
Gunung Jari Baru yang tumbuh di atas Rinjani
Foto: Instagram/ @fannyapriadi
Awal April ini, Taman Nasional Gunung Rinjani resmi menjadi UNESCO Geopark Dunia. Permohonannya telah diajukan sejak lima tahun lalu. Penetapan ini bersamaan dengan dibukanya kembali jalur pendakian Gunung Rinjani setelah ditutup untuk mengembalikan vegetasi.
Selain Rinjani, ada tiga lokasi lain di Indonesia yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai UNESCO Geopark dunia, yaitu Batur, Gunung Sewu, dan Ciletuh – Pelabuhan Ratu.
Gunung Rinjani yang berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut ini memang memiliki keunikan seperti memiliki gunung baru di tengah danau. Medannya yang indah dan menantang para petualang pun telah menjadi salah satu tempat diadakan lomba trail running.
Tertarik untuk mendaki Gunung Rinjani? Perhatikan beberapa hal berikut.
1/ Memiliki 4 Jalur Pendakian
Ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih untuk mendaki Gunung Rinjani, yaitu: jalur Aikberik, Jalur Timbanuh, Jalur Sembalun, dan Jalur Senaru.
Jalur yang paling sering dipilih adalah naik dari jalur Sembalun dan turun dari Jalur Senaru. Jalur Aik Berik yang baru diresmikan tahun 2016, memiliki beberapa kelebihan, lebih landai, pendek, dan dekat sumber mata air.
2/ Bisa Daftar Online
Setiap pendaki harus mendaftarkan diri. Per April ini, pendakian wajib melakukan pendaftaran online, baik melalui aplikasi e-Rinjani yang bisa diundah di Playstore atau melalui situs erinjani.net.
Untuk harga tiket pendakian, ada perbedaan bagi pendaki dalam negeri dengan pendaki mancanegara.
Untuk pendaki dalam negeri, dikenakan harga Rp 5000 dan pendaki mancanegara dikenakan harga Rp 150.000. Perhatikan batas antara pendaftaran dan transfer pembayaran.
Kapan waktu terbaik untuk mendaki Rinjani? Lanjutkan membaca.

Danau Segara Anakan dilihat dari Plawangan Rinjani
Foto : NF
3/ Waktu Terbaik dan Kapan Tutup
Rencanakan dengan tepat. Pasalnya, jalur pendakian Gunung Rinjani biasanya ditutup setahun sekali, biasanya antara bulan Desember hingga Maret.
Tahun ini jalur pendakian ditutup pada tanggal 1 Januari-31 Maret 2018. Selain untuk memberikan kesempatan pada alam untuk memperbaiki diri dan petugas untuk melakukan pembersihan luar, saat itu cuaca biasanya terlalu ekstrem, berangin dan hujan lebat, sehingga lebih berbahaya.
Waktu terbaik untuk mendaki adalah Juni-Agustus, saat dari jalur mana pun cuaca ramah pada pendaki. Air dalam di Danau Segara Anak pun masih terisi menambah keindahan Rinjani.
4/ Taati Aturan
Seperti juga taman nasional lain, setiap pendaki yang ingin mendaki harus menaati aturan yang berlaku.
Di situs resmi tnrinjani.net, disebutkan batas lama pendakian yang diizinkan di TNGR untuk wisatawan antara 3-5 hari, apabila lebih dari batas yang telah ditentukan agar dikomunikasikan dengan petugas.
Siapa pun yang memiliki tujuan khusus seperti ziarah, ritual budaya, atau syuting dapat diberikan kelonggaran masalah waktu atau lama pendakian asalkan memberitahukannya dulu pada petugas untuk mendapat izin.
Pendaki harus tetap berjalan pada jalur yang telah ditentukan serta tidak diizinkan berjalan di luar jalur, maupun membuat jalur baru dan atau membuat jalur pintas.
Berkemah hanya dilakukan pada lokasi yang telah ditentukan yaitu Pos Peristirahatan, Plawangan dan Danau Segara Anak. Berkemah selain di lokasi lain tidak diizinkan dan akan dianggap ilegal dan bisa dikenai sanksi.
Anda tidak boleh membuat api dari kayu untuk memasak atau membuat api unggun. Anda disarankan untuk membawa parafin, kompor gas/minyak tanah untuk keperluan memasak.
Dan yang penting, setiap pendaki wajib membawa kantung sampah untuk membawa kembali sampah hingga ke tempat pembuangan sampah di pintu keluar. Menyandang UNESCO Geopark dunia diharapkan membuat Rinjani semakin terkenal sekaligus tetap lestari. (f)
Baca Juga:
Ini Bukti Keindahan Watu Karung, Pacitan, yang Jadi Tempat Syuting Film Kulari Ke Pantai
10 Destinasi Wisata Indonesia Hadir di Kemasan Permen
Wisata Budaya Peranakan: Menelusuri Tiongkok Kecil di Lasem