimono yang disediakan oleh Hotel Mimatsu di Kota Tsuruga, Provinsi Fukui, Jepang, saya segera mengenakan bakiak kayu (juga disediakan hotel) dan bersemangat menuju ke restoran. Malam itu, saya akan dinner dengan menu istimewa: echizen crab, alias kepiting musim dingin.
Meski Jepang terkenal sebagai penghasil seafood, kepiting echizen adalah makanan yang ditunggu-tunggu oleh orang Jepang karena hanya ada di musim dingin (November hingga Maret). Kepiting echizen juga hanya ada di laut kawasan Provinsi Fukui. Di pasar-pasar ikan, banyak dijajakan kepiting yang harganya cukup mahal, 1.500-10.000 yen (1 yen sekitar Rp122).
Menikmati sajian makan malam itu, saya dilayani secara khusus oleh seorang pelayan.
Setelah teh panas dihidangkan dan api di atas pot shabu yang berisi (lagi-lagi) seafood dan sayuran dinyalakan, saya memilih menghangatkan perut dengan camilan sebelum ‘bintang utama’ datang. Akhirnya, pelayan pun datang membawa nampan bertudung. Ketika saya buka, oh la la… di dalam piring saji tergolek menantang echizen crab, montok berwarna jingga.
Lalu, tanpa berkata-kata, saya pun mulai fokus menghadapi kepiting rebus, dan mengeluarkan dagingnya yang manis segar dari cangkangnya. Jangan lupa, menikmati kepiting memang tidak bisa makan cantik, karena tangan pun harus bekerja…. (Yoseptin Pratiwi, Redaktur Pelaksana)
Rajanya Yogurt Bhaktapur, Nepal
Selain peninggalan budaya dan bangunan berusia ribuan tahun, Bhaktapur, Nepal terkenal dengan yogurt manisnya yang disebut juju dhau atau king of curd. Terbuat dari susu kerbau atau sapi yang dimasak bersama rempah seperti kapulaga dan cengkeh, lalu difermentasi dan didinginkan dalam mangkuk-mangkuk dari tanah liat yang tak akan tumpah meski wadahnya dibalik. Bhaktapur memang terkenal sebagai penghasil kerajinan tembikar.
Meski seperti yogurt, tapi juju dhau tidak asam, teksturnya lembut dan lebih kental. Hampir mirip kembang tahu. Rasanya pun ringan dan nggak bikin eneg meski dimakan begitu saja tanpa campuran buah. Cocok untuk camilan atau pencuci mulut.
Di Bhaktapur, juju dhau mudah ditemukan mulai dari resto mewah, toko kelontong, hingga di pinggir jalan. Harganya pun beragam, dari sekitar Rp5000 hingga puluhan ribu, tergantung ukuran dan tempat membelinya. Saya sempat mencoba di tiga tempat, dari yang dijual di toko kelontong dengan wadah cup plastik, di toko kecil dalam wadah tembikar, hingga restoran, rasanya sama-sama enak. (Nuri Fajriati, Redaktur Feature)
Tonkatsu Katsukura Tokyo, Jepang
Tidak mudah untuk mendapatkan tonkatsu (pork katsu) di Jakarta, makanan Jepang yang selalu ingin saya coba. Ketika berkeliling Tokyo beberapa waktu lalu, saya langsung berburu makanan yang sudah ada di Jepang sejak abad 19 ini.
Berkeliling Tokyo, kita bisa mendapati banyak tempat untuk menyantap tonkatsu. Salah satu yang wajib dicoba adalah Katsukura yang berlokasi di Takashimaya Building, Shinjuku. Restoran ini merupakan cabang dan restoran tonkatsu terbaik asal Kyoto.
Setelah memesan, wijen sangrai dalam mangkuk dan kayu ulek kecil akan tersaji. Wijen harus digerus terlebih dahulu, baru ditambahkan saus khusus tonkatsu. Percikan rasa manis, asin, dan sedikit asam dari saus tonkatsu dan aroma wijen menyeruak menggugah selera. Cocok sebagai cocolan daging babi berbalur tepung panir yang digoreng hingga matang dan berwarna keemasan. Paling nikmat menyantap tonkatsu dengan semangkuk barley rice hangat.
Satu paket santapan di tempat ini hadir lengkap bersama irisan kubis segar, pickle, dan sup miso. Kelembutan dan sensasi juicy hidangan ini menjadi kenangan kuliner Jepang yang bikin rindu (Helen Christianti, Redaktur Boga)
Menyantap Gurita Hidup Seoul, Korea Selatan
"Belum ke Seoul, kalau belum mencoba sannakji," ungkap seorang teman. Sannakji adalah gurita hidup yang dipotong-potong bagian tentakelnya dan langsung disantap. Beberapa restoran menyajikannya dengan minyak wijen atau gochujang (pasta cabai khas Korea), untuk mengeluarkan cita rasa gurita.
Ketika disajikan di piring, saya melihat jelas potongan-potongan tentakel tersebut masih bergerak-gerak. Walau sempat ragu untuk melahapnya, saya mencoba satu potong kecil tentakel yang sebelumnya sudah diberikan minyak wijen dan saya celup ke dalam campuran gochujang dan kecap asin.
Percampuran rasa dari bumbu-bumbu tersebut sangat menarik. Namun, yang mengejutkan adalah sensasi ketika tentakel tersebut bergerak-gerak di dalam mulut dan menempel di lidah. Sungguh sulit dikunyah!
Untuk menelannya pun perlu usaha ekstra. Pasalnya, meski sudah dikunyah beberapa lama, tentakel seperti masih bergerak-gerak. Bagi para penikmat sashimi atau makanan mentah, menyantap sannakji bisa jadi memenuhi selera mereka. Bagi mereka yang lebih menyukai makanan yang sudah diolah, santapan ini terbilang ekstrem. Apalagi dengan tambahan sensasi menggelitik di lidah…iihhh...
Di pasar-pasar ikan di Seoul, para penjual akan menunjukkan proses pengolahannya langsung, mulai dari memilih gurita, hingga memotong-motong tentakelnya menjadi bagian kecil. Berani coba? (Citra Narada, Redaktur Feature)
Hoppers & Kottu Sri Lanka
Berbeda dari India, penggunaan rempah dalam masakan Sri Lanka tidak sekuat masakan India. Yang unik adalah hoppers, sejenis pancake dengan kuning telur di bagian tengah, sehingga tampilannya serupa telur mata sapi. Pancake khas Sri Lanka ini terbuat dari campuran tepung beras yang telah difermentasi, santan, dan gula. Rasanya gurih asin dan cocok disantap untuk breakfast.
Ada juga kottu, yang membuat saya penasaran ingin mencobanya setelah melihat cara pembuatannya yang entertaining. Sang koki mencacah cepat bahan-bahan sebelum menumisnya. Setelah itu, ia dengan sengaja mendentingkan logam tempat menumis kottu.
Bahan kottu terdiri atas roti godamba, bawang daun, sayuran, dengan pilihan isian telur, daging sapi, ayam atau seafood. Rasa kottu mirip dengan kuetiaw goreng. Sensasi gurih yang didapat dari bumbu rempah dan daging isian membuat makanan tradisional ini jadi favorit saya selama kunjungan ke Sri Lanka. (Reynette Fausto, Redaktur Feature)
Kebab dalam Pot Tembikar Avanos, Turki
Jujur saja, selama ini saya mengenal kebab sebagai daging --sapi, ayam, atau kambing-- bercampur sayuran dan mayones digulung dengan pita bread. Tapi, kebab yang saya coba di restoran Bizim Ev, Avanos, Turki, ini sungguh jauh berbeda. Testi kebab namanya. Dalam menu tertera, hidangan daging dan sayuran ini disajikan dalam sebuah clay atau pot tembikar.
Penasaran, saya menunggu dengan tak sabar. Ketika pelayan datang menyajikan pot di atas bara api, atraksi pun dimulai. Dengan menggunakan sendok, ia memecahkan tutup pot yang juga terbuat dari tanah liat. Aroma kari langsung tercium, bersama dengan asap putih yang mengepul tinggi dari masakan kebab khas Avanos, Capadocia, ini.
Testi kebab berisi potongan kecil daging, bawang utuh, sayuran, serta sedikit kuah berwarna kecokelatan. Potongan dagingnya cukup lembut dan juicy dengan rasa kari yang cukup kuat, terutama bagi lidah saya yang bukan penyuka masakan kari. Teman terbaiknya adalah nasi khas Turki yang rasanya sedikit lebih pera dari nasi di Indonesia.
Masyarakat Turki mengenal kebab sebagai hidangan daging. Tidak heran jika kebab juga hadir dalam bentuk lain, tidak selalu hidangan berupa daging yang digulung dengan pita bread. Jika Anda berkunjung ke Capadocia, jangan lewatkan untuk mencicipi testi kebab, karena jenis kebab ini hanya bisa Anda temukan di negara asalnya. (Faunda Liswijayanti, Redaktur Feature)
Menikmati Älplermagronen Grindelwald, Swiss
Salju di awal Desember turun dengan deras di atas kompleks Pegunungan Grindelwald, Swiss. Kereta gantung mengantar saya menyeberang jurang antarpegunungan menuju First, salah satu puncak kecil di ketinggian 2.166 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berjalan di salju sedalam 20 cm cuku membakar energi dan membuat lapar.
Penduduk pegunungan di Swiss punya makanan spesial untuk menambah energi sekaligus menghangatkan badan, yaitu älplermagronen. Saya menikmatinya di restoran Berggasthaus First, di ketinggian 2.200 mdpl. Pasta ala Swiss ini terdiri atas makaroni dan potongan kentang yang dimasak dalam saus creamy keju gruyère. Di atasnya ditaburi bacon dan tumisan bawang bombai yang terkaramelisasi sempurna. Yang membuat sajian ini spesial adalah saus apel lembut yang menyertainya.
Saus apel ini berhasil menyeimbangkan kuatnya citarasa keju tua gruyère. Teman minumnya adalah punch, jus apel panas berempah yang saya teguk dari atas dek terbuka, sambil menikmati lanskap Bernese Oberland yang mengekspos wajah utara Gunung Eiger. Hangatnya sampai ke hati! (Naomi Jayalaksana, Redaktur Feature) (f)
Baca Juga:
Thai Farm Cooking School, Tempat Belajar Masakan Khas Thailand di Chiang Mai
Mencicipi Makanan Lezat yang Menyehatkan di Ohkajhu Organic Restaurant, Chiang Mai
5 Kuliner yang Harus Dicoba Saat Berkunjung Ke Aceh