
Foto: Sylvia Mira

Mie Aceh Bardi
Dari Pelabuhan Ulee Lheue di Meuraksa, kota Banda Aceh, saya memutuskan menumpang kapal cepat dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Tersedia dua jadwal keberangkatan yaitu pukul 08.00 dan pukul 14.30 dengan harga tiket kapal cepat Rp85 ribu.

Begitu tiba di pulau kecil seluas 156 km persegi itu, saya memutuskan untuk bergegas mengejar sunset di kilometer nol Indonesia. Karena menurut Mulyadi, sopir yang menjemput kami, matahari terbenam biasanya sekitar pukul 18.30.
Saat di lokasi terlihat sebuah monumen yang sedang direnovasi menjulang dengan gagahnya. Monumen yang dikenal dengan sebutan Tugu Kilometer Nol ini berupa bangunan setinggi 22,5 meter berbentuk angka nol berjeruji dan dilengkapi dengan ornamen senjata rencong di bagian kiri dan kanan, tampak berkilauan disentuh cahaya sore. Keindahan sore semakin sempurna dengan rona lembayung senja yang menjadi bingkai penutup perjalanan panjang saya hari itu.

Senja di Titik Nol Kilometer

Menikmati Weh tidak akan lengkap tanpa diikuti dengan petualangan lautnya. Pantai pertama yang mencuri hati saya adalah pantai Klah yang terletak di Goa Sarang. Dari jauh sudah terlihat laut biru jernih dengan tonjolan batu karang dan hamparan hutan hijau sebagai pelengkap yang menyegarkan mata. Tidak heran jika tempat ini disebut sebagai miniatur Raja Ampat.
Terus terang tidak mudah buat saya untuk mencapai goa tersebut karena bebatuan besar di tepian pantai yang membuat langkah menjadi lebih lambat dan menguras tenaga. Tetapi segera terbayar lunas ketika di depan mata hamparan indah bukit karang menyeruak dari dalam lautan memunculkan kesan magis dan spektakuler.

Pantai kedua adalah Secret Beach, sesuai dengan namanya tidak banyak orang yang tahu lokasi pantai ini. Beruntunglah saya karena seorang teman yang merupakan warga setempat mengajak saya untuk menikmati sunset di tempat ini. Saking sepinya, rasanya seperti berada di pantai milik sendiri! Sambil menunggu sunset, kami berenang sambil mengikuti gulungan ombak yang cukup kencang saat itu dan mengabadikan pemandangannya. Puas sekali rasanya!


Pulau Klah
Hal terakhir yang harus Anda lakukan di Pulau Weh adalah melihat bentangan laut hijau kebiruan Pulau Klah dari sebuah warung sederhana di sebuah belokan jalan raya. Ini hanya satu-satunya warung sehingga sangat mudah ditemukan. Sambil menikmati kopi Aceh atau es kelapa muda dan rujak klah, kita dapat menikmati suasana tenang dan damai dengan pemandangan ala kartu pos.

Rujak Klah
Hingga saya kembali ke hiruk pikuk Jakarta, kecantikan Pulau Weh yang begitu memikat masih lekat di ingatan, dan diam-diam saya berharap suatu saat bisa kembali lagi ke sana. (f)
Sylvia Mira - Kontributor